Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 38


__ADS_3

"Marcelllll.!" Kesal Nara yang membuat Marcell tertawa.


"Hahaha tidak, tidak aku hanya bercanda, tapi jika kau mau, aku siap sayang!" Ucap kembali Marcell yang membuat Nara melahap satu buah roti kedalam mulutnya, dengan mata yang menatap tajam pada suaminya.


Ditatap seperti itu Marcell hanya tersenyum saja, yang membuat istrinya kembali berdecak kesal.


"Ck, mengapa kau menjadi mesum seperti ini, Marcell!"


"Aku mesum hanya padamu, lagi pula kau yang membuatku ketagihan, yang membuatku menginginkannya lagi dan lagi!"


"Cukup Marcell, tidak bisakah kita membahas yang lain?" decak kesal Nara.


Marcell mengangguk. "Bulan madu, kau mau aku ajak kemana?" Tanya Marcell.


"Bulan madu?" Pikir Nara.


"Hmm kemana kau ingin pergi, setelah resepsi nanti kita akan segera berbulan madu!"


"Membuat para juniorku segera hadir !" Lanjut Marcell membuat Nara menggeleng lemah.


"Terserah saja, aku akan ikut kemana kau akan membawaku." Ujar Nara tersenyum.


Nara terlihat keluar kamar, dengan membawa nampan berisikan gelas kosong dan piring bekas mereka sarapan di dalam kamar.


Nara berjalan perlahan ke arah dapur menyimpan dan mencucinya di wastafel.


Saat ia selesai mencuci, pandangannya jatuh pada meja makan, yang di sana sudah tersedia banyak makanan.


"Apa Marcell yang memasak ?" Gumam Nara.


Kemudian ia menggeleng kepalanya " Jika Marcell memasak, mana mungkin dia memberikanku roti!" Gunanya Lagi.


Nara pun akhirnya mengedikkan bahunya acuh, dan berniat bertanya pada Marcell saja, mungkin suaminya tahu.


Nara menghampiri Marcell di teras Villa, yang sedang duduk di sebuah sofa teras. Nara lalu meletakkan beberapa cemilan untuk suaminya.


"Terima kasih sayang." Ucap Marcell dan Nara mengangguk.


"Sayang, aku tadi di dapur, lihat di meja makan, banyak sekali makanan, apa kau memasak ?" Tanya Nara.

__ADS_1


Marcell menggeleng. "Ayu yang memasak.!" Jawab Marcell singkat, sungguh ia malas menceritakannya.


Nara menggelengkan kepalanya mendengar nama Ayu." Dia masih berusaha mendekatimu?"


Marcell mengedikkan bahunya acuh. "Setelah ini dia tidak akan berani lagi mendekati suamimu lagi, lagi pula kita akan segera kembali ke jakarta.!"


Nara mengangguk mengerti. "Kita makan saja makananya, sayang jika tidak di makan.!"


"Ara, kau serius ! itu masakan Ayu !"


"Memang kenapa, makanannya tidak salah bukan ! Lagi pula aku masih lapar, dan lagi aku yakin dia tidak akan menaruh racun di sana?" Ujar Nara sambil terkekeh.


Marcell tersenyum. "Tapi apa kau tidak cemburu ?"


"Cemburu ? Tidak Marcell, kecuali jika kau membalasnya!" Ucap Nara.


Marcell mengangguk. "Mau makan sekarang?" Nara pun mengangguk.


"Setelah makan, kita langsung bersiap untuk kembali saja ke jakarta, agar sore hari kita sampai di jakarta dan kita akan cukup untuk beristirahat!" Ujar Nara dan di angguki Marcell, yang selalu mengikut apapun keputusannya.


Siang hari ketika Marcell dan Nara tengah bersiap untuk segera kembali ke jakarta, Pak Amir datang bersama Ayu menemuinya.


"Tuan Marcell akan kembali ke jakarta?" Tanya pak Amir yang menghampirinya bersama Ayu, saat Marcell tengah duduk di ruang tengah, menunggu Nara yang masih bersiap


"Kuliah" batin Ayu, mendengar jika istri dari tuanya masih berkuliah, Ayu dia yang sangat ingin bisa berkuliah.


"Oh, nona Nara masih kuliah ya, rajin ya tuan. Ya sudah jika begitu, apa tuan Marcell memerlukan bantuan bapak ?"


