Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 96


__ADS_3

Nara pun terkejut dan menatap ibu mertuanya yang sangat baik padanya. "Ya bu. Aku takut jