
"Wilona! Jangan sampai dia mengetahuinya, aku takut dia akan semakin nekat!" ujarnya pada Erick. Namun, Erick menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan saran Anaya.
"Justru kita harus memberitahunya, agar dia tidak ceroboh dalam bertindak, bukankah dia bekerja di agency yang berada dibawah naungan Admaja Company. Dan cepat atau lambat dia akan mengetahuinya, jadi daripada dia tahu dari orang lain lebih baik kita memberitahukannya lebih dulu. !"
"Tapi sayang, Wilona akan sangat marah dan terpukul, jika dia tahu Nara nasibnya lebih baik daripada Wilona, yang menikahi seorang CEO," ucap Anaya sendu.
"Nara, CEO? Apa maksudmu bu ?" tanya Wilona yang mendengar perkataan Anaya.
Wilona yang baru tiba di rumah kedua orang tuanya, namun rumahnya terlihat sepi, ia pun memutuskan mencari ke ruang kerja ayahnya, dan dugaannya benar jika mereka berada di sana.
Wilona tidak mendengar semua. Ia hanya mendengar perkataan terakhir Anaya, dan membuatnya penasaran, apalagi itu adalah tentang Nara.
"Wilona!" Anaya terkejut mendapati anaknya ada di depan pintu.
Berbeda dengan Erick, la menatap Wilona sendu," duduklah! ayah akan menjelaskan padamu !" Anaya menggeleng lemah pada Erick yang tidak dihiraukan olehnya.
"Marcellino Admaja dia adalah suami Nara!" ucap Erick tanpa basa basi, membuat Wilona tertawa.
"Ck, ayah mana mungkin Nara bisa menikahi pria tampan dan kaya seperti itu, bahkan aku saja tidak yakin bisa mendapatkannya."
Anaya memeluk putrinya yang membuat Wilona heran," apa, apa ini sungguhan?"
Erick mengangguk tegas dan menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan sebuah foto yang dia dapatkan dari para bawahannya.
Wilona menerimanya dan melihat apa yang dimaksud ayahnya, dia lalu tersenyum miris bahkan air matanya menetes.
Wilona membanting ponsel ayahnya, tangannya terkepal kuat bahkan ekspresi wajahnya terlihat sangat marah, Wilona menatap tajam kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Mengapa - mengapa hah! mengapa Nara selalu lebih beruntung daripada aku?
Kalian tau, sejak sekolah saja pria - pria banyak yang lebih memilihnya dibandingkan aku, dan kini, kini dia menikah dengan seorang CEO, bahkan dia sangat tampan.
Sedangkan aku? aku harus menikahi pria tua, bahkan pria tua itu memperlakukanku layaknya seorang ******!
Kalian tahu pria tua yang kini menjadi suami ku pun bahkan memuji Nara!
Tidak! aku tidak terima ini ! dia selalu beruntung! Aku harus bisa membuat dia lebih menderita daripada aku, jika bisa aku akan merebut Marcell menjadi milikku! Wilona dengan kemarahan dan ambisinya bertekad ingin membuat Nara menderita.
Anaya menangis mendengar penderitaan anaknya, namun ia pun tidak bisa membuat Wilona dikuasai amarah yang mungkin malah dia yang akan terkena masalah.
"Tidak sayang, Wilona kau tidak boleh gegabah !" ujar Anaya mencoba menenangkan Wilona.
"Kalian takut ? maka aku akan melakukannya sendiri ! kalian tidak bisa mencegahku. Dan ingat ini semua karena kalian, kalian yang membuatku menderita seperti ini, kalian yang menjualku menjadi istri kontrak dari seorang pria tua !" ucap Wilona dengan tatapan tajamnya, membuat Anaya semakin menangis, dia sadar jika ini memang ulah dia sebagai orang tuanya, namun dia pun tidak bisa berbuat apa-apa, uang dan harta, baginya itu adalah yang utama.
Erick, Erick hanya terdiam, ia tertunduk mendengar Wilona meluapkan kesedihannya. Bahkan kata-kata Wilona yang mengatakan jika mereka, orang tuanya menjual anaknya sendiri dalam pernikahan yang hanya satu tahun. Hanya demi kehidupan megahnya tidak meredup. Sakit, tentu hatinya sakit, meski dia tidak pernah berpikir seperti itu.
