
Nara pun tersenyum geli dan kembali menceritakan impiannya. "Aku bekerja keras untuk menghidupi ku sendiri, saat itu aku selalu dihina karena aku tidak seperti Wilona yang bisa memiliki segalanya, dan bahkan oleh pria tua yang aku anggap ayahku" Nara menjeda cerita nya dengan Marcell yang setia mendengarkan.
"Aku sejak dulu bertekad akan melebihi mereka, maka dari itu aku ingin bekerja di perusahaan besar, bahkan jika perlu aku ingin memiliki usaha sendiri, agar mereka melihat, orang yang mereka hina bisa menjadi orang besar yang membuat mereka berbalik tunduk padaku!"
Marcell tersenyum mendengar cerita istrinya "Kau sudah menjadi orang besar, menjadi istri dari CEO Admaja Company!"
Nara mengangguk dan tersenyum "Aku tidak ingin bekerja saat ini karena aku tahu aku sering istri,. meski aku ingin, itu hanya untuk mencoba rasa penasaranku, bagaimana rasanya menjadi pekerja kantoran" Lanjutnya sambil tertawa.
Marcell pun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya "Dan sekarang mimpimu terwujud kau bekerja di perusahan besar bahkan kau menjadi sekretaris hingga aku dapat sekertaris baru, asal itu tidak mengganggu kuliahmu, dan yang lebih penting kau tidak kelelahan?" Ucapnya sambil memberikan ciuman lembut di pipi istrinya dan Nara pun mengangguk mantap.
"Oh ya sayang, minggu ini kita akan resepsi, jadi lebih baik kau cuti dulu kuliah oke, karena pasti mama pun akan meminta seperti itu padamu?" Ujar Marcell membuat Nara mengangguk pasrah.
"Baiklah" Jawabnya.
"Sayang banyak yang ingin aku katakan padamu, tapi bisakah aku meminta sesuatu, seperti nya ini perlu diselesaikan lebih dulu!" Tanya Marcell penuh harap.
Nara berniat berdiri dari pangkuan Marcell, dia mengira Marcell sedang memiliki banyak pekerjaan, namun Marcell mencegahnya.
"Bukankah kau banyak pekerjaan, jadi biarkan aku duduk di sana ok!"
Marcell menggeleng "Ini adalah pekerjaan yang mesti kita berdua selesaikan, apa kau tidak merasa ada sesuatu yang keras di bawah sana ?"
Nara mencoba memahami apa yang Marcell katakan " Bawah sana ?" Setelah ia mengerti seketika matanya melotot.
"Ya ampun sayang bukankah ini di kantor!"
__ADS_1
"Lalu?" Jawab Marcell dengan tangan yang sudah memegang dua bukit kembar istrinya dengan lembut.
"Bagaimana jika ada yang lihat?" Tanya Nara dengan mencegah lengan Marcell yang bahkan ingin membuka resleting belakang baju Nara.
Marcell tertawa "Tidak akan ada yang melihat atau masuk, pintu itu hanya akan terbuka jika aku menekan tombol ini, jadi ayo kita selesaikan" Jawab Marcell dengan mengangkat tubuh Nara dan mendudukinya di atas meja.
Nara hanya pasrah dan lagi dia tidak bisa melawan keinginan suaminya, kini ia hanya mengikuti permainan suaminya dan juga dinikmati olehnya, dengan gerakan cepat Marcell, kini Nara sudah tidak ada lagi kain yang melekat di tubuhnya.
Marcell tersenyum dan mencium lembut bibir istrinya dan di balas oleh Nara, Ciuman yang awalnya lembut menjadi penuh gairah yang memabukkan, Nara yang duduk di atas meja dengan tangan yang mengalungkan di leher Marcell, dan tangan Marcell yang tidak berhenti meremas kedua benda yang sangat disukai oleh nya.
Tak lama suara ******* keluar dari sepasang suami istri itu, menyalurkan perasaan cinta yang terus terucap dan terus bertambah, Marcell berharap benih yang dikeluarkan akan tumbuh dalam rahim istrinya.
