
"Aku bukan seorang ayah yang lunak, lagi pula dia sudah sangat sangat keterlaluan, dia mesti di hukum, agar dia tahu jika segala apa yang dia lakukan akan ada hukuman yang menantinya, apa lagi menyangkut nyawa manusia, dan kau! harus bisa bekerjasama dengan ku, jika tidak aku juga akan menyeretmu dalam kasus ini!" Ucap Do Yun membuat Orang itu mengangguk patuh.
"Hubby, kau sudah baik-baik saja?" Tanya Nara pada suaminya yang sudah berada di hadapannya.
"Hmm, aku baik-baik saja kau tidak perlu khawatir, dan luka-luka ini pun akan segera pulih, sayang ada hal yang ingin aku katakan padamu." Ucap Marcel membuat Nara menatapnya..
"Apa itu hubby?" Balas Nara.
"Aku harap kau akan siap mendengar nya, meski aku juga tidak ingin kau tahu saat ini karena kondisi mu yang belum benar-benar pulih, tapi semakin lama di tutupi itu akan sama saja, semua kau akan mendengar nya. "Ucap Marcel membuat Nara terdiam.
"Apa ini mengenai orang tuaku, bagaimana dia hidup dan meninggalkan ku ?" Tanya Nara membuat Marcel mengangguk.
"Aku siap, biarkan aku tahu semuanya, dengan begitu hati ku merasa tenang, karena apa yang aku inginkan aku akan mengetahuinya. " Balas Nara.
"Hubby, apa maksudmu Erick Wijaya berada disini ?" Tanya Nara pada Marcel.
Marcel mengangguk." Dia bekerja sama dengan Kim Do Yun, paman mu. Nanti kau akan mendengarnya lebih banyak lagi, jadi aku harap kau akan siap mendengar semuanya !"Nara pun terdiam, ia berpikir apa semua ini memang sudah mereka rencanakan sejak lama, untuk apa, dan apa tujuan mereka? Pikir Nara.
__ADS_1
Dan saat ini Nara tengah berhadapan dengan Erick yang sedang menatapnya tajam, dengan kedua tangan yang terikat dan mulut yang di bekap oleh lakban hitam, dan saat ini adalah kali pertamakali Nara lagi berhadapan dengan Erick Wijaya.
Lakban yang menempel pada mulut Erick di lepas hingga membuat ia leluasa untuk berbicara kembali.
Marcel berada di samping Nara, dan memeluk pinggangnya, sambil menunggu seseorang lagi yang akan membuat Erick semakin terpojok.
"Apa kau tidak puas setelah membuat hidup ku menderita hingga saat ini ?" Satu pertanyaan yang terlontar dari mulut Nara membuat Erick menarik kedua sudut bibirnya..
Nara menatap pria di hadapannya, Erick Wijaya yang masih terikat dan duduk di sebuah kursi.
Nara menahan sekuatnya agar tidak mengeluarkan air mata, dia ingin terlihat kuat, agar Erick berpikir dia benar-benar kalah, karena dia ingin hidupnya menderita, namun nyatanya dialah yang kini akan menderita.
"Oh, aku lupa jika kau bukan ayahku!
Kau mengelabui ku sejak aku kecil, apa salah ku, apa salah kedua orang tua ku pada mu hah hingga kau tega melakukan semua ini pada ku?" Nara yang terlihat ingin mengeluarkan apa yang ada di hatinya selama ini ia rasakan.
Erick terkikik Geli." Salahkan saja ayahmu, mengapa dia mesti hadir dalam hidup ku, dalam kelurga ku, hingga aku saja tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, dan itu semua adalah karena nenek dan juga ayahmu." Ucap Erick membuat Nara terdiam, ia meremas tangan Marcel yang memegangnya agar Nara tetap tenang menghadapi Erick.
__ADS_1
"Jangan bodoh Erick, seharusnya kau yang menyalahkan ibumu sendiri, bukankah ia yang menjebak ayah mu, saat dimana Ayahmu akan menikah dengan Kania, nenek dari Nara, dan ibu dari Kenzo !" Ucap Marcel membuat Erick menatap nya tajam dan juga heran.
