Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 182


__ADS_3

"Shh.. Sakit Hubby.." lirih Nara membuat Marcel semakin panik dan khawatir.


"Marcel cepatlah !" ujar Marcel pada Marcel yang membawa mereka. Marcel mengangguk saja dan mengikuti apa yang di inginkan tuannya, karena kebetulan juga jalanan terlihat sepi.


Tak lama mereka sampai dan mereka sudah di sambut oleh pihak rumah sakit, karena Safira yang sudah lebih dulu menghubungi pihak rumah sakit agar segera bersiap ketika Nara tiba.


Nara pun di bawa ke ruang bersalin, karena memilih untuk melahirkan secara normal, di temani Marcel yang berada di sampingnya.


Dokter wanita datang dan memeriksa keadaan Nara," bagus, pembukaan sudah lengkap, persiapkan semuanya, nona siap, ikuti instruksi dari saya ya," ujar Dokter tersebut yang di angguki oleh Nara.


Sementara Marcel yang tidak pernah melepas tangannya dan terus menggenggam tangan Nara, seolah menyalurkan kekuatannya untuk Nara agar semakin kuat dan bisa melalui ini.


Sementara Arya dan Safira yang juga sudah sampai di rumah sakit, menunggu dengan khawatir di luar ruangan bersalin, berharap keduanya, ibu dan anak bisa selamat dan sehat.


Tak lama mereka pun mendengar suara tangisan bayi yang cukup kencang, membuat Safira dan Arya mengucap syukur, dan mereka kini tinggal menunggu bagaimana kabar keduanya.


Di dalam ruangan, sama halnya dengan Safira dan Arya, Marcel lebih lebih sngat bersyukur hingga meneteskan air matanya, atas lahirnya anak pertama mereka, bayi laki laki yang terlihat tampan yang terlihat tertidur dengan lucunya berada di atas dada Nara yang juga terlihat menangis haru, karena kini ia sudah menjadi seorang ibu.


Setelah proses lahiran yang lancar, kini Nara berada di ruang perawatan, dimana sudah ada Citra dan juga Sisca, yang memberi selamat atas lahirnya anak pertama Nara dan juga Marcel.


"Tampan sekali," puji Sisca yang membuat Nara tersenyum, Sisca yang mengambil alih anak Nara dan Marcel.


"Tentu tampan, dia anakku !" jawab Marcel yang berada di samping Nara dan semua pun tertawa.


"Setelah aku, sebentar lagi giliranmu, lalu Citra," ucap Nara sontak membuat Sisca tersenyum begitupun Citra.


"Hmm 2 bulan lagi, semoga semua nya lancar," balas Sisca dan Citra pun mengangguk.


"Benar, kau 2 bulan lagi, sementara aku masih berusia 4 bulan masih harus menunggu 5 bulan lagi, oh aku sudah tidak sabar menggedong seorang bayi seperti mu, "ucap Citra, membuat Reno memeluknya pingganya dengan mesra.


"Bukan kah kau sering menggendong bayi," balas Nara karena Citra di panti asuhan seting mangsuh anak yang masih bayi.


"itu berbeda, inikan anaku sendiri, " balas Citra, meski di dalam panti asuhan pun semua anak disana di anggapnya sebagai anak, maka tak heran jika anak anak di panti asuhan memanggil dirinya dengan sebutan bunda. Berbeda dengan Nara yang di panggil sebagai Ibu oleh anak anak panti, namun bukan berarti mereka membedankan hanya saja sebutan seorang ibu cukup banyak bukan? Ibu kedua buat mereka, karena Citra yang sering berada di panti asuhan dan Nara yang hanya sesekali di tiap minggu mendatangi panti asuhan.


Nara terkekeh, " ku harap setelah mereka lahir, akan berteman seperti kita," harap Nara yanhg di amini semuanya.


"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?" tanya Gio yang sejak tadi terdiam.


Nara melirik ke arah Marcel, karena suaminya lah yang telah menyiapkan nama untuk anak mereka.


Marcel tersenyum pada Nara, " Brian Alexander Admaja."


5 tahun barlalu, seroang anak kecil terlihat berlari menghampiri kedua temannya, yang bernama David dan juga Darwin.


"Brian, kau mau kemana nak?" panggil seorang wanita paruh baya dengan perut membesar, sedang mengandung anak keduanya, Nara.


