
Wilona pun kesal dan kembali berpikir bagaimana cara untuk mengacaukan acara resepsi pernikahan Nara.
Wilona yang berada di apartemennya yang masih terlihat berpikir bagaimana ia bisa membuat kekacauan atau lebih tepat nya membuat mereka, keluarga Admaja menyesal telah menerima Nara sebagai menantunya.
"Ck, apa yang harus aku lakukan agar mereka menyesal telah menerima Rara!" Pikir Wilona yang sedang duduk di atas sofa empuk nya.
"Hanya cara itu yang bisa membuat Nara malu, tapi resikonya aku yang akan kena nantinya, bahkan mungkin juga ayah!" Wilona menghela nafasnya kesal.
Wilona terus memikirkan cara untuk menghancurkan Nara, namun tiba-tiba dia ingat akan perkataan ayahnya untuk tidak mengusiknya lebih dulu sebelum waktunya tiba.
"Ck, sebenarnya apa yang ayah sembunyikan?" Lirihnya.
"Apa lebih baik aku tanyakan pada ibu ?" pikir Wilona untuk bisa mengetahui rahasia yang kedua orang tuanya sembunyikan tentang Nara.
Wilona tidak bisa jika harus terus menunggu kapan ayahnya akan bertindak, selagi dia belum mengetahui permasalahannya, rahasia yang disembunyikan kedua orang tuanya, untuk itu dia memutuskan untuk kembali menemui ibunya di penjara, menanyakan rahasia yang mereka sembunyikan selama ini kepadanya atau bahkan mungkin ke semua orang.
Sementara di kota bandung, seteleh perdebatan panjang antara Amara, ayah dan ibu tirinya, akhirnya Raina bisa mengikuti nya dan akan tinggal bersama Amara di jakarta. dan kini mereka sudah dalam perjalanan menuju jakarta.
Di dalam mobil.
"Rai ingat, jika kita sudah sampai dan ayah menghubungi mu, kau tidak boleh memberitahukan mereka alamat dimana kita tinggal, kakak tidak mau mereka sampai menyusul ke jakarta hanya untuk meminta uang, kau mengerti bukan?" Ujar Amara pada adik nya.
__ADS_1
Raina mengangguk mengerti. " Apa kakak tidak akan memberikan mereka uang lagi?" Tanya balik Raina yang heran karena saat perdebatan tadi, dia mendengar jika Amara akan tetap akan mengirim kan uang pada ayahnya, bahkan dengan jumlah lebih besar.
Amara menggelengkan kepalanya. " Kaka kira dengan hasil kerja ayah itu sudah cukup menghidupi mereka berdua, dan kakak sudah tidak ingin di peralat lagi oleh mereka, terutama wanita itu, yang ingin hidup glamor dengan cara memeras kakak.
Wanita itu bahkan ayah, dengan seenaknya mengancam keselamatanmu dan kau tahu, ayah juga menjadi ancaman untuk memeras kakak dengan keselamatanya, dan ayah sendiri.tidak tahu jika dirinya juga menjadi bahan ancaman untuk memeras kakak dan kini kakak tidak akan peduli lagi, biarkan ayah tahu sesuatu saat wanita yang ia puja seperti apa, yang juga berani membuat dirinya terluka, hanya agar keinginannya bisa tercapai.
Soal pembicaraan tadi, itu hanya agar mereka mengizinkanmu pergi tanpa halangan, untuk bisa pergi bersama kakak!"
Raina terdiam, ia begitu terkejut mendengar cerita kakaknya, dia tidak menyangka jika ibu tirinya berani mengancam kakaknya dengan hidup nya bahkan juga ayahnya.
"Aku tidak tahu jika dia sampai mengancam mu kak, bahkan juga ayah ikut dengan rencananya, tapi kak, aku juga tidak menyangka jika dia juga menjadikan ayah sebagai bahan ancamannya!" Desis Raina yang juga merasa sedikit khawatir pada ayahnya.
