
Bagi Marcel Kinara adalah yang utama, dia tidak ingin mendengar kabar yang buruk tentangnya.
Reno mengangguk paham, "kau tidak perlu khawatir, bahkan aku juga sudah memasukkan beberapa orang yang berada di sisi Kinara menjadi teman di kampusnya, dan ini semua berkat Gio."
Marcel pun mengangguk, kini ia sangat bersyukur karena Gio ada bersamanya, meski ia belum bertemu dengannya.
"Mmm Marcel, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan, tapi mungkin ini akan membuatmu marah, Gio dia sudah men'takedown berita ini, namun mengenai pembicaraan orang-orang mungkin itu adalah hal yang sulit, karena mereka bicara dari mulut ke mulut."
"Ck, bicaralah, jangan membuatku penasaran Reno !" decak kesal Marcel.
"Tapi kau harus berjanji padaku, jika kau tidak perlu emosi ataupun gegabah.!"
Marcel menatap Reno tajam, ia sungguh penasaran karena menurutnya ini menyangkut Kinara. Reno yang ditatap seperti itu menelan Saliva nya sendiri, Marcel terlihat sangat menyeramkan jika ini mengenai orang orang yang dia sayang.
Reno tidak berbicara namun ia menyodorkan ponselnya pada Marcel, memperlihatkan sebuah pesan yang ia dapatkan dari Gio.
Marcel pun dengan cepat melihat apa yang dimaksud oleh Reno, dia membaca informasi dari Gio dengan cermat, hingga ia menemukan hal yang sangat melukai hatinya terutama bagi Kinara.
"Brengsek! siapa yang menyebarkan gosip murahan seperti itu Reno?" Dengan sorot mata yang tajam Marcel benar-benar terlihat sangat marah, membuat Reno tidak bisa lagi berkata apapun.
Marcel melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09:45, di menebak jika Kinara sudah berada dari kampusnya. "Kita ke kampus sekarang !" Ujar Marcel yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya.
"Sekarang? Marcel tapi sebentar lagi kita akan ada rapat!" Reno yang mengingatkan Marcel.
Marcel yang sudah berada di depan pintu ia kembali berbalik dan menatap Reno, "batalkan! Istriku Saat ini lebih penting!" perintah Marcel, yang langsung berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Reno hanya bisa pasrah dengan keputusan Marcel, hingga ia pun dengan segera menyusul Marcel yang akan menuju kampus Kinara.
Kinara yang sudah berada di kampusnya. Kinara terlihat sedang berjalan menuju kelas, tanpa menyadari jika kini ia tengah menjadi perbincangan, bahkan pusat perhatian.
__ADS_1
"Kinara!" panggil seseorang wanita.
Kinara berhenti, dan menengok siapa yang memanggilnya. Rupanya itu adalah teman satu jurusan denganya.
"Hay, Dina, kenapa?" ucap Kinara ramah dan bertanya mengapa Dina memanggilnya.
"Ck, masih santai aja kamu! tuh di panggil dekan!" jawabnya dengan sedikit ketus, membuat Kinara heran.
Dina pun pergi setelah menyampaikan pesan pada Kinara, jika dia sudah di tunggu oleh dekannya.
Kinara yang merasa bingung dengan sikap Dina, dan ketika melihat Dina menjauh, kini ia pun baru menyadari, jika banyak pasang mata yang sedang melihatnya dengan sinis, ketika menyadari keadaan di sekitarnya.
Kinara tersenyum pada mereka yang melihatnya, namun mereka malah melihat Kinara sinis, bahkan terlihat seperti jijik melihat Nara.
Kinara ia mengedikkan bahunya tidak peduli, selagi ia memang tidak merasa melakukan kesalahan. Kinara berbalik berjalan menuju ruangan Dekannya, tanpa menghiraukan semua orang yang tengah membicarakannya.
Tok tok tok... Suara ketukan pintu oleh Kinara terdengar dari dalam ruangan.
"Masuk" sahutan dari dalam meminta Kinara masuk ke dalam.