Erick menatap putrinya sendu, ia tak menyangka jika putrinya menderita sampai seperti ini.
Wilona setelah meluapkan kekesalan dan kesedihannya. Ia lantas meninggalkan kediaman Wijaya, meski Anaya terus meminta maaf dan mendesak Wilona untuk tetap di rumah hingga Wilona menenangkan diri dan juga memaafkannya, namun Wilona tetap ingin segera pergi dari hadapan kedua orang tuanya.
"Biarkan dia pergi dulu, Wilona, dia akan menenangkan dirinya," ujar Erick pada Anaya yang hendak mengejar Wilona.
"Sayang aku khawatir terjadi sesuatu padanya, dia sedang dikuasai amarah, Erick ini semua karena kita, Wilona ... dia... dia.. menderita. "Anaya dengan tangisnya tidak tega dan kasihan pada anak semata wayangnya.
"Aku tahu, anak buahku akan mengikutinya, kau tidak perlu khawatir," ucap Erick yang menenangkan Anaya.
__ADS_1
"Nara! Erick kita harus bisa membawanya ke hadapan Wilona, hanya itu, hanya itu yang akan membuatnya senang dan terbalas penderitaannya. "
"Aku tahu, tapi kita tidak bisa gegabah, serahkan semuanya padaku, aku janji anak sial itu akan kembali tunduk pada kita.," ucap Erick dengan ambisinya, yang masih saja menyalahkan Nara atas semua yang terjadi.
Wilona yang meninggalkan kediaman Wijaya dengan amarahnya. la ingin segera menemukan Nara, membalas penderitaan yang seharusnya dia dapatkan.
"Bagaimana Bisa, Nara lebih beruntung daripada aku, malam itu? apa Marcell yang bertemu dengan Nara?"
Wilona lekas memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. la mencari ponselnya dan mencari kontak seseorang dan lalu menelponya.
[Aku ingin kau ingin kau melakukan tugas yang aku minta dan aku ingin secepatnya, soal bayaran kau tidak perlu khawatir, aku akan membayar mu lebih ! ] ucap Wilona pada seseorang di seberang sana, memberikan sebuah tugas yang pasti tidak menguntungkan bagi Nara.
"Nara kau lihat saja, kebahagiaanmu tidak akan berjalan lama, ck Marcell dia yang seorang CEO Admaja company, aku tidak percaya jika dia menyukaimu dengan tulus, atau mungkin itu hanya sebuah pernikahan kontrak yang sama denganku, benar, mungkin itu yang Nara alami, karena mereka yang bahkan tidak mengumumkan pernikahannya?"
Wilona memikirkan hal yang logisnya baginya, seorang yang memiliki status yang lebih tinggi darinya tidak mungkin bisa menikahi atau bahkan mencintai wanita seperti Nara, bahkan Wilona saja ia belum tentu bisa mendapatkannya.
Wilona pun dengan segera menjalankan kembali mobilnya, menuju apartemen.
Amara, setelah bertemu dengan Marcell perasaannya semakin tidak menentu, pasalnya Marcell, dia terlihat sangat menyayangi Nara. Ia pun memutuskan untuk kembali ke apartemennya.
"Ga! Ini ga boleh terjadi, bagaimanapun Marcell lebih pantas denganku!"
"Wanita itu, aku tidak percaya Marcell bisa mencintainya sesingkat ini !"
Di perusahaan Alex terlihat meremas HP nya dengan kuat, ekspresi wajahnya terlihat sangat marah, ketika ia mendengar dari orang suruhannya untuk mengawasi Amara, yang ternyata Amara kembali mendekati Marcell meski Amara tahu jika Marcell sudah memiliki istri.
Selama ini ternyata Alex memiliki seseorang yang mengawasi Amara. Alex tidak ingin Amara pergi meninggalkannya, memang pada awalnya Alex hanya membutuhkan Amara melampiaskan nafsunya, begitu pun sebaliknya dengan Amara yang saling menguntungkan satu sama lainnya, Alex pun memutuskan tidak adanya komitmen, namun seiring berjalannya waktu ternyata Alex mulai mencintai Amara, hingga ia tidak rela jika Amara pergi dari sisinya dan disentuh oleh pria lain.
__ADS_1