
"Ya seperti suamiku ini, yang tidak akan mudah tergoda dengan rayuan pelak*r bahkan sampai meminta menjadi istri kedua, ck, mengapa aku harus membahas nya, aku jadi merasa kesal. " Ucap Nara yang mendadak cemberut.
Marcel merasa gemas pada istrinya pun mengacak - ngacak rambut Nara yang membuat Nara semakin menggembungkan pipi nya bahkan kedua bola mata yang melotot pada Marcel.
Marcel tertawa dan setelah itu kembali berbicara membuat Nara seketika kembali tersenyum "Kau mau jalan-jalan?" Ajak Marcel kemudian.
Nara mengangguk semangat." Pake motor lagi ya hubby?" Pinta Nara membuat Marcel menggelengkan kepalnya.
"Tidak sayang, kita pake mobil saja, disini jalan ya tidak semua mulus, dan kau sedang hamil muda, kau mengerti bukan?" Ucap Marcel membuat Nara mengangguk lemah, meski dalam hatinya ia sangat ingin berjalan-jalan di sekitar Villa dengan motor seperti waktu pertama mereka kemari, namun Nara harus mengerti jika Marcel mengkhawatirkannya, terlebih ini juga demi dirinya dan calon anak mereka.
Gio yang sudah melepas kepergian Sisca ikut bergabung dengan Marcel dan Nara, Kayla yang tidak jauh berada disana, hanya memperhatikan saja, tanpa ingin ikut nimbrung mengobrol, dia sadar akan posisi nya, jika hanya berdua dengan Nara dia mungkin bisa memposisikan dirinya sebagai teman, tidak jika sedang bersama Marcel.
"Kalian akan berkeliling, baiklah biarkan aku yang menyetir." Gio yang mendengar jika Marcel akan mengajak jalan-jalan di sekitar Villa di bogor ini..
Marcel mengangguk setuju, karena dia pun membutuhkan Gio untuk pengawalan juga, meski ada Kayla di samping Nara yang akan terus mengekor kemana pun ia akan pergi.
Safira yang tahu jika Marcel dan Nara akan pergi, dan bahkan mengajak juga dirinya. Namun Safira menolak, dan lebih memilih menghabiskan waktu di Villa.
Marcel menbawa Nara kesebuah tanah yang cukup luas dan lapang, dan disana sudah ada pekerja yang sedang menggarap tanah tersebut.
"Ini salah satu tanah mu, dan aku meminta untuk membuatkan taman bunga seperti yang kau inginkan, kau bisa meminta pada mereka apa yang kau inginkan mengenai taman bunga mu ini.kelak. " Jelas Marcel membuat Nara memeluk nya.
Nara tidak menyangka jika Marcel akan mengabulkan semua keinginan nya. " Terimakasih, mengenai konsep, aku serahkan saja pada mereka, aku pasti akan suka dengan hasil apapun yang mereka kerjakan, karena mereka sudah bekerja keras. " Jelas Nara membuat Marcel tersenyum.
Marcel benar-benar kagum dan ini ia semkin mencintai istrinya, yang memiliki hati yang lembut, Nara istri penurut yang bisa menurunkan ego nya, jika wanita lain, apa bisa seperti Nara yang tidak pernah membantah perkataan nya.
Gio dan Kayla yang memperhatikan mereka dari kejauhan, Kayla yang tersenyum dan Gio hanya tersenyum tipis, dalam hati Gio berharap, semoga ia pun bisa membahagiakan Sisca, membahagiakan wanita yang akan menjadi istrinya kelak, dengan cara nya sendiri.
Sama hal nya dengan Kayla, semoga ia bisa mendapatkan jodoh seorang pria yang mampu memuliakan para wanita, menjadi kan nya ratu di hatinya tanpa ada yang bisa menggeser Nya
__ADS_1
Jakarta di malam hari di sebuah kafe.
Amara yang sedang bersama dengan Raina tidak sengaja melihat Reno dan Amara pun menghampiti dan meminta waktu untuk berbicara pada Reno di Kafe ini, dengan Raina menunggu di meja nya karena permintaan Amara.
Amara tidak mungkin membiarkan adiknya tahu jika diringa sempat ingin menjadi pelak*r, dan tahu akan kelakuan kakanya yang menyebalkan atau mungkin menjijjkan.