Ceklek.. Kinara me.buka pinti dan masuk kedalam ruangan. Di dalamnya ada Dekan dan ada beberapa dosen, Kinara pun mulai terlihat tegang, entah apa yang akan dibicarakan oleh Dekan nya.
"Silahkan duduk, nona Kinara!" ujar sang Dekan, saat melihat Kinara memasuki ruangannya.
Kinara duduk di sofa yang seorang diri, dan sofa yang lainnya sudah diduduki oleh beberapa Dosen, sedangkan Dekan nya duduk di kursi besarnya.
"Nona Kinara, apa anda tahu kenapa kami memanggil anda kemari?" tanya Dekan kampusnya, yang membuat Kinara menggeleng lemah, karena ia benar- benar tidak tahu apa yang membuat mereka memanggilnya.
Salah satu Dosen nya memberikan beberapa kertas pada Kinara, dan memintanya melihat isi dari tulisan dan foto yang ada disana.
__ADS_1
Kinara melihat dan membaca dengan cermat. Kini ia tahu mengapa banyak orang yang membicarakannya, rupanya ada sebuah berita tentangnya.
Kepalanya menggeleng lemah dan menutup
mulutnya tidak percaya jika ada berita negatif tentangnya, dan sudah tersebar di kampus.
Isi berita itu mengenai dirinya yang menaiki ranjang seorang CEO, namun berita itu tidak menjelaskan CEO dari perusahaan mana.
Kinara seorang karyawan cafe, yang membuat banyak spekulasi pemikiran banyaknya orang, jika Kinara adalah seorang ****** yang akan melakukan apapun demi merubah hidupnya, termasuk menjual dirinya atau bisa disebut dengan, open BO.
Terbukti dengan perubahan Kinara, seperti dia yang membawa mobil mewah yang hanya segelintir orang yang memilikinya, dan juga dari barang dan pakaian yang ia kenakan.
Kinara menatap Dosen dan Dekan nya, wanita seperti ini!" ucapnya membela diri. "aku bukan Ketiga dosen itu hanya menatap datar Kinara, sedangkan Dekannya ia terlihat menghela nafasnya panjang.
"Saya dengar kamu juga sudah menikah?" Kinara pun mengangguk membenarkan.
"Kinara, kami belum memutuskan apapun perihal berita yang tersebar, dan kau beruntung karena berita itu hanya tersebar di sekitar kampus, bahkan sudah di take down, entah oleh siapapun itu, kendati demikian sudah banyak mahasiswa yang mengetahuinya, dan tidak akan menutup kemungkinan mereka tidak akan menyebarkannya ke luar kampus!" Dekan kampus yang menjelaskan pada Kinara, dan menjeda ucapannya sebelum ia akan melanjutkan kembali perkataannya, dengan menatapnya, dan Kinara hanya mampu terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh dekannya.
"Kami memanggilmu, karena kami ingin menanyakan hal ini padamu terlebih dulu, dan lagi Rektor kampus pun meminta kita menyelidikinya lebih lanjut, sebelum kami mengambil keputusan" lanjutnya membuat Kinara sedikit lega.
"Jika kamu memiliki bukti, bahwa kamu bukan seperti yang sudah diberitakan maka itu akan lebih mudah. Namun, jika kamu terbukti sesuai yang di beritakan, kami meminta maaf harus mengeluarkan kamu dari kampus ini" ujar sang Dekan membuat Kinara mengangguk pasrah.
Kinara kini hanya berharap pada Marcel agar bisa membantunya, dan agar dirinya bisa terus kuliah.
"Dan soal beasiswa kamu, kami minta maaf karena harus mencabutnya, karena kamu sudah menikah dan dengan adanya skandal ini, walau belum tentu kebenarannya. Namun, itu sudah membuat nama kampus kita tercoreng !" ujar Dekan kampusnya.
Kinara terdiam dan hanya bisa pasrah, Kinara kini ia terlihat sedih, meski begitu dia tidak bisa berbuat apapun.
"Meski aku bukan wanita yang suka open BO, beasiswa itu akan tetap dicabut?" tanya Kinara lagi, karena itu adalah hal yang lebih penting baginya.
__ADS_1