Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 90


__ADS_3

Safira sudah membeli beberapa tas dengan berbagai merk ternama, bahkan Nara dan juga Citra di belikan olehnya, namun menurutnya itu masih kurang, dengan alasan dia sudah belasan tahun tidak membeli tas seperti ini, meski memang Safira tidak suka belanja tapi sekali nya belanja dia akan menghabiskan puluhan bahkan ratusan juta.


Nara hanya melongo melihat mertuanya bisa dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli sebuah tas.


"Bu, ibu sudah membeli banyak tas, bahkan berbagai merk, apa ibu berniat mengkoleksi nya?" Tanya Nara pada Safira membuatnya tertawa.


Safira yang tertawa mendengar perkataan menantunya dan juga ia mengangguk membenarkan perkataan Nara. "Hmm ide bagus, ibu akan mengkoleksi tas tas ini, ayo kau juga beli yang banyak, kita habiskan uang suami kita, dan kita akan buat koleksi tas tas ini di mansion!" Ujarnya membuat Nara mendesah pelan.


Nara menggelengkan kepalanya. " Apa ibu tida ingat, sebelum ini Marcell sudah membelikan banyak barang untuk ku, termasuk tas yang mungkin satu toko dia beli !" Desis Nara membuat Safira terkekeh.


"Itukan menggunakan uang Marcell, bukan uangmu sendiri yang sudah Marcell berikan padamu, ibu yakin Marcell tidak memberikanmu uang sedikit, jadi belilah apa yang kau mau !" Ujar Safira membuat Nara kembali menggelengkan kepalanya.


Nara benar-benar tidak mengerti dengan pola pikir ibu mertuanya, jika mertua yang lain mungkin akan menyuruhnya berhemat dan ini, Safira malah menyuruhnya untuk menghabiskan uang suaminya.


Safira terkekeh gemas melihat ekspresi Nara, setelah nya ia tersenyum karena melihat dua orang yang mereka tunggu akhirnya tiba.


"Bu, kau membuat istriku lelah, untuk apa pergi ke salon jika setelahnya dia kembali berkeringat!" Kesal Marcell dengan tiba-tiba mengejutkan Nara.


Marcell yang melihat Nara seperti kelelahan, membuatnya kesal pada ibunya, dan membuat Safira memutar bola nya malas.


"Jangan marahi istriku Marcell !" Kesal Arya pada Marcell yang sedang berdecak kesal pada Safira sambil merangkul Nara dan Arya yang juga memeluk pinggang Safira yang tersenyum padanya.


"Hubby aku tidak lelah, jangan kesal pada ibu, itu tidak baik, aku hanya bingung karena ibu menyuruhku menghabiskan uangmu!"


"Benarkah, lalu mengapa kau bingung, seharusnya kau senang!" Ucap Marcell tersenyum.

__ADS_1


"Ck, lihat kan, istrimu tidak lelah, ibu sudah baik membujuknya untuk menghabiskan uang yang kau berikan, karena ibu lihat dia tidak pernah memakai uang yang kau kirim !" Ujar Safira kesal ada anaknya.


Marcell tersenyum tipis. "Ya bu terimakasih, tapi juga jangan ajarkan istriku untuk boros !" Balasnya membuat Safira terkekeh karena dia memang tidak benar-benar kesal.


"Sudah, ibu hanya menyetujui idenya untuk memgkoleksi tas tas ini !" Ucao Safira membuat kedua mata Nara membola.


"Bu aku hanya bertanya mengapa menjadi mengusulkan !" Kesalnya karena takut jika Nara akan disalahkan, namun Safira dia hanya tertawa melihat ketakutan Nara.


"Sudah-sudah cukup berbicaranya, kalian tidak sadar jika sejak tadi sudah menjadi pusat perhatian!" Ucap Arya menghentikan perdebatan tidak berguna ini.


Mereka pun sontak menatap sekelilingnya setelah mendengar perkataan Arya, dan benar saja saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian karena mendebatkan hal yang tidak berguna.


Bagi mereka hal ini perdebatan yang tidak berguna, namun bagi mereka ini suatu hal yang luar biasa, karena mereka kini melihat jika ada orang yang bisa membeli tas bermerk dengan jumlah banyak dalam satu waktu, bahkan tidak di larang oleh suami mereka, hal yang luar biasa bukan? Dan itulah yang di rasakan Nara yang masih belum bisa beradaptasi dengan hidup mewahnya.


Namun setelah mereka mengetahui siapa yang tengah mereka lihat yang ternyata adalah pemilik perusahaan ternama, Admaja Company maka mereka pun mengerti, namun kini mereka menjadi sangat penasaran dengan kekayaan yang di miliki oleh keluarga Admaja sebanyak apa ?


Setelah makan malam mereka kembali berbincang dan Safira yang mengawali percakapan mereka. "Mulai besok kalian jangan pergi ke luar rumah, untuk menghindari sesuatu hal yang tidak di inginkan !"


Nara mengangguk namun tidak dengan Marcell."Aku kan harus ke perusahaan bu !" Balasnya.


"Biar ayah yang menggantikan mu, kau diamlah di rumah bersama istrimu!" Ayahnya yang ikut berbicara.


Marcell mengangguk semangat, dia senang bisa berduaan dengan istrinya di mansion.


"Tapi kau jangan membuatnya lelah Marcell, ingat dia akan menerima banyak tamu !" Ayahnya yang mengerti pikiran Marcell dan Marcell hanya mengangguk sambil terkekeh.

__ADS_1


Bagi Marcell jika terus bersama Nara dia tidak akan bisa menahan dirinya, entahlah baginya istrinya membuatnya candu, bisakah dia menahannya. Pikir Marcell.


Safira dan Nara hanya tersenyum namun juga merasa malu mendengar perkataan Arya.


"Ibu dan ayah berharap kalian akan langgeng sampai maut memisahkan, harus saling percaya dan terbuka, itu kunci utama hubungan awet, dan juga kami harap kalian akan cepat di beri momongan, seorang anak, atau dua lebih bagus !" Ucap Safira sambil terkekeh dan Arya mengangguk setuju atas perkataan istrinya.


Marcell dan Nara tersenyum. " Do'akan saja bu, semoga kami bisa segera memberikan cucu untuk kalian." Ucap Nara dan mereka pun mengangguk tersenyum.


"Aku akan terus berusaha agar Marcell atau Nara junior segera hadir bu !" Ucap Marcell menambahkan.


Safira mengangguk " Ibu tidak sabar adanya seorang anak kecil di mansion !" Ucapnya dengan girang.


Nara hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu mertuanya, dalam hatinya ia merasa risau atau khawatir, bagaimana jika dirinya tidak bisa melahirkan seorang anak.


Apa aku bisa hamil, ya tuhan semoga aku dan suamiku bisa cepat di karuniai seorang anak.


Nara benar-benar takut jika dia tidak bisa mengandung seorang anak, apa dia akan di ceraikan oleh Marcell nantinya, dia benar-benar merasa takut jika suatu saat Marcell akan mencampakkannya, jika dirinya tidak bisa memberikan seorang anak.


Mereka pun akhirnya pulang ke mansion, dengan menaiki dua mobil yang berbeda. Di dalam mobil Marcell memperhatikan Nara yang terlihat terdiam.


"Sayang, kau lelah ?"


Nara yang tengah melihat ke arah luar jendela lalu menoleh dan tersenyum pada Marcell. "Hmm, aku sedikit lelah." Jawabnya tidak bersemangat.


Apa aku harus membicarakan hal ini pada Marcell.

__ADS_1


Marcell menarik Nara lembut untuk mendekat padanya. Nara yang mengerti menggeser sedikit dan menempel pada Marcell yang sambil menyetir.


Marcell mengelus tangan Nara dengan sebelah tangannya. "Bicaralah jika ada sesuatu yang menganggu pikiranmu, aku tidak ingin kau menyimpan apapun itu sendiri!" Ujar Marcell yang tahu jika mungkin istrinya sedang memikirkan sesuatu.


__ADS_2