Apa, apa dia mengetahui semua nya, bagaimana bisa ? Aku suda menyimpan semuanya dengan rapat. Dan aku yakin jika hanya Anaya dan Wilona yang tahu akan hal ini ! Heran Erick.
Sama hal nya dengan Nara, ia menatap suaminya ."Hubby?" Tanya nya yang membuat Marcel tersenyum.
"Gio, putar semua rekaman, dimana dia sedang menceritakan pada istri dan anak nya,.masalalu ibu dan juga kedua orang tua Nara!" Titah Marcel pada Gio yang di ngguki oleh nya.
Rekaman pun terdengar setelah Gio menekan tombol enter, membuat Erick membelalakkan kedua matanya, dan Nara menyimak semuanya dengan cemat, rekaman itu bertepan dengan datang nya Kim Ye Joon dan seorang wanita, juga seroang pria paruh baya yang menatap Erick dengan tidak percaya nya, atau lebih tepatnya kecewa.
Nara meneteskan air matanya dan menatap Erick Wijaya. "Kau membunuh kedua orang tua ku, Kau benar- benar jahat, hanya karena harta kau bisa melakukan semua ini ?" Nara tidak meyangka jika Erick Wijaya bisa melakukan semua ini, hanya karena harta warisan yang di tinggal oleh kakeknya dan Erick yang ingin menguasai semua nya sendiri hingga harus melakukan cara ini, membunuh kedua orang tuanya bahkan mengadopsi Nara sebagai anaknya yang hanya di atas kertas, tidak dengan kenyataannya, ia di abaikan dan tidak pernah di anggap.
"Ya, aku tidak rela harta ayah ku harus di bagi dengan nya, dia anak sial yang tidak berhak mendapakan semuanya, sama seperti kau !" Ucap Erick, kepalang basah, dia sudah tidak peduli dengan hidup nya lagi, terpojok ya itulah yang Erick rasakan, bahkan setelah melihat seorang pria yang sangat ia kenali, pak Ridwan, pengacara dari Ferry ayahnya.
"Kau menbohongi ku Erick, kau bilang kau akan menjaga dan merawatnya seperti anak mu sendiiri, namun nyata nya kau malah menperlakukan nya dengan buruk. Bahkan setelah dia bahagia dengan suaminya kau tidak pernah membuatnya bisa hidup dengan tenang, terbuat dari apa hati mu Erick Wijaya, kau benar-benar memiliki hati yang jahat seperti ibumu!" Pengacara Ridwan mengeluarkan amarah nya mendengar jika Erick Wijaya membohonginya.
"Jangan membawa - bawa ibu ku!" Sergah Erick yang tidak terima jika Ibunya ikut terseret.
__ADS_1
"Kau menyalahkan Ferry karena tidak peduli pada ibu dan juga dirimu, nyatanya itu karena ibumu yang memaksa untuk hidup dengan Ferry, dan kau membalasnya pada Nara yang tidak tahu apapun !" Pengacara Ridwan benar-benar sangat marah, karena dia sangat menyesal telah mempercyai Erick, dan tidak bisa melaksanakn apa yang sudah di titipkan oleh Ferry, Kenzo, istri dan anak nya harus bahagia.
"Aku selalu menganggap mu ayahku, aku selalu berharap kau akan memandangku sama seperti kau memandang Wilona, aku selalu melakukan apa yang kau minta juga Anaya, aku bekerja keras, aku menjadi pintar karena ingin membutmu bangga, namun nyata nya apa yang aku perjuangakan hanya lah sia-sia,kau bukan ayahku kau hanya penjahat yang sudah membunuh kedua orang tua ku, kau pembunuh! aku menyesal telah menyayangi mu dulu, karena aku kira kau memang ayahku, aku menyesal ... !"Nara dengan isak tangisnya, orang yang dulu pernah ia perjuangkan untuk bisa merasakan kasih sayang seperti anak lainnya ternyata di adalah pembunuh. Pembunuh kedua orang tua nya, yang belum sempat ia kenali.