
Reno dan Gio pun berdiri di ikuti Nara dan Marcell. "Kau tunggulah disini, biar aku yang mengantar mereka!" Ujar Marcell dan Nara hanya mengangguk saja.
"Kak Gio, Kak Reno, terima kasih!" Ucap nya tulus.
"Sama-sama nona, ini sudah tugas kami, dan lagi kami masih berusaha mencari tahu semuanya !" Jawab Gio.
"Benar, kau tidak perlu khawatir lagi, baiklah kami pamit!" Ucap Reno.
Nara hanya tersenyum dan membiarkan Marcell yang mengantar kedua orang itu sampai ke depan pintu.
Nara memilih memasuki kamarnya, dia ingin merebahkan dirinya di pembaringan, lalu ia teringat akan sahabatnya, Citra. Jika dia sudah berjanji akan menghubunginya, Nara lantas mencari ponselnya, yang berada di atas nakas, dan benar saja disana sudah ada beberapa panggilan dari Citra, Nara tersenyum dan berpikir jika Citra tengah mengkhawatirkannya.
Nara kembali ke ranjangnya dan duduk dengan menyandarkan badannya, dengan kaki yang terlentang, ia pun mulai memencet tombol hijau dan menghubungi Citra.
Tak lama sambungan telepon pun tersambung.
Citra: Ya ampun... Ra, kemana aja sih, aku khawatir tau ga?
Nara terkekeh mendengar kekesalan Citra.
Nara: Maafkan aku, aku lupa menghubungimu.
Citra: Astaga bagaimana bisa lupa, lalu bagaimana denganmu, apa kau baik-baik saja?
Nara: Aku baik-baik saja Cit, tidak usah khawatir.
Citra: syukurlah! kau tahu Ra, dikampus benar- benar heboh, bahkan ka Erick pun terus menanyakanmu, ia hampir tidak percaya, jika CEO Admaja Company adalah suamimu! Dan sepertinya Erick, dia terlihat bersalah karena sudah memikirkan mu yang tidak - tidak !
ok!"
Nara: Ya biarkan saja, Cit nanti aku hubungi lagi
Citra: Ck, padahal banyak yang ingin aku bicarakan padamu Ra, tapi ya sudah, karena ini sudah malam juga.
Nara: Baiklah, besok aku sudah cuti dari kampus nanti kita bertemu saja, aku akan menghubungimu!
Citra : Ok!
Nara tersenyum dan telepon terputus, Nara menutup teleponnya karena Marcell kini tengah berbaring di pahanya.
__ADS_1
"Mengapa di matikan, aku mengganggumu kah?"
Nara menggeleng." Tidak Marcell, akan lebih baik jika kita bertemu saja, jika di telpon mungkin akan berjam - jam." Jawab Nara sambil terkekeh, karena Citra selalu banyak hal yang dibahas.
Marcell memiringkan tidurnya dan menciumi perut istrinya."Ku harap benih ku akan cepat tumbuh disini!" Harap Marcell dan Nara mengangguk.
"Marcell, jika aku tidak bisa hamil, apa kau akan meninggalkanku !" Tanya Nara khawatir.
Marcell menatap Nara. " Sayang, insya allah kau akan hamil, dan lagi kita tidak bisa mendahului tuhan, kita hanya bisa berusaha dan berdoa, jikalau pun kau tidak bisa hamil, aku kan tetap menyayangimu, dan tidak akan pernah meninggalkanmu!" Jawab Marcell.
Nara tersenyum, ia menganggukan kepalanya." Aku harap tuhan akan secepatnya memberikan anak untuk kita!"
"Aamiin! Oh ya Ara, aku lupa memberitahumu, jika mungkin acara bulan madu kita akan ditunda lebih dulu, karena Reno akan mengurus perusahaan sendiri, karena sekretaris mengundurkan dirinya, kau tidak apa kan?"
Nara mengangguk tidak mempermasalahkannya ." Tidak apa Marcell, aku mengerti, lagi pula di mana saja sama bukan?"
Marcell tersenyum."Hmn terima kasih, nanti jika sekretaris ku sudah ada, kita bisa berlibur lagi, sekarang bolehkah aku menanam benihku lagi, agar dia bisa cepat tumbuh !" Tanya Marcell sambil tersenyum pada Nara..
