
Dekannya menjawab dengan anggukan kepala. Kinara, aku harap kau segera memberikan kami bukti. jika kau bukan wanita yang seperti diberitakan !" Kinara mengangguk mantap.
"Baik pak, saya akan buktikan jika berita itu tidak benar!" Jawab lantang Kinara.
"Bolehkah saya pamit sekarang?"
Dekan itu mengangguk, "ya, kau bisa pergi. Namun, demi kebaikanmu lebih baik kau pulang saja !" ujarnya dan Kinara pun mengangguk mengerti.
Kinara pun keluar dari ruangan Dekan nya, dan begitu terkejut mendapati suaminya ada di hadapannya bersama dengan asisten Daniel dan juga Citra sahabatnya.
"Marcell !" Ucap Kinara terkejut.
Marcell tersenyum. "Kau tak apa ?"
Kinara terdiam menatap Marcell, "tidak Marcell, kau sudah tahu?" tanya Kinara.
Marcell mengangguk," kita masuk kedalam, agar semuanya selesai sekarang!" Kinara pun tersenyum dan mengangguk.
Daniel dan Citra tidak banyak bicara membiarkan Marcell yang mengurusnya.
Sebelumnya, ketika Marcell dan Daniel baru tiba di kampusnya Kinara, banyak pasang mata yang melihatnya, krena begitu terkejut karena ada seorang CEO dari perusahaan terkenal mendatangi kampusnya.
Marcell dan Daniel bergegas menuju ruangan Dekan, karena mereka tahu jika Kinara kini sedang berada disana.
Citra yang melihat kedatangan Marcell ia tersenyum dan segera menghampirinya.
"Tuan Marcell !" panggilnya membuat Marcell berhenti dan menatapnya datar.
"Syukurlah tuan Marcell ada disini, aku sangat sangat khawatir !" Ucap nya.
Marcell tersenyum, kini ia ingat jika perempuan di depannya adalah sahabat darii istrinya, "kau tidak perlu khawatir, Kinara dia tidak akan apa-apa, aku akan segera menemuinya!"
Citra mengangguk, "dia ada di ruang Dekan, mungkin dia sedang di sidang"ucapnya sendu.
"Aku, tahu" Jawab Marcell singkat, dia benar-benar khawatir pada istrinya saat ini.
__ADS_1
Mereka pun melangkah menuju ruangan Dekan, berharap tidak ada sesuatu yang buruk padanya.
Saat tengah perjalanan, Dina melihat Citra berjalan dengan Marcell CEO yang tengah di perbincangkan oleh mahasiswa kampus karena kedatangnnya.
"Cit..?" panggilnya membuat Citra berhenti menatap Dina.
"Kau mengenal CEO itu?" tanyanya heran.
"Hmm, dia suami Kinara" jawabnya membuat Dina terkejut.
Melihat Dina terkejut, Cita menepuk bahu Dina. Kinara bukan seperti yang di beritakan !" ujarnya pada Dina yang masih terdiam. Namun, ia terlihat menganggukan kepalanya, walaupun dalam pikirnya, ia masih belum bisa mempercayai ini.
"Mengapa Kinara bisa mengenal? bahkan menikah dengan Marcell ?" Pikir Dina.
Mengabaikan Dina yang terdiam, Citra kembali melangkah menyusul Marcell yang sudah cukup jauh, ia sunggup sangat khawatir pada sahabatnya.
Saat ia baru sampai kampus ia sudah banyak di lontarkan banyak pertanyaan dari teman-temannya mengenai Kinara,
"Citra, ternyata kamu temenenan sama cewek tukang BO!"
"Kinara bukan wanita seperti itu, aku percaya padanya !" Kesal Citra.
"Lalu apa berita itu bohong ! dan kau lihat ! bahkan Dekan saja langsung turun tangan, aku tidak menyangka jika Kinara, dia demi merubah takdirnya sampai mau menaiki ranjang CEO, oh apa dia juga seorang pelakor!" Ucapnya nya sinis.
Citra hanya menggelengkan kepalanya, dia sangat mempercayai sahabatnya, tidak ada yang keluar lagi dari mulutnya, ia berbalik meninggalkan para mahasiswa yang ingin menayainya lagi, karena menurutnya, itu akan percuma selagi dia juga belum memiliki bukti.
Dindalam ruangan Dekan, mereka yang tengah berbincang, dikejutkan dengan kembali masuknya Kinara bersama seorang pria, dan ternyata itu adalah seorang CEO yang mereka tahu.
"Tuan Marcell !" Sang Dekan berdiri menyambut kedatangan Marcell, berserta ketiga dosen lainnya.
Mereka tentu tahu siapa Marcell, CEO dari perusahaan ternama Admaja Company, untuk itulah mereka sangat terkejut mendapati Marcell datang ke kampusnya, entah untuk tujuan apa.
"Mari Pak Marcell silahkan duduk !" Ujar salah satu Dosen mempersilahkan Marcell duduk.
Marcell pun memilih duduk di sofa panjang sambil menggandeng lengan Kinara, yang membuat Dekan dan ketiga Dosen itu heran, sedangkan Daniel ia memilih berdiri di belakang Marcell dan Kinara.
__ADS_1
Citra, dia memilih menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas.
"Mungkin kalian bingung mengapa saya ada disini ?" Marcell yang memulai berbicara dan mereka pun mengangguk membenarkan, namun belum ada kata yang keluar dari mulut mereka, karena mereka tahu Marcell belum selesai berbicara.
"Kedatanganku kesini tentunya untuk istriku, Kinara!" Lanjut Marcell sambil menggenggam tangan istrinya.
Sedangkan Kinara sejak tadi ia tertunduk, perasaanya takut dan gugup dan yang pasti malu.
"Jadi nona Kinara adalah istri anda ?" tanya salah satu Dosen meyakinkan kembali pendengarannya, dan Marcell pun mengangguk membenarkan.
"Nona Kinara, mengapa anda tidak memberitahu kami?" Tanya Dekan kampusnya.
Kinara menatap Dekannya, "jika aku yang mengatakannya, apa kalian akan percaya?"
Semua terdiam, membenarkan ucapan Kinara.
"Kami memang sudah menikah, namun kami memang belum mempublishnya, tapi bukan kami merahasiakan, hanya saja biar waktu yang jawab, namun nyatanya aku malah mendapatkan hal seperti ini" Lanjut Kinara sendu.
"Kami akan segera menggelar resepsi minggu ini, dan untuk berita itu, jelas istriku bukan wanita seperti apa yang diberitakan, aku sebagai suaminya akan menindak tegas siapa yang telah membuat berita ini" Ujar Marcell menambahkan.
"Baik, pak Marcell, kami mengerti dan bersyukur jika memang Nona Kinara bukan seperti yang diberitakan, kami memang belum memberikan keputusan apapun pada Nona Kinara, justru kami memberikan waktu pada Nona Kinara, agar membuktikan jika Nona Kinara tidak bersalah." Dekannya menjelaskan.
Marcell menatap istrinya, seolah ia meminta jawaban, dan Kinara mengangguk pada Marcell dengan tersenyum, membenarkan jika apa yang dikatakan Dekan nya benar.
Marcell bersyukur karena pihak kampus tidak gegabah dalam mengambil keputusan, jika tidak mungkin Kinara sudah di DO oleh pihak kampus dan menjadikan nama baik Kinara terus tercoreng.
"Baik, terima kasih jika begitu, dan saya harap anda bisa menekan berita ini di kampus agar mahasiswa anda tidak terus menggunjing istri saya, soal berita yang tersebar pihak saya yang sudah men takedown nya"
Dekan itu mengangguk tersenyum, "baik pak Marcell, kami akan lakukan. Namun, soal beasiswa, mohon maaf kami tetap tidak bisa, karena peraturan di kampus ini yang mendapat beasiswa tidak boleh menikah" ucap Dekan kampusnya yang terlihat menyesal.
Kinara adalah mahasiswa rajin dan berprestasi, bahkan tidak pernah mendapat skandal apapun, maka dia mudah mendapatkan beasiswanya, namun kali ini rupanya Kinara mendapatkan masalah dan bahkan melukai harga dirinya.
"Beasiswa?" tanya Marcell kembali.
Kinara yang mengerti jika Marcell belum mengetahui jika dirinya kuliah mengandalkan beasiswa pun menjelaskannya, hingga akhirnya Marcell pun mengangguk paham.
__ADS_1
"Tidak apa, saya akan membayar penuh biaya kuliah istri saya, saya hanya berharap berita ini bisa anda tekan di kampus, agar para mahasiswa tidak lagi membicarakan tentang istri saya yang bisa membuatnya terluka" ujar Marcell pada pada Dekan dan Dosen Kinara. Kinara mendengar itu terharu, ia tersenyum Marcell benar-benar peduli padanya.