"Kau akan menikah ?" Kejut Reno karena mendengar cerita Amara, bahkan memberikannya kartu undangan untuk Reno dan juga Marcel.
Amara mengangguk, membuat Reno berdecak kesal dan membuat heram Amara.
"Mengapa? Apa kau tidak suka aku akan menikah ?" Tanya Amara heran karena malah melihat ekspresi Reno yang kesal.
Bukankah seharusnya dia senang, karena aku tidak akan mengganggu pernikahan Marcel dengan istrinya lagi. Pikir Amara.
"Bukan begitu, aku senang dan turut berbahagia, dan ya, aku dan Marcel akan di usahakan untuk datang ke pernikahan mu nanti. " Balas Reno membuat Amara mengangguk.
"Tidak ada, hanya saja mengapa banyak orang yang berada di sekitar ku, tiba-tiba akan menikah, sedangkn aku belum memiliki wanita untuk di persunting. " Jelas Reno membuat Amara tersenyum.
"Aku doakan kau akan segera bertemu jodoh mu dan cepat menyusul kami." Ucap Amara membuat Reno tersenyum.
"Aku senang kau berubah." Ucap Daniek kemudian.
Amara mengangguk." Alex, dia pria yang sangat sabar dengan menghadapi kelakuan ku, jadi apa salahnya jika aku akan mencoba berdamai, berdamai dan memperbaiki diri, dan aku sadar jika aku juga sudah jatuh cinta pada Alex. "
Reno mengangguk. "Semoga pernikahan nya lancar dan langgeng terus. "Ucap Reno kemudian.
Amara mengangguk. "Terimakasih. " Balas nya.
Meski dalam hari Amara merasa resah, apa bisa pernikahan nya bahagia, selagi kedua orang tua Alex tidak merestuinya.
__ADS_1
Amara sempat berpikir, apa kah ini karma untuk nya, karena sempat ingin merusak kebahagian orang lain. Pikir Amara demikian.
Amara hanya berharap, jika suatu saat kedua orang tua Alex akan merestuinya menikah dengan anak nya, Alex.
Pagi hari di ruangan Reno di perusahaan Admaja Company. Reno terlihat sedang termenung, ia memegang dua undangan yang saat malam ia bertemu dengan Amara.
Reno terlihat menghela nafas nya berat, pasalnya teman-teman seangkatannya sudah menikah, dan dia malah belum memiliki pasangan.
Tok tok tok.. Suara ketukan pintu terdengar membuyarkan lamunan nya.
"Oh kau, berarti Gio juga sudah kembali ?" Tanya Reno melihat Sisca masuk ke dalam ruangan nya.
"Tidak, dia masih di bogor, untuk keamanan Marcel dan Nara katanya. " Jawab Sisca.
"Keamanan, apa terjadi sesuatu ?" Tanya Reno khawatir.
"Aku tidak tahu, Gio tidak menjelaskan nya padaku, mungkin nanti dia akan beritahu,tapi jika kau bisa menberitahu ku, aku akan dengar ?" Ucap Sisca pada Reno yang hanya menatapnya.
"Nanti saja, biar Gio yang jelaskan, aku tidak bisa, karena memang Gio yang lebih tahu, karena dia yang sudah mencari informasi nya. " Balas Reno membuat Sisca hanya bisa mengehela nafasnya.
Rasa penasaran Sisca terhadap Nara semakin bertambah, saat di bogor ia tidak menperlihatkan rasa keinginan tahuan nya, meski dia bisa saja memaksa Gio untuk bercerita, untuk itulah ia pergi d pagi hari dan menemui Reno dengan harapan, Reno akan mengatakan padanya, namun nyatanya Reno tidak mau memberitahunya.
"Baiklah, aku akan bertanya pada Gio saja. " Ucap Sisca pasrah, dan pandangan matanya teralihkan pada dua undangan pernikahan, dan lebih terkejutnya, jika itu undangan dari Amara.
"Apa ini undangan pernikahan Amara?" Tanya Sisca sambil mengambil dan melihat undangan itu.
Reno mengangguk. "Akhir minggu ini dia menikah, kau tidak di undang?"
"Tidak, aku tidak mengenal dekat dengan nya bukan ?" Ucap Sisca membuat Reno mengangguk.
__ADS_1