Marcell mengangguk.."Tidak pak, kami sudah siap dan akan segera pergi setelah ini. !" Jawab Ayu.


Ayu memandang Tuanya, yang sama sekali tidak melihatnya, membuat hatinya semakin sakit.


Nara keluar kamar yang sudah terlihat siap, ia menghampiri suaminya yang tengah bersama pak Amir dan juga Ayu.


Ayu melihat Nara, yang mengenakan dress pendek dengan sepatu heels yang cukup tinggi dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda, Nara berjalan dengan anggun yang di tambah senyuman yang Nara pancarkan, membuat Ayu menunduk malu.


Malu, karena ia benar-benar jauh dari istri Tuan yang terlihat cantik, anggun dan berkelas. Berbeda dengan dirinya, yang menurutnya cupu bahkan baju yang ia kenakan terlihat lusuh.


"Ga heran kalo tuan Marcell benar-benar mencintai istrinya, istrinya bener-bener cantik." Batin kembali Ayu.

__ADS_1


Marcell tersenyum menyadari istrinya tengah menghampirinya, Marcell melihat istrinya yang terlihat sangat cantik meski tanpa riasan.


"Pak Amir." Sapa Nara.


"Iya non, meni cantik pisan si enon. Nanti liburan kesini lagi ya. !" Ujar Pak Amir.


"Iya pak, insya allah." Jawab Nara tersenyum.


Marcell dia hanya mendengar Nara yang tengah berbincang dengan Pak Amir, dengan sebelah tangannya memeluk pinggang Nara posesif.


Nara lalu mengalihkan pandangan pada Ayu." Ayu, terima kasih masakanannya, enak ! kamu pandai masak nya!" Puji Nara pada Ayu membuat ia mendongak dan menatap Nara, lalu bergantian ke arah Marcell.


Melihat Marcell tetap tidak mau melihatnya membuat ia kembali menatap Nara.


Ayu hanya mengangguk kecil, awalnya ia sama sekali tidak berniat menemui pasangan suami istri ini, namun bapaknya memaksa untuk datang dan melepas kepergian majikannya.


"Ya sudah pak, kami pergi dulu!" Pamit Marcell.


"Oh iya hati-hati dijalan ya tuan Marcell, enon !" Nara dan Marcell hanya tersenyum mengangguk.


"oh iya pak, makanan yang dibuat Ayu masih banyak, sayang kalo dibuang, bapa bawa saja ke rumah !" Ujar Rafsya, kerana memang mereka tidak memakan banyak, dan lagi Ayu terlalu banyak memasak menu di pagi hari. Pak Amir pun hanya mengangguk saja.


Setelah berpamitan Marcell dan Nara mulai melangkah memasuki mobilnya. Kali ini Ayu benar- benar tidak banyak bicara.


Di jakarta.


Amara yang tengah berada di apartemen, menggerutu kesal, pasalnya hari ini, ia yang berniat menemui Marcell di mansionnya, harus ditunda.


Alex kekasihnya, dia tidak memperbolehkan Amara keluar apartemennya, dengan alasan Alex sangat menginginkan Amara.


"Ck, pria itu, bahkan sejak seminggu ini, dia tidak berhenti menjamah tubuhku !" Gumam Amara di kamar mandi.


Amara bercermin, menatap dirinya. "Sepertinya berat badanku mulai naik, aku harus berdiet lagi!" Gumamnya lagi.


Alex di dalam kamar ia terlihat membuka laci, dengan tampilannya yang masih menggunakan celana boxer dan bertelanjang dada.


Alex mengambil sebuah obat yang selalu diminum Amara, obat yang Amara simpan dalam sebuah botol kecil.


Obat itu adalah obat untuk mencegah kehamilannya, yang ia minta pada seorang dokter langsung, karena dia tidak ingin obat pencegah kehamilan yang mempunyai banyak efek samping.

__ADS_1


Obat itu Alex ambil dan keluarkan semua isinya, yang mungkin ada sekitar 30 butir.


Lalu Alex memasukan obat yang ada padanya, yang masih dalam plastik dan kemudian dimasukkan ke dalam botol kecil tersebut, Alex mengganti semua obat itu dengan obat yang ia bawa.


__ADS_2