
Esok harinya di pagi hari, semua orang tengah bersiap untuk acara peresmian atau pembukaan panti asuhan.
"kau siap sayang?" tanya Reno pada Citra.
"Aku gugup Reno," jawab Citra.
"Gugup, ? heran Reno dan Citra mengangguk.
Reno tersenyum dan memeluk Citra, "tidak perlu gugup, santai saja, lagi pula yang akan banyak pidato bukan kau sayang, tapi Marcel !"
"Ck, tapi mereka akan memperkenalkanku Reno, aku malu saja tidak biasa di perkenalkan seperti itu di depan orang banyak nanti," Reno terkekeh, "sudah santai saja, kita bersiap ke panti asuhan, oh ya, ku dengar dari Reno jika Wilona akan datang untuk meminta maaf pada Nara, sayang kau nanti temani dia ya, aku hanya khawatir jika Wilona akan berniat jahat kembali, dan Nara juga tidak tahu jika dia akan datang."
"Wilona, baiklah, ku harap dia sudah benar benar berubah," Reno pun mengangguk.
Disisi lain, Wilona dan juga Seni tengah mencari alamat sebuah panti asuhan, mereka sudah datang saat semalam dan menginap di hotel, dan pagi ini mereka mulai mencari alamat yang akan mereka datangi, sebuah panti asuhan yang akan diresmikan hari ini, dimana semua keluarga Marcel ada disana, dan Wilona akan datang menemui Nara untuk meminta maaf.
Nara tidak tahu jika Marcel mengundang Wilona ke acara persemian panti asuhan saat ini, dan akan membiarkan Wilona sendiri yang menemuinya nanti, tapi tentu saja masih dalam pengawasan nya juga Kayla yang selalu di sampingnya.
"Kau takut?" tanya Seni saat mereka sudah menemukan panti asuhan yang di maksud, namun mereka belum keluar dari mobil, dengan Wilona yang memperhatikan panti asuhan itu, yang masih mepersiapkan acara peresmian yang akan di gelar sebentar lagi.
"Tidak, aku hanya gugup, entah apa yang harus ku katakan nanti," jawab Wilona.
Seni mengangguk mengerti, Wilona memang tidak biasa untuk meminta maaf, sifat angkuh dan sombongnya sejak dulu memang tidak pernah bisa membuat Wilona meminta maaf pada orang lain.
__ADS_1
"Katakan saja kau menyesal dan minta maaf, dia juga akan mengerti," jawab Seni dan Wilona tersenyum tipis.
"Masih ada satu jam setengah, apa kita akan menunggu disini ?" tanya Seni.
Wilona melirik Seni, dan kembali merebahkan duduknya dengan menyenderkan kepalanya, "kita cari kafe sekitar sini, warung juga tidak masalah, aku ingin minum kopi," ujar nya dan Seni mengangguk.
Sebuah spanduk bertuliskan PANTI ASUHAN KASIH IBU terbentang cukup besar di sebuah dinding dimana tempat di selenggaranya acara peresmian panti asuhan yang akan di lakukan oleh Marcel dan juga Nara, bukan hanya sebuah spanduk, namun juga sebuah nama PANTI ASUHAN KASIH IBU pun di ukir di sebuah kayu yang di tempelkan di gerbang utama panti asuhan yang sudah terpasang rapih.
Semua tamu yang di undang telah hadir begitu pun dengan Wilona yang menunggu cukup jauh dari tamu yang lainnya, ia merasa malu jika harus menonjolkan dirinya.
Serangkaian acara demi acara telah di selesaikan, dari doa dan pidato singkat dari Marcel dan juga Citra, selaku yang akan bertanggung jawab atas panti asuhan ini, dan kini semua tamu juga para anak anak di panti asuhan ini sudah berbaur dan memakan semua hidangan yang tersedia.
Wilona bersiap, ia pikir ini waktu yang tepat agar dia untuk menghampiri Nara.
"Rara?" panggil Wilona dan Nara pun menolah, namun langsung di halangi oleh Kayla yang menjaga Nara dari Wilona yang mungkin saja bisa berniat jahat pada nona nya. Pikirnya.