Amara mengangguk. "Kau tidak tahu, ch itulah ayah mu, yang ingin kau jaga, namun nyatanya ikut bersekongkol dengan istrinya, kau khawatir pada ayah, jangan kau pikirkan, aku yakin wanita itu akan meninggalkan ayah cepat atau lambat !"
"Aku memang mengkhawatirkannya, tapi aku harap wanita itu akan meninggalakan ayah, seperti apa yang kakak katakan !"
Amara mengangguk. "Tidak dia bukan ayahku, aku sudah tidak memiliki ayah, bagiku dia sudah bukan ayahku lagi, ayahku sudah mati. Raina, kau lihat bagaimana dia bukan, apa ada seoang ayah sepertinya, yang sama sekali tidak peduli dengan anak-anaknya dan di otaknya hanya peduli pada wanita itu saja, jadi kakak berharap, dengan kakak bersikap seperti ini dia akan sadar ?"
Raina mengangguk menyetujui perkataan kakaknya. "Kau benar kak, dia bukan ayah kita lagi, sudah tidak ada sosok ayah yang di dirinya sejak ibu meninggal, yang ada hanya sosok pria yang sangat begitu memuja wanita cantik dan sexy!" Lirihnya, mengingat jika ayahnya, sudah tidak peduli padanya, bahkan tidak pernah sedikit pun berbicara padanya.
"Dan aku juga berharap dia akan kembali menjadi ayah kita, seperti dulu, saat masih ada ibu !" Lirihnya kemudian.
__ADS_1
Amara tersenyum tipis mendengar perkataan adiknya.
"Sudahlah kau jangan pikirkan lagi mereka, kau fokus saja dengan hidupmu, sekolahmu, nanti kakak akan masukan kau ke sekolah yang bagus !" Ujar Amara agar Raina tidak perlu memikirkan ayahnya. dengan maksud agar hal ini biar menjadi urusannya saja.
Raina pun tersenyum dan menatap kakaknya " Terimakasih kak !" Ucap tulus Raina, yang bersyukur kakaknya sayang padanya.
Raina walau dia tahu bagaimana sifat kakanya yang menyukai belanja dan menghamburkan uang, yang mungkin bisa di sebut wanita matre, namun dibalik itu dia memiliki hati yang tulus, terutama pada dirinya, adiknya sendiri.
Raina kini hanya sedikit khawatir jika suatu saat ayahnya dan juga ibu tirinya yang bernama Rebeca akan mencari keberadaan kakaknya, karena hanya Amara yang bisa mereka andalkan untuk menopang kehidupan mewah mereka, mengingat mereka memiliki sifat menyebalkan, dan tidak tahu malu yang sangat berani meminta sesuatu yang bukan hak mereka.
Raina juga mengkhawatirkan ayahnya. Takut jika Rebeca benar-benar akan berbuat nekat untuk melukainya, karena kakak nya tidak akan mengirimkannya uang lagi pada ayahnya.
Amara hanya mengangguk dan tersenyum tipis melihat dan mendengar Raina berterimakasih padanya, dia juga yakin jika Raina akan mengkhwatirkan ayahnya, dan dia akan berusaha meyakinkan Raina jika semua akan baik-baik saja, mungkin dia juga akan meminta bantuan Alex untuk mengawasi Rebeca.
Mereka yang berbincang saat berada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju Jakarta, dengan Amara yang menyetir mobil.
Di mall, Arya dan Marcell yang baru tiba, membuatnya menjadi pusat pehatian, karena pesona Arya yang meski sudah tua namun masih terlihat gagah dan tampan, begitu pun dengan Marcell yang tentunya juga kalah tampan dengan ayahnya.
Marcell yang sudah menjadi idola kaum hawa karena ketampanan dan juga karena dirinya seorang CEO.
Mereka sadar, jika mereka tengah menjadi perhatian, namun mereka acuh tidak peduli, fokusnya mereka hanya untuk mencari keberadaan istri - istri mereka.
__ADS_1
Sementara di sebuah toko tas dengan merk ternama, Safira tengah melihat-lihat untuk memilih tas yang akan ia beli selanjutanya yang hanya di temani oleh Nara, Citra dia yang sudah pamit pulang lebih dulu karena sesuatu hal.