
Pagi hari di mansion keluarga Admaja, Nara yang sudah bangun lebih dulu, ia dengan hati-hati beranjak dari tempat tidur agar tidak membangunkan Marcell.
Nara melangkah menuju kamar mandi, sebelum itu ia mengambil sebuah tes kehamilan yang ia simpan di dalam lemari.
"Mungkin kehamilanmu baru satu minggu, dan entah akan terdeteksi atau tidak oleh tes kehamilan ini, jadi jika kau hanya akan menemukan satu garis kau tidak boleh berkecil hati, mungkin saat sudah satu bulan baru akan terlihat."
"Jika begitu, bukankah lebih nanti saja saat sudah satu bulan bu, atau mungkin menunggu aku telat haid?"
"Tidak apa, jika sekarang di coba juga, ibu hanya penasaran dan siang nya ibu akan memanggil dokter kerumah, untuk memastikan nya dan sekalian mengecek kesehatan kita, sebelum kita berangkat ke hotel untuk persiapan pernikahanmu di hari minggu!"
Nara yang mengingat percakapan nya kemarin dengan ibu mertuanya, membuat ia tidak terlalu berharap akan tes ini, ia hanya akan memastikan jika rasa penasaran nya Ibunya, apakah bisa terlihat jika hanya nya lagi terlihat samar.
"Samar ?"
"Apa kemungkinan itu aku akan hamil ?" Gumamnya. la pun mencoba ketiga tespack yang di berikan oleh ibu mertua nya dan semua hasilnya ternyata sama.
Nara membungkus kembali ketiga tespack itu akan di tunjukan pada ibu mertuanya dan akan bertanya lebih dulu. Nara pun lekas membersihkan diri sebelum Marcell bangun dari tidurnya.
Di dalam kamar Marcell meraba di mana biasa Nara tertidur di sampingnya dan tidak ada di sana, matanya pun terbuka memastikan jika Nara memang sudah terbangun dan lalu ia mendengar suara gemiricik air di dalam kamar mandi. Mengetahui jika Nara sedang dalam kamar mandi, ia pun kembali menutup matanya.
Tak lama Nara pun keluar dari kamar mandi. Nara menggunakan Dress tanpa lengan dengan rok selututnya dan rambut yang ia kucir satu. Nara melirik ke arah suaminya yang masih terlelap.
Nara pun membangunkan Marcell dengan lembut.
"Hubby bangun !" Ucap Nara membangunkan Mata Marcell pun terbuka dan tersenyum pada istrinya yang sudah terlihat cantik.
"Pagi sayang?"
Nara tersenyum." Pagi hubby bangunlah dan bersihkan dirimu, Hubby!" Ujar Nara pada suaminya yang terlihat tampan ketika bangun tidur.
__ADS_1
Marcell pun mengangguk untuk mengikuti instruksi dari istrinya, sebelum masuk ke dalam kamar mandi Marcell mengecup sekilas pipi Nara dan membisikan kata yang membuat Nara senang dan juga malu.
"Kau cantik sayang!" Ucap Marcell dan langsung pergi menuju kamar mandi.
Nara tersenyum." Hubby aku menunggu di bawah ya?"Ucap Nara setengah berteriak karena Marcell sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Nara turun dari lantai dua dan pergi menuju dapur, karena ia tebak jika ibu Safira pasti ada disana dan tengah menyiapkan sarapan mereka.
"Pagi bu ?" Sapa Nara pada ibu mertuanya yang tengah menyiapkan sarapan.
"Pagi sayang, kau sepertinya ada yang membuatmu bahagia, apa itu benar?" Tanya Safira karena melihat Nara ceria di pagi hari.
"Jika hal itu yang ibu maksud aku belum bisa memastikannya, nanti aku tunjukan pada ibu, namun jika senang, tentu aku selalu senang bukan ?" Balas Nara membuat Safira mengangguk dan tersenyum.