Nara tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju, dan membuat Marcell senang.
Nara berpikir jika hanya ini lah, hal yang bisa membalas kebaikan Marcell, dan berharap juga dia bisa memberikannya kabar bahagia tentang kehamilannya.
Pagi hari, Nara sudah bersiap akan bersiap akan pergi ke mansion tinggal bersama kedua orang tua Marcell.
"Sayang kau sudah menghubungi ibu ?" Tanya Nara.
"Sudah, kau tidak perlu khawatir mereka bahkan senang jika kau akan tinggal disana!"
Nara tersenyum dan mengangguk." Maaf, aku tidak bisa membantumu di perusahaan !"
Marcell yang tengah bersiap menghampiri suaminya, dan meminta untuk di pasangkan dasinya. "Tidak apa, lagipula jika kau di perusahaan aku hanya akan ingin terus dekat denganmu." Jawab Marcell terkekeh.
Nara berdecak kesal, memang benar apa yang dipikirkan Marcell, bahkan kemarin saja Marcell tidak melepasnya, dan malam tadi pun demikian, sehingga ia terlambat bangun dan tidak menyiapkan sarapan pagi.
Nara tidak mengerti, mengapa Marcell jika di dekat nya, terus saja meminta haknya.
"Kita sarapan dulu, maaf aku hanya menyiapkanmu roti !"ucap Nara.
"Tidak apa aku mengerti. " Ucap Marcell sambil mencium kening Nara.
__ADS_1
Di meja makan, sesuai yang dikatakan Nara jika mereka hanya memakan roti panggang yang dimasak oleh Nara.
"Sayang, bolehkan siang ini ku menemui Citra ?" Tanya Nara dan meminta izin pada Suaminya.
Marcell terdiam dan sedikit berpikir. "Lebih baik Citra suruh datang ke mansion, aku tidak mau ada sesuatu yang buruk padamu.!"
Nara pun hanya mengangguk dan pasrah dengan keputusan suaminya, dan lagi itu memang demi kebaikannya.
Apartemen Wilona.
Erick yang semalam terkejut melihat kondisi anaknya, dia tidak menyangka jika Samuel bisa memperlakukan hal ini pada Wilona.
Wilona anak yang selalu dimanjakan, kini ia melihat Wilona dengan tubuh yang penuh lebam bahkan luka di sudut bibirnya.
Jika tidak memikirkan perusahaannya, maka ia sudah dipastikan jika Samuel akan menerima amukkannya.
Wilona,, kini suhu badannya panas, padahal semalam suhunya tidak sepanas ini.
Erick panik dan dengan segera membawanya ke rumah sakit.
Keadaan keluarga Wijaya kini benar-benar kacau, Anaya yang berada di kantor polisi dan juga Wilona yang disiksa oleh Samuel karena kesalahannya.
Kini Wilona sudah berada di rumah sakit, kamar VIP yang dipilih Erick, agar anaknya mendapat pelayanan yang lebih bagus.
Erick, masih setia di samping Wilona, dengan perasaan kacau, memikirkan istri dan anaknya, bahkan perusahaan yang kini ia tinggalkan.
Tak lama Wilona terbangun, ia menatap sekeliling nya dan mendapati ayahnya ada di sampingnya yang terlihat tersenyum padanya, dan lalu menyadari jika kini ia berada di rumah sakit.
Wilona, dia ingat saat malam ayahnya datang, dan dengan susah payah dia bangun untuk membuka pintu apartemennya, ayahnya datang seorang diri, dan tidak bersama dengan ibunya. Wilona yang lemah memilih tidak bertanya lebih dulu dan memilih beristirahat, yang dibantu oleh ayahnya yang terlihat menahan amarahnya pada Samuel.
"Kau bangun, kau sudah baikkan ?" Tanya Erick.
Wilona mengangguk." Dimana ibu !"
Erick terdiam ia bingung harus mengatakan apa.
"Polisi, apa mereka menangkapnya ?"
Mendengar itu Erick terkejut ia tidak menyangka jika Wilona tahu akan hal ini.
__ADS_1
Melihat ekspresi Erick, Wilona hanya tersenyum miris.