
"Ini!" Ucap Marcell. "Bilang sama Pak Amir, terima kasih. "Lanjutnya lagi, yang membuat Ayu mengangguk.
"Ya sudah saya masuk dulu!" Ucap Marcell sambil menggandeng tangan Nara.
"Maaf tuan Marcell, apa tuan Marcell perlu sesuatu, atau mungkin tuan Marcell mau di masakkan untuk makan malam. ?" Tanya Ayu lagi membuat Marcell dan Nara berhenti dan memandang Ayu.
"Ada aku istrinya, jadi kau tidak perlu repot - repot mau melayani suamiku !" Ujar Nara tegas yang mulai risih karena sepertinya Ayu memang benar-benar tidak peduli padanya.
Nara merasa kesal pada wanita di hadapannya. Ayu, wanita itu benar-benar tidak peduli pada Nara, dia hanya menatap Marcell dan bertanya padanya.
Marcell tidak menanggapi pertanyaan Ayu, Marcell
serahkan semuanya pada istrinya dan membiarkan Nara yang menjawab semua yang ditanyakan Ayu padanya. Lagipula dia tidak peduli sama sekali.
"Aku bertanya pada tuan Marcell, karena dia majikan saya!" Ucap Ayu tegas, tanpa melepas pandangannya pada Marcell, yang membuat Marcell risih.
"Aku istrinya, dan aku juga adalah majikanmu." Tegas Nara.
"Oh, atau kau ingin menjadi seorang pelakor, ck aku tidak menyangka ternyata gadis desa ada juga yang ingin menjadi seorang pelakor, merebut suami orang!" Ucap Nara dengan nada sinis.
Ayu dikatakan seperti oleh Nara menjadi kesal dan menggeram marah, namun ia mengontrol emosinya agar tidak meluap di hadapan Marcell.
Ayu tersenyum pada Nara." Nona, mana mungkin aku menjadi perusak rumah tangga orang lain. Menjadi seorang pelakor ?Itu tidak mungkin.
"Aku hanya bersikap sewajarnya, menawarkan apa yang saya tawarkan pada majikan saya!" Ucap Ayu dengan santai.
"Ck, wanita ini tidak mau disalahkan, Ayu, niatmu sudah sangat terlihat !" Ucap Marcell dalam hatinya.
Nara mengangkat sudut bibirnya mendengar Ayu berbicara. "Kau tahu, kau tidak punya bakat untuk berakting, sayang ayo kita masuk aku sudah lapar. !" Ajak Nara pada Marcell masuk kedalam Villa, ia sungguh sangat malas jika harus melayani Ayu.
"Apa kau tidak punya sopan santun nona, bahkan tuan Marcell pun belum menjawab pertanyaan ku.!" Tanya Ayu yang kesal pada Nara, yang bahkan terlihat bermanja pada Marcell.
__ADS_1
Ayu, ia merasa yakin jika Marcell akan menerima tawarannya, mengingat saat waktu siang hari, Marcell terlihat baik padanya.
Marcell dan Nara kembali berbalik dan menatap Ayu dengan tampang polosnya sedang menatap Marcell.
"Ayu, terima kasih atas tawaranmu, namun seperti yang istriku sampaikan, aku sudah memiliki istri yang bisa melayaniku, jadi lebih baik kau pulang saja.!" Ujar Marcell yang sudah sangat kesal pada Ayu.
Nara mengulum bibirnya, menahan untuk tidak tertawa, melihat ekspresi Ayu yang menahan rasa kesalnya.
"Kau dengar apa yang suami ku katakan, dan satu lagi, dimana-mana jika majikanmu sudah menikah, maka istrinya pun majikannya. " Ucap Nara yang langsung menggandeng Marcell pergi masuk ke dalam Villa, meninggalkan Ayu.
Ayu mengepalkan tangannya, dan menatap tajam pasangan yang berjalan menjauh darinya.
"Apa aku tidak bisa memiliki pria seperti Tuan Marcell"Tuan Marcell, dia pria tampan dan juga kaya, aku ingin memiliki suami seperti Tuan Marcell, sedangkan pria disini, mereka tidak setampan dan sekaya Tuan Marcell !"
Ayu, yang memang terlalu pemilih dalam hal pria, karena obsesinya yang menginginkan pria kaya dan juga tampan, terlebih untuk mengubah hidupnya dan juga keluarganya yang sederhana.