"Aku mau ke panti bu, bersama dengan David dan Darwin,"ucap nya dengan gemas.


"Siapa yang menemani kalian?" tanya Nara.


"Tante Kayla." jawab Brian lagi.

__ADS_1


Sedangkan Kayla yang berada di sisi Nara terlihat terdiam, karena ia tidak tahu jika akan menemai tuan kecilnya ke panti asuhan.


Nara terkekeh, "jangan tante Kayla, tunggu, ayahmu David akan segera kemari untuk menjemput kalian," ucap Nara.


"Ayah tidak menjawab telepon ku," balas David pada Nara.


"Tidak karena ayahmu sudah berada disini, ayo kalian ingin ke pantin asuhan, ?" ajak Reno yang sudah berada di hadapan mereka.


Brian, Davin dan juga Darwin pun dengan antusias mengikuti Reno, ayah dari David.


"David aja teman temanmu menunggu di mobil, ayah mau bicara dulu dengan ibu Brian !" ujar Reno pada David yang di angguki olehnya, merekapun berlaribke arah mobil Reno dan menunggu di mobil.


"Marcel belum kembali ?" tanya Reno pada Nara.


Nara menggeleng, " besok dia kembali, "jawab Nara, karena memang Marcel sedang berada di luar kota.


"Baguslah, aku khawatir, Marcel tidak akan menemanimu melahirkan, dia bertambah sibuk saja."


Nara terkekeh, " besok di pulang, karena memang pekerjaan nya sudah selesai, kau tidak perlu khawatir Reno,"


Reno mengangguk," aku hanya menyampaikan pesan dari istriku dia selalu bertanya padaku, kapan suamimu kembali, karena kandunganmu sudah menginjak 9 bulan, dan ya, dia akan kemari sore nanti,' balas Reno dan Nara mengangguk mengerti.


"Baiklah, aku pergi, anak anak sudah memanggilku," pamit Reno dan Nara kembali mengangguk.


"Kay, suamiku memang semakin sibuk, tapi dia selalu menyempatkan untuk menghubungin ku," ucap Nara pada Kayla.


Kayla mengangguk dan tersenyum," perusahaan yang di kelola tuan bertambah maju, bahkan perusahaan Kim Meshaa sudah membuka cabang disini," balas Kayla.


Nara tersenyum, " kau benar, ah aku merindukan suamiku, oh ya Kay, kau tahu mengapa Brian sangat senang berada di panti ?" tanya Nara karena ia tahu pada awalnya Brian sangat tidak suka berada di panti asuhan, Brian anak yang tidak suka kebisingan, dan panti tempat dimana banyak nya anak anak yang berlari kesana kemari dengan ramai.


"Kay, Brian masih berusi 5 tahun, apa dia sudah tahu soal cinta ?" tanya Nara.


"Mungkin belum nona, tapi karena tuan kecil suka bermain dengannya, menurutnya Keyra berbeda dengan anak wanita lainnya, yang suka berisik," ucap kayla bercerita pada Nara ketika ia bertanya pada Brian mengapa senang berteman dengan Keyra.


"Keyra, namanya Keyra ?" taya Nara pada Kayla meyakinkan. Kayla pun mengangguk.


Nara tersenyum," aku jadi ingin lihat bagaimana Keyra."


"Nanti nona kesana, jika sudah melahirkan, tuan Marcel tidak mengizinkan nona berpergian, meski ke panti asuhan," ucap Kayla mengingatkan.


"Aku tahu Kay, tidak usah mengingatkan ku lagi," balas Nara berdecak kesal, sedangkan Kayla hanya tersenyum saja.


Esok harinya, Marcel yang sudah kembali sejak semalam, dan kini mereka tengah bersiap ke rumah sakit, karena nyatanya saat ini Nara sudah mulai merasakan kembali kontraksi akan melahirkan.


Marcel membawa Nara di temani oleh Safira, sementara Arya berada di rumah menjaga Brian.


Shakilla Cassidy Admaja, anak kedua Marcel dan Nara, melengkapi keluarga mungil mereka, Brian pun sangat senang karena kini ia meiliki seorang adik.


"Killa, kakak janji akan jadi kakak yang baik, tapi kamu jangan jadi adik yang suka belisik," ucap Brian membuat semuanya tertawa.