Marcell mengangkat Nara dan berpindah ke dalam kamar yang biasa ia tempati untuk beristirahat, Marcell menghujani Rahim istrinya untuk ketiga kali ini di dalam kamar ini, hingga ia melihat Nara sudah terlihat lelah.
Marcell berdiri dan memungut pakaian dirinya dan juga istrinya, membereskan kekacauan di dalam kantornya karena ulahnya sendiri, karena tidak mungkin jika ia harus menyuruh OB yang akan membuat istrinya malu, setelah itu ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena ia ingat jika Reno mengatakan rapatnya ditunda dan akan dilaksanakan ketika Marcell kembali.
Di kediaman keluarga Wijaya, Anaya tangah mendapatkan amukan dari Erick, suaminya. Pasalnya Anaya tidak mendengarkan apa yang sudah dikatakannya, untuk tidak bertindak gegabah.
"Aku tidak tahu jalan pikiranmu kemana Raya, mereka pasti akan memburu siapa yang telah menyebar berita miring itu" Hardik Erick pada Istrinya.
Anaya menggelengkan kepalanya dan menatap suaminya tegas. "Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku nanti, walau aku memang mengharapkan mereka tidak tahu akulah pelakunya. Namun, dengan hal ini aku bisa membalas sedikit penderitaan anakku"Geram Anaya dan bahkan tidak menyesal sama sekali.
Erick mengusap wajahnya kasar dan menatap nyalang istrinya." Apa kamu tidak bersabar sedikit saja, aku bahkan sedang membuat rencana"
"Nara, anak sial itu! Dia memiliki dukungan yang tidak bisa kita lawan dengan mudah, jika kau gegabah seperti ini, bukan hanya kau yang akan dihukum, namun perusahaan juga akan kena dampak akibat perbuatan bodohmu itu!"
__ADS_1
"Apa kau mau? perusahaan yang sudah susah payah kita bangun kembali bahkan harus mengorbankan Wilona, menjadi hancur kembali Hah!" Cecar Erick pada Istrinya yang langsung terdiam.
Anaya mengepalkan kedua tangannya, dalam batinnya ia membenarkan perkataan suaminya, namun melihat Wilona yang terluka dan hancur, dia tidak bisa menunggu seperti apa yang dikatakan Erick.
"Maaf" Satu kata yang lolos dari mulut Anaya yang sama sekali tidak membuat amarah Erick melunak.
Erick tahu istrinya hanya ingin dia tenang untuk saat ini saja, namun Anaya yang Erick tahu dia adalah wanita yang keras kepala, yang tidak bisa diatur begitu saja olehnya.
Erick kembali menatap tajam istrinya. " Jika mereka menangkapmu, maka aku benar-benar tidak peduli, kau yang melubangi jalur neraka sendiri Raya, bahkan anak mu pun sama-sama keras kepala, yang tidak tahu jika dia sendiri lah yang mungkin masuk ke dalam masalahnya sendiri!" Geram Erick yang langsung meninggalkan Anaya sendiri di dalam kamarnya yang terduduk di kursi ranjangnya.
Mendengar nama putrinya disebut, Anaya lekas berdiri mencari ponselnya untuk menghubungi Wilona, mengingatkan agar dia tidak bertindak bodoh seperti dirinya.
Anaya menghubungi Wilona, namun Wilona tidak mengangkat teleponnya, hingga entah sudah kesekian kalinya Anaya menyerah.
"Sayang, ibu harap kau tidak ceroboh. "Gumam Anaya.
Sedangkan Wilona yang tengah dikhawatirkan ibunya, di sela-sela istirahatnya, dia sedang tersenyum tipis dengan menatap ponselnya.
Setelah hari itu, Wilona saat meluapkan amarahnya, dia enggan menemui ibu dan ayahnya bahkan menghubungi mereka.
Menurutnya, penderitaan nya itu karena mereka, apalagi ibunya yang sejak awal memaksanya untuk menikahi Samuel.
Wilona meletakkan kembali ponselnya, dia sama sekali tidak ingin berbicara lebih dulu dengan ibu atau orang tuanya.
Batinnya masih merasa marah, terlebih orang yang selama ia benci selalu mendapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1