Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 42


__ADS_3

"Baik pak Marcell terima kasih " ucap Dekan kampusnya.


Marcell mengangguk, " baiklah, aku harap anda bergerak cepat sebelum akhirnya para mahasiswa akan semakin menyebarkan berita ini, dan untuk pelakunya pihak saya yang akan mencari, namun jika ada pihak kampus yang menyebarkan lebih luas lagi, maka mereka pun akan mendapatkan hukumannya!"


"Pak Marcell, tidak perlu khawatir kami akan menekan berita itu di kampus segera!" jawab Dekannya dengan tegas.


Marcell mengangguk puas," baiklah kurasa sudah tidak ada lagi yang harus dibahas, kami pamit!" lanjut Marcell yang berdiri dari duduknya di barengi dengan Nara.


"Oh iya pak Marcell, terima kasih sudah menyempatkan waktu anda kemari, saya tahu anda pasti sangat sibuk" jawab Dejan kampus berdiri menghampiri Marcell, serta para Dosen yang ikut berdiri dan mempersilahkan Marcell.


Marcell tersenyum, "semua demi istri saya, kami permisi," pamit Marcell dan dengan segera i keluar dari ruangan, sambil menggandeng lengan Nara.


Mereka pun keluar ruangan, dengan Dekan dan ketiga Dosen ikut mengantarnya.


Di luar Nara bertemu dengan Citra, dia terlihat khawatir dan Nara menghampirinya lebih dulu, "aku tidak apa-apa Cit, nanti kita bicara, aku akan menghubungimu," ucap Nara, membuat Citra mengangguk mengerti.


Marcell pun kembali dengan Nara menaiki mobilnya, sedangkan mobil Nara dibawa oleh Reno.


"Kau tidak keberatan, jika kau ikut ke perusahaan? Aku ada rapat penting hari ini, dan setelah itu kita akan berjalan jalan."


Nara tersenyum, " tidak Marcell, tapi jika kau sibuk lebih baik aku pulang saja, aku tidak ingin mengganggumu!"


"Tidak, justru aku senang kau selalu ada di sampingku!"


Nara tersenyum,"Terima kasih Marcell."


Marcell menggenggam tangan Nara dengan sebelah tangannya lagi pegang setir mobil. "Jangan berterima kasih ini sudah tugas ku !" Nara pun hanya mengangguk dan tersenyum pada suaminya.


Marcell sejak dia meninggalkan perusahaan, dia benar-benar khawatir akan Nara, takut jika dia tidak bisa mengendalikan berita miring tentangnya, namun nyatanya Nara, istrinya terlihat kuat, bahkan dia seperti tidak peduli dengan berita miring tentangnya.


"Aku kira, kau akan sangat terpukul mendengar berita ini, nyatanya kau terlihat santai," ucap Marcell.


Nara tersenyum, "terpukul? ck, aku tidak seperti yang diberitakan maka aku lebih baik santai saja, lagi pula bukankah aku punya suami yang bisa membantuku. Malah yang membuatku terpukul adalah beasiswa ku."


"Beasiswa, sayang aku bisa membiayai kuliahmu."

__ADS_1


Nara menggeleng," aku tahu, tapi bukan itu maksudku, beasiswa ku adakah beasiswa yang berprestasi, mendapatkan beasiswa adalah reward untukku," jelas Nara sambil terkekeh.


Marcell mengangguk mengerti, dia bangga dengan Nara, "kamu mau bekerja, tapi mungkin hanya sebentar aku mengijinkanmu!"


"Benarkah, tidak apa walau sebentar, aku mau" jawab Nara antusias, dia benar-benar senang.


Marcell tersenyum, "sekretaris ku mengundurkan diri, jadi kau bisa menjadi sekretaris ku hingga aku mendapatkan sekretaris baru."


"Mengundurkan diri?" Heran Nara.


"Iya, nanti aku ceritakan. Sayang, kau mau menjadi sekretaris sementara?" Nara pun mengangguk.


"Tapi entah aku bisa atau tidak?" jawab Nara ragu.


"Tidak apa, ada Aku dan Reno yang membantumu, lagi pula bukankah kau pintar !" ucap Marcell memberikan semangat untuk istrinya dan Nara pun hanya tersenyum.