"Brian, Killa masih bayi, jadi wajar jika akan menangis kencang," ucap Nara lembut pada Brian.

__ADS_1


Brian mengangguk," Blian tahu bu maksudnya kalo udah besal," balasnya, dan Nara pun tersenyum begitupun dengan Marcel.


"Aku juga akan jaga Shakilla," tambah David.


"Aku juga," lanjut Darwin.


Citra, Reno, Sisca, Gio, Safira dan juga Arya yang berada dalam ruangam itu terlihat tersenyum..3 pria kecil dan tampan yang sudah berjanji akan melingdungi Shakilla, adik mereka.


Beberapa hari berlalu, dimana Brian kini sedang bersama dengan Keyra.


"Kamu udah punya ade bayi ya?" tanya Keyra.


Brian mengagguk, " Shakilla, namanya cantik kan?" tanya Brian.


"Shakilla, cantik, seneng ya punya adik, oh ya Ica juga mau punya keluarga loh," ucap Keyra pada Brian.


"Keluarga? disini kan keluarga Ica ?" tanya balik Brian yang di jawab gelengan kepalanya.


"Aku mau di angkat anak, sama ibu dan ayah yang tinggal di jakarta, besok aku ga bakalan ada disini lagi," ucap Keyra senang, karena kini gilirannya mendapat orang tua baru, seperti kakak dan adiknya yang lain yang sudah di adopsi.


Keyra meski masih berusia 5 tahun, namun ia sudah pintar melihat situasi, diaman dia anak yatim piatu yang juga menginginkan sebuah keluarga layaknya Brian yang memiliki ibu dan ayah, dan ketika ia dengan jika ada sepasang suami dan istri ingin mengadopsi nya, itu membuat ia bahagia.


Berbeda dengan Keyra yang senang, Bria yang mendengar perkataan Keyra, sontak membuat Brian pun bersedih, "nanti kita ga bisa main baleng lagi ?"ucap Brian pada Keyra yang tersenyum padanya.


"Ayo kita buat perjanjian ?" ucap Keyra pada Brian.


"Perjanjian ?" tanya balik Brian yang heran Keyra mengajak nya membuat perjanjian


Keyra mengangguk," Brian, kamu teman pertama aku disini, karena yang lain ga mau temenan sama aku, jadi ketika dewasa nanti, ayo kita bertemu dan menikah," ucap Keyra yang tidak juga begitu mengerti dengan perkataanya sendiri begitu pun dengan Brian, namun mereka tahu, jika menikah itu seperti ibu dan ayah Brian yang akan selalu bersama.


Brian menganggu," ayo, kau tidak boleh berbohong ya, kita harus bertemu nanti jika sudah dewasa, aku akan pergi ke jakarta dan menemui mu nanti," ucap Brian di angguki oleh Keyra.


"Brian, kenapa sayang ?" tanya Nara sambil meletakkan Shakilla ke tempat tidurnya, ia begitu heran melihat Brian yang terlihat bersedih.


"Keyra mau di adopsi bu, "jawab Brian.


Nara tersenyum, kini ia mengerti mengapa Brian terlihat bersedih, " lalu kenapa kamu sedih, harua seneng dong, karena Keyra akan punya keluarga yang sayang sama Keyra," ucap Nara membuat Brian terdiam.


"Tapi Brian ga bisa ketemu dan main bareng lagi?" jawabnya.


Marcel pun ikut mendekat pada Brian setelah sejak tadi sibuk dengan laptopnya.


"Hey jaogannya ayah, ga boleh sedih, kamu harus seneng, Keyra juga seneng bukan, justru nanti kalo kamu sedih, Keyra ikut sedih loh, Brian mau liat Keyra sedih dan ga jadi punya keluarga?"


Brian pun menggelengkan kepalanya, "engga, Icabudah seneng mau punya yah sama ibu kaya Brian,'bjawabnya membuat Marcel dan Nara tersenyum.


"Jadi anak ayah ga boleh sedih ya," ucap Marcel sekali lagi.


Brian mengangguk dan tersenyum begitu pun dengan Nara.


Kita akan ketemu lagi kan, seperti janji kita?

__ADS_1


End .jangan lupa untuk di vote ya Readers


mampir kekarya author yang lain


__ADS_2