
"Dia bukan wanita j*lang !" Tegas Erick membuat Samuel tertawa..
"Hahaha Wilona, dia wanita murahan yang pasrah aku ambil keperawanan nya, bahkan kini ia menawarkan tubuhnya pada pria lain, jadi, apa itu bukan yang dinamakan wanita j*lang, Erick, jika dia ingin lepas dari ku, aku bisa saja melakukan nya, namun aku akan melepas semua aset ku di perusahaan mu, Wijaya Grup!"
Erick menegang. Tidak belum saat ini, jika itu yang dia mau aku bisa melepas semua aset nya, namun tidak untuk sekarang, karena semua akan sia-sia.
Samuel tersenyum melihat ketakutan Erick, karena jika ia melepas semua set yang ia miliki, perusahaan Wijaya Grup akan bangkrut kembali.
"Tidak bisakah, tuan hanya membiarkan Wilona untuk menjadi model, hanya itu impian nya saat ini. " Pinta Erick pada Samuel.
Samuel menghela nafas nya. "Akan aku pikirkan, dan jika aku mengizinkan kembali, aku tidak mau anak itu kembali bertingkah, kau ingat bukan ketika Wilona masuk ke rumah sakit, mungkin nanti akan lebih dari itu, Erick, bagiku Wilona bukan lah istriku, melainkan budak ku yang harus menuruti keinginanku, aku mengontraknya dengan pernikahan karena jika hanya dengan hitam di atas putih, itu akan hilang ketika berjalan nya waktu, cukup sampai disini, aku sedang banyak pekerjaan, kau bisa kembali ke perusahaan mu saat ini !" Ucap Samuel.
Erick yang sejak tadi menahan semua kemarahan nya, karena dia sadar, jika dia marah disini, mungkin Wilona yang akan mendapat amukan dari Samuel, bahkan juga perusahaan nya.
Erick pun dengan terpaksa keluar dari perusahaan Erick dengan persaan marah dan terhina.
"Lihat saja, ketika aku berada di atasmu, aku akan membuat perusahaan mu hancur Samuel. !" Erick mencengkram setir mobilnya dengan kedua bola mata nya yang menatap tajam bangunan pencakar langit di hadapan nya, perusahaan Samuel yang suatu saat akan dia gulingkan.
Erick pun kemudian menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas mobilnya untuk meninggalkan tempat ini.
Sementara di perusahaan Admaja Company, Gio yang sedang berbicara dengan Reno sebelum mereka berangkat makan siang.
"Kau sudah menyiapkan semua nya, jadi Marcell akan mulai pindah besok ?" Tanya Reno memastikan.
__ADS_1
Gio mengangguk. "Aku akan pergi mengantar nya esok pagi, mungkin juga akan menginap beberapa hari, untuk memastikan semua nya aman, dan mereka tidak terc*uman oleh siapapun, terutama keluarga Wijaya, jika mereka akan pindah ke bogor."
Reno mengangguk mengerti." Lalu mengapa kau melapor padaku, bukankah kau harus melapor pada Tuan Arya ?"
Gio tersenyum. " Aku ingin menitipkan Sisca padamu, jaga dia, jika bisa aku ingin dia ikut bersama ku.
Reno berdecak kesal. " Ck, dia bukan anak kecil Gio, dia bisa menjaga dirinya, ternyata kau bisa bucin juga ?" Ledek Reno pada Gio karena sempat tidak percaya jika Gio akan bucin pada Sisca, karena dia tahu Gio tipikal cowok yang cuek, namun saat ini Gio seperti tidak ingin berpisah lama dengan calon istrinya itu dan menyingkirkan sifat dingin nya.
"Kau akan merasakan nya jika sudah memiliki wanita bersamamu, yang kau cintai, jadi apa bisa Sisca ikut dengan ku ?"