Sementara di kampus Nara tengah heboh, dengan sebuah kebenaran yang diumumkan oleh Dekan nya.


"Jadi saya harap kalian tidak lagi membicarakan ini, apalagi sampai di dengar pihak oleh luar"


Selepas pengumuman itu, semua mahasiswa heboh dan tidak percaya, mereka saling bertanha satu sama lain. Namun, Citra sebagai sahabat Nara, dia begitu bersyukur dan senang, jika masalah Nara sudah teratasi dengan mudah oleh suaminya.


Reno yang menaiki mobil Nara, dan membawanya ke perusahaan, dia mengikuti mobil Marcell yang berada di depan. Saat perjalanan, Reno mendapatkan panggilan telepon dari Gio.


Kau serius, jika dia pelakunya ?


Ya, aku sudah memastikannya, setelah aku menyadap kembali telponnya, aku akan mengirim buktinya segera pada kalian.


Baiklah, kau kirimkan saja, dengan begitu Marcell akan tahu akan memberikan hukuman apa padanya!


Telpon pun terputus dan Reno terlihat menghela nafasnya berat "Sepertinya dendam telah menguasai nya, sehingga dia tidak tahu, apa yang akan dia dapatkan jika melakukan hal seperti ini"


Reno pum kembali fokus untuk menyetir mobilnya, untuk segera kembali ke perusahaan.


Marcell dan Nara yang sudah sampai lebih dulu, mereka terlihat berjalan beriringan masuk ke dalam perusahaan, Nara yang baru memasuki perusahaan besar pun senang, karena sudah sejak lama dia begitu memimpikan bisa masuk dan bekerja di perusahaan besar seperti ini, untuk itulah ia dengan giat belajar dan berkuliah agar dia bisa bekerja di perusahaan besar, karena dia tahu untuk bekerja di perusahaan seperti ini pasti sangat sulit jika tidak memiliki otak yang pintar.

__ADS_1


Saat memasuki lobi, banyak pasang mata yang melihat Nara, mereka sangat heran dengan kembali nya CEO mereka dengan seorang wanita.


Marcell dan Nara mengabaikan tatapan mereka, mereka terlihat santai bahkan berpegangan tangan memasuki lift khusus CEO mereka.


"Hey, apa dia pacar Tuan Marcell ?" Tanya salah seorang karyawan wanita di bagian resepsionis.


"Mungkin, jika dilihat Tuan Marcell dia terlihat tersenyum padanya bahkan mereka berpegangan tangan !" Jawab temannya.


"Hmm Pacarnya cantik mereka cocok!"


"Ya kau benar..ck, kapan ya aku memiliki pacar seperti Tuan Marcell ?"


"Ck, mungkin dalam mimpi, sudah diam ada Tuan Reno baru sampai !"


Mereka pun kembali diam karena kedatangan Reno atasan mereka, jika mereka terlihat mengobrol mungkin mereka akan terkena hukuman.


Di ruangan Marcell.


Marcell yang duduk di kursi besarnya dan Nara yang tengah berdiri menghadap jendela luar.


Terlihat oleh Marcell raut wajah Nara yang terlihat senang, seolah dia melupakan tentang kejadian di kampus.


"Sayang, kau benar-benar ingin bekerja?"


Nara yang mendengar Marcell bertanya pun berbalik dan menghampiri suaminya.


"Ya, tapi itu keinginan ku dulu!"


"Dulu ?" Heran Marcell.


Nara mengangguk " Dulu saat aku belum menikah denganmu!"


Sementara di luar ruangan Marcell, Reno mengurungkan niatnya bertemu dengan Marcell, dia berjalan kembali masuk ke ruangannya.. Reno hanya mengirim pada Marcell, atasan sekaligus sahabatnya.


"Kemarilah!" Ujar Marcell pada Nara menyuruhnya duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Nara hanya mengangguk patuh, lagu pula dia adalah suaminya. "Kau ingin dengar ?" Tanya lagi Nara dan Marcell mengangguk, sambil memeluk pinggang Nara mesra, dengan wajahnya yang ia simpan di ceruk leher istrinya.


__ADS_2