Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 155


__ADS_3

Bogor.


Rencana keberangkatan Nara ke kereta telah rampung, Nara pun bersiap terangkat yang akan di temani oleh Kayla dan juga pengawalan yang cukup ketat.


Citra, dia memilih tidak ikut karena tugas kuliahnya yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Kay, kamu jangan jauh dari ku yah, aku merasa takut saat ini !" Ujar Nara pada Kayla yang mengangguk mengikuti keinginan bos nya ketika sudah di pesawat.


"Mengapa nona merasa takut, apa yang nona pikirkan ?" Tanya Kayla mencoba membuat Nara merasa tenang.


"Entahlah, namun ku rasa aku merasa takut dan gugup, jika aku akan bertemu keluarga ku di sana, takut jika mereka tidak suka melihat ku, gugup, karena bingung apa yang harus aku lakukan !" Ucap Nara membuat Kayla terdiam.


Kayla mengerti bagaimana perasaan Nara, karena sudah sejak lama ia tidak mengenal keluarga nya. Lalu saat ini, ia akan bertemu dengan mereka, tentu perasaan nya merasa tidak karuan.


"Jangan khawatir, bukan kah ada tuan Marcel. Tuan Marcel akan membantu dan menjaga nona." Ucap Kayla membuat Nara tersenyum tipis.


"Hmm kau benar, Kay, menurutmu apa yang membuat mereka sulit menemukan ku. Apa karena memang tidak mencariku?" Tanya Nara kembali, karena dalam benak nya kini banyak sekali pertanyaan akan mereka, terutama kedua orang tuanya, mengapa jasad mereka di bawa ke korea.


"Kayla tidak tahu nona, mungkin nanti tuan Marcel akan menceritakan nya, dan saat nona tahu, semua berharap nona bisa menerima nya dengan ikhlas !"


Nara terdiam.


Apa sebegitu rumit kah hidupku, hingga aku harus menerimanya dengan ikhlas, aku tidak tahu, yang pasti mungkin aku tidak akan mempermasalahkan masa lalu, aku hanya ingin tahu keluarga ku, orang tuaku, dan hidup dengan tenang bersama Marcel dan anak ku kelak.


"Nona bukan kah esok pernikahan Gio dan Sisca?" Tanya Kayla mengalihkan topik.

__ADS_1


"Benar, aku sempat lupa jika besok mereka akan menikah, aku ingin sekali bisa datang, namun tidak bisa!" keluh nya.


"Tidak apa, nanti bertemu mereka, kita berikan selamat ataupun kado !" Usul Kayla yang di jawab anggukan semangat Nara.


"Apa ya, yang harus aku berikan pada mereka?" Gumam nya yang terdengar oleh Kayla.


"Tiket bulan madu, mungkin itu cocok untuk mereka ." Usul Kayla.


"Tiket bulan madu, hmm itu bagus, biar mereka segera menyusul memiliki anak seperti ku, haah aku teringat Citra, aku harap dia juga akan segera menikah !"


"Bukan kah nona Citra dekat dengan tuan Reno ?"


Nara mengangguk. "Hmm, namun karena Reno sibuk, mungkin buat mereka sulit untuk memulai."


Kayla pun mengangguk mengerti, dan melihat nona nya yang mulai lelah, menyuruh nya tidur di sebuah kamar di dalam lewat jet itu. Nara tidak menolak karena perjalanan ke korea cukup memakan waktu yang lama.


Gio menjelang pernikahan nya esok, namun ia tetap sibuk dengan laptopnya, karena dia tahu saat ini Marcel tengah menghadapi situasi yang serius, terlebih ia mendapat satu rekaman lagi, jika Erick kemungkinan akan ke korea dan merencanakan sesuatu dengan seseorang yang berada di sana.


Gion pun menghubungin Paman Darx dan berkoordinasi untuk keselamatan Nara, mereka berjaga - jaga dengan setiap ancaman yang ada, dan berharap mereka tidak akan lengah, meski mereka berada di korea dengan pengawalan yang terbatas.


"Aku harap semua akan baik-baik saja." Ucap Gio setelah cukup lama di depan layar komputer.