Reno menatap Gio kesal, dia memang belum merasakan mencintai wanita seperti Gio mencintai Sisca. "Untuk itu kau bisa bertanya pada tuan Arya, lagi pula Sisca mungkin belum memakai cuti nya, ku rasa dia akan di izinkan, jika hanya beberapa hari, menemani mu di Bogor.
Gio tersenyum. " Baiklah nanti aku akan meminta izin pada Bos besar."
"Bogor !" Ucap Sisca terkejut karena dia akan ikut bersama dengan Gio ke bogor, untuk mengantar Marcell dan Nara yang akan tinggal disana.
Sisca mengangguk mengerti. " Tapi, mengapa aku juga harus ikut ?" Tanya Sisca sedikit heran karena ada apa hubungan kepindahan Marcell dan Nara dengan dirinya, jika soal keamanan bukankah ada Gio kekasih nya yang lebih mengerti.
Gio tersenyum dan menarik Sisca ke dalam pangkuannya. " Aku tidak bisa jauh dari mu, meski hanya dalam waktu 2 hari, aku sudah terbiasa tidur bersama mu, aku menggunakan alasan, jika Marcell atau Nara mungkin akan membutuhkan mu disana !"
Sisca berdecak kesal, dan melipat kedua tangannya di badan nya. " Meski kita ikut bersama mereka, apa pantas jika kita akan tidur bersama, hanya dua hari, itu tidak lama bukan bukan?" Gio menggelengkan kepalanya.
"Dua hari bagiku sangat lama, tidak masalah jika kita tidak bisa tidur bersama, setidak nya aku bisa terus melihat mu. "
__ADS_1
Sisca tersenyum dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Gio. " Sejak kapan kau bisa romantis, bahkan menjadi Gio yang bucin pada ku ?"
"Sejak aku benar-benar mencintai mu, apa kau tidak suka aku bersikap seperti ini ?"
Sisca mendekatkan wajah nya ke wajah Gio hingga dahi mereka menempel. " Suka, sangat suka, tetap lah menjadi dirimu, dan bersikap romantis hanya padaku !" Ucap Sisca sedikit lirih.
Gio tersenyum." Tentu, aku bersikap seperti ini hanya untuk mu. " Balas Gio dan menc*um bibir ranum Sisca yang sudah menggoda dirinya.
Bogor.
Siang hari mereka sudah sampai di bogor, Nara bersama Safira masuk lebih dulu ke Villa dengan Kayla yang berdiri tidak jauh dari Nara, sedangkan Marcell berjalan di belakang mereka bersama Gio dan Sisca.
Arya tidak ikut mengantar mereka, karena dia dan Reno ada janji temu dengan seorang klien dan mungkin di ujung minggu mereka baru akan berangkat ke bogor.
Nara sejak tadi ia berjalan menuju Villa, terlihat terus berbinar, karena ada banyak tanaman bunga mawar dan juga tulip, yang sudah tertanam rapi di pekarangan Villa..
Nara melihat ke arah Marcell yang tersenyum pada nya." Kau suka?" Nara mengangguk.
"Terimakasih Hubby." Balas Nara dan menc*um pipi suaminya.
Marcell mengelus rambut Nara lembut. "Agar kau ada kegiatan, kau bisa berkebun, kurasa menanam bunga tidak terlalu berat asal kau di temani dan di bantu oleh beberapa pelayan, ingat kau tidak boleh lelah."
Nara mengangguk patuh." Siap Hubby." Marcell pum terkekeh karena melihat Nara berlagak seorang polisi dengan tangan yang menghormat padanya.
__ADS_1
Gio, Sisca dan Safira tersenyum senang melihat mereka pasangan yang ada di hadapan mereka, mereka berharap Marcell dan Nara akan terus bahagia.
"Sudah, kita kita masuk dulu, kita harus iatirahat, terutama kau Nara, berbaring lah sebentar, kau sudah cukup lama duduk di dalam mobil." Ujar Safira pada Nara yang mengangguk patuh.