Ayu, dia sebenarnya wanita yang baik, walau dia memang tidak berniat untuk merusak rumah tangga majikannya, namun jika Tuan Marcell pun menginginkannya itu bukan masalah, pikir Ayu.
Di Villa, Marcell dan Nara tengah makan malam.
Nara masih terlihat kesal dengan tingkah laku Ayu yang ingin merebut suaminya.
Marcell menyadari akan kekesalan Nara. "Sayang, apa kau marah?" Tanya Marcell dengan lembut, menyudahi makan malamnya.
Nara pun sama menyudahi makannya, dan menatap Marcell. "Aku hanya kesal, sudah dua wanita yang menginginkanmu, pertama Amara dan sekarang Ayu, ck, beginikah resiko dari istri seorang CEO tampan." Ucap Nara dengan cemberut.
Marcell mendengar itu terkekeh dan mengusap lembut kepala istrinya. "Meski banyak yang menyukaiku, aku tidak akan menyukai mereka, sayang percayalah, aku tidak akan mengkhianati cinta dan pernikahan kita!" Ucap Marcell membuat Nara menatap mata Marcell mencari kebohongan disana, namun sepertinya Marcell benar-benar tulus.
Nara tersenyum. "Aku percaya padamu, tapi jika kau mengkhianatiku, maka saat itu kau sudah menceraikanku, Marcell aku tidak masalah hidup susah, jika kau suatu saat tidak memiliki segalanya seperti sekarang, namun soal pengkhianatan, itu aku tidak bisa mentolerinya lagi!" Ucap Nara tegas membuat Marcell mengangguk mengerti.
"Ara, sayang, Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengkhianatimu, sekarang habiskan dulu makan malammu, kau perlu tenaga nanti!" Ujar Marcell dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Tenaga?" Pikir Nara bingung.
Sesaat dia pun sadar dengan apa yang dikatakan suami tampannya.
Nara pun kembali memakan makan malamnya dengan wajah memerah karena malu, sesaat rasa kesalnya pun menghilang.
Marcell hanya tertawa melihat istrinya yang malu dengan perkataannya padanya.
Pagi hari, Marcell menggeliat, terbangun karena sinar matahari yang memaksa masuk lewat jendela kamarnya.
Marcell menengok melihat istrinya yang masih tertidur pulas dengan tubuh polosnya yang tertutup selimut tebal. Marcell mengingat saat malam penyatuan yang terasa nikmat baginya dan juga istrinya, karena sudah memiliki perasaan cinta yang sama, entah berapa ronde yang sudah mereka lakukan yang pasti mereka melakukannya hingga waktu yang menunjukkan dini hari atau mungkin subuh.
Marcell tersenyum dan mencium kening istrinya lembut, tidak ingin membuatnya terbangun.
Marcell melihat jam di HP nya yang menunjukkan pukul 07:35, Marcell pun menyibak selimut tebalnya, dengan hanya mengenakan boxer, ia pergi melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama Marcell sudah membersihkan diri, dengan mengenakan pakaian santainya, dengan menatap istrinya yang masih tertidur pulas. Marcell membiarkan Nara
dengan tidurnya, karena ia mengerti Nara masih kelelahan akibat keinginannya saat malam yang seolah tidak bisa berhenti, meski Nara sudah mengatakan jika ia lelah. Ia pun keluar kamar dan menuju dapur, ingin membuatkan sarapan untuk Nara.
"Pak Amir. !" Panggil Marcell yang sedikit terkejut melihat Pak Amir sudah ada di Villa dan sedang membersihkan ruangan Villa.
"Oh tuan Marcell sudah bangun, saya baru selesai membersihkan Villa tuan Marcell." Ucap Pak Amir menjelaskan dan Marcell mengangguk.
"Tuan Marcell mau sarapan, Ayu sedang membuat sarapan untuk tuan.!" Tanya pak Amir kembali yang mengejutkan Marcell.
"Rahahu?" Ucap Marcell kembali.
"la tuan Marcell, katanya disuruh Tuan Marcell untuk membuat sarapan pagi ini.!"
Mendengar apa yang dikatakan Pak Amir, Marcell menggelengkan kepalanya, rupanya Ayu benar- benar ingin mendekatinya.
__ADS_1