Safira senang jika Nara sudah tidak terbebani oleh keinginannya memiliki cucu. Safira juga sadar karena telah salah sudah mengatakan sesuatu hal yang membuat menantunya merasa tertekan karena ke inginannya memiliki cucu dari Nara dan juga Marcell.
Maka Safira dan Arya tidak akan membahasnya lagi, terlebih mereka baru 2 minggu menikah.
Nara menunjukkan hasil tesnya pada Safira dan Safira melihatnya dengan teliti.
"Samar?" Satu kata yang sama Nara ucapakan ketika pertama melihat hasilnya, dan Nara pun mengangguk.
"Ya sudah, kita periksa melalui dokter saja bagaimana?" Usul Safira
Nara menggelengkan kepalanya." Kita tunggu satu bulan saja, biar lebih jelas hasilnya, ibu tidak masalah?" Tanya Nara ragu karena takut jika Safira ingin cepat-cepat mengetahui hasilnya.
Safira tersenyum. "Baiklah, tapi kau harus menjaga pola makan mu, dan jangan terlalu lelah, tapi melihat ini ibu yakin dia akan segera ada disini!" Ucap Safira sambil menunjuk pada perut Nara.
"Semoga bu, lagi pula aku pun belum merasakan apa-apa seperti mual atau pun pusing yang di alami banyak wanita hamil lainnya, aku hanya ada perubahan di nafsu makan ku yang banyak!" Ucap Nara sambil tertawa geli mengingat jika dia kini banyak mau nya dan memakan makanan yang jumlah banyak.
__ADS_1
"Lebih bagus seperti itu, tidak ada mual dan hanya nafsu makan yang banyak!" Kekeh Safira karena dia pun sama saat mengandung Marcell yang tidak merasakan mual hanya di pola makan nya yang bertambah, untuk itulah dia sangat yakin jika Nara akan segera mengandung buah hati Marcell, cucu untuknya dan Arya.
Di ruang kerja Arya yang sedikit membicarakan bisnis nya pun telah selesai, karena Marcell sudah menjelaskan semua pada Reno hingga di saat nanti Arya
menggantikannya Reno tinggal menjelaskannya terlebih pada saat Arya akan bertemu dengan Miss. Rachel.
"Jadi kau akan mengajak istrimu berbulan madu kemana?"
Marcell tersenyum menatap ayahnya dan tidak ada niat untuk menjawab?"
"Ch, apa ruginya kau tidak memberitahu ayahmu ini
Marcell tertawa. " Aku yakin ayah sudah tahu dari Gio, maka jangan tanya lagi padaku?" Kesal Marcell yang membuat Arya tertawa.
Baiklah, ayah harap setelah kepulanganmu berbulan madu sudah ada kabar baik untuk kita!"
"Aku tahu, doa kan saja agar Nara cepat hamil." Pinta Marcell pada Ayahnya, dia pun juga memang berharap agar secepatnya di berikan seorang anak.
"Hmm, kami selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian!"
Arya pun memberikan sebuah amplop coklat pada Marcell dan Marcell pun menerimanya.
"Bukalah, itu hadiah untuk Nara berikan padanya Marcell pun membuka amplop coklat itu, dan disana ada sebuah sertifikat rumah di kota bogor dan tanah seluas 10 hektar.
"Ini, Villa yang waktu itu aku kesana bukan?"
Arya mengangguk. "Itu sudah ayah alihkan menjadi nama Nara istrimu, berikan padanya, ayah memberikan itu karena melihat Nara sangat menyukai pemandangan di kota bogor, atau mungkin pemasangan sebuah alam!"
Marcell mengangguk. "Terimakasih, aku akan berikan pada Nara. Mengapa tidak ayah yang memberikannya saja langsung pada Nara?"
__ADS_1
Arya menggelengkan kepalnya. "Melihat kepribadiannya ayah yakin dia akan menolaknya, untuk itulah biar kau saja yang memberikan nya pada istrimu, lagi pula itu sudah menjadi nama nya!" Marcell pun mengangguk mengerti.