Nara yang sedang bersama dengan Citra juga Sisca, terlihat bingung karena melihat Wilona kini ada di hadapannya, hingga Marcel mendekat dan menjelaskan pada istrinya di ikuti oleh Gio dan juga Reno.
"Aku yang mengundangnya sayang, bicaralah dengan nya," ucap Marcel.
"Marcel, kau mengizinkan dia berbicara berdua dengan Nara, tidak aku tidak mengizinkan !" Citra yanh marah karena Marcel malah akan membiarkan Nara bersama dengan Wilona.
Wilona dan Seni hanya diam, mereka tidak berani berbicara lebih banyak lagi, yang mungkin malah akan membuat suasana semakin panas, mereka menunggu keputusan Marcel dan Nara, apa mereka percaya padanya, pikir Wilona
__ADS_1
"Tenang lah, di wilayah ini banyak bodyguard the Admaja, dan aku juga yakin jika Wilona sudah benar-benar berubah," ucap Marcel yang di tatap oleh Nara dan lalu tersenyum.
"Sudah tidak apa, suamiku sudah bilang jika itu tidak akan ada masalah, jadi biarkan aku berbicara dengannya, kalian bisa melihat ku sedikit jauh, jika memang mengkhatirkan ku," ucap Nara yang mau tidak mau Citra dan Sisca akhirnya menyetujuinya dan bergabung dengan suami mereka.
Begitupun dengan Marcel yang ikut mengawasi Nara cukup jauh, karena dia ingin memberikan waktu untuk Wilona dan juga Nara.
Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, dimana kini Nara sedang bersama dengan Wilona, duduk berhadapan dengan meja berukuran kotak berada di hadapannya, sedangkan Seni ia memilih menunggu di luar dan membirkan mereka berbicara.
"Kau menemuiku, dan apa yang ingin kau katakan ?" tanya Nara.
Wilona menatap Nara, " pertama aku ingin meminta maaf atas semua yang sudah aku lakukan, juga maaf atas dosa kedua orang tuaku, kami benar-benar menyesal," ucap Wilona dengan menundukkan kepalanya.
Nara pun tersenyum, "kau benar-benar menyesal, dan apa kau tidak akan mengulang lagi kesalahan seperti dulu, entah pada siapa pun itu,?" Wilona mengangguk mantap.
"Ya, aku sedang berusaha untuk berubah menjadi lebih baik," balas Wilona.
"Itu bagus, aku senang mendengarnya, dan aku sudah memafaakan mu, hiduplah dengan baik Wilona, kau masih saudara ku bukan, itu jika kau masih menganggap ku sebagai saudaramu,"
Wilona mendongkak dan menatao Nara dengan mata yang berkaca-kaca, wanita di hadapannya, sangat mudah memaafkannya, bahkan masih menganggapnya sebagai saudara, "masih, kau masih saudara ku, terimaksih kau sangat baik Ra," ucap Wilona dengan air mata yang menetes.
"Aku tidak suka membahas masa lalu, jadi lupakan yang sudah berlalu, mari kita mulai awal yang baru Wilona, "Wilona mengangguk setuju.
"Dan yang kedua, aku sangat berterimaksih pada mu dan juga Marcel, karena ternyata kau masih memikirkan hidupku, jika tidak, aku tidak tahu hidupku akan seperti apa saat ini," Nara tersenyum.
__ADS_1
"Itu memang hak mu, aku tidak mau hidup dengan keserakahan," balas Nara yang langsung menusuk ke hatinya merasa tersindir.
Wilona yang dululah yang menjadi orang yang serakah, orang serakah yang malah menjadikan nya orang yang paling sengsara saat ini, sedangkan orang yang menjadi targetnya saat itu, Wilona yang berjuang untuk merampas apa yang dia miliki dengan cara apapun, kini malah hidup dengan kebahagian, uang dan juga kehormatan, bahkan Rafadya kini di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, yang sangat berbading terbalik dengan dirinya saat ini, tidak ada satu orang-orang pun yang peduli, tidak bukan tidak ada, ada dan hanya satu orang yang peduli padanga juga bisa merubahnya, orang yang baru ia kenal, Seni.