Gio pun tersenyum mengingat jika esok adalah hari pernikahan nya, dirinya tidak menyangka akan menikah secepat ini dengan wanita yang awalnya bukan tipe nya sama sekali yang malah mungkin membenci dirinya. Namun Gio bisa menaklukan Sisca dengan hati yang masih terkunci dengan nama Marcel yang saat itu ia cintai, dan kini berubah menjadi nama dirinya, menggantikan posisi Marcel.


Berawal dari rasa tanggung jawab, menjadi sebuah rasa cinta yang tak terbendung, Gio sudah sangat terikat dengan Sisca.

__ADS_1


"Aku tidak sabar menunggu esok, kau akan alan menjadi milikku seutuhnya Sisca!" Gumam Gio yang sudah tidak sabar untuk berganti hari.


Korea selatan.


"Apa ayah bilang, kau akan memberikan 30% saham untuk anak haram sepertinya !" Do Yun datang tiba-tiba yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Ye Joon dengan Bom Seok,


Benar dengan apa yang ia khawatirkan, jika ayahnya bertemu dengan CEO Admaja Company bukan hanya untuk bekerja sama, namun malah mempercepat pembagian aset yang seharusnya hanya menjadi miliknya.


"Do Yun, dia bukan anak haram ! Dia cucuku, sudah cukup kau mebuatnya menderita !" Ye joon yang tak kalah keras pada Do Yun meski dirinya sudah cukup renta.


Do Yun menarim sudut bibirnya ke atas. "Baiklah aku mengalah, namum jangan salahkan aku, jika akan ada berita yang memalukan untuk mu, ayah !" Ucap Do Yun yang langsunh meninggalkan Ye Joon yang terlihay terdiam.


"Tuan besar?" Ucap Bom Seok. la khawator akan kesehatan Ye Joon.


"Aku tidak apa, biarkan dia melakukan apa yang dia mau, hanya saja Bom Seok, aku tidak yakin jika dia benar- benar membiarkan cucuku mendapatkan bagiannya." Yee Joon yang khawatir jika jika Do Yun akan bertindak jauh lebih dari ini.


"Kami akan mengawasinya tuan besar, anda tidak perlu khawatir, dan menegenai scandal tuan yang mungkin akan terekspos media, kami akan memcoba menahan berita itu agar tidak meluas. Atau bahkan menghilang, dan tuan Marcel juga akan membantu dalam hal ini, jika memang benar tuan muda Do Yun akan melakukannya untuk menyebarkan berita anada." Bom seok memcaoba menengakan Tuan besar Yee Joon.


Yee Joon mengangguk." Hmm, Do Yun, dia itu anak yang ceroboh, dia tidak tahu jika scandal itu terbongkar, mungkin akan membuat saham di Kim Meesha akan merosot, itulah mengapa aku belum bisa membiarkan dia duduk di kursi CEO, dia selalu mementingkan egonya."


"Anda benar tuan besar, dan mengenai Do Yun, sebenarnya dia juga memiliki scandal dangan model Aeri !" Ucap Bom Seok memuat Ye Joon menatap nya tidak percaya.


"Apa itu benar, sejak kapan, dan mengapa kau baru melaporkannya padaku, Bom Seok !" Yee Joon yang kesal pada anak nya yang bisa mengkhianati istrinya.


Apa yang di lakukan anaknya bukan seperti dirinya, dia sendiri melakukan itu bukan suatu kesenganjaan tapi Do Yun, itu jelas sebuah pengkhianatan, karena dia melakukan dengan sadar.

__ADS_1


Pagi hari di kediaman Kim Do Yun. Ia terlihat marah ketika ada pesan msuk ke dalam ponselnya, tanpa memperdulikan istrinya yang terlihat heran dan juga menenangkannya, Do Yun pergi dengan mengambil kunci mobilnya.


Dalam perjalan Do Yun terus mengelurakan kemarahan, hingga tanpa sadar ia mengendarai mobilnya dengan cukup kencang, beruntung jalanan terlihat sepi.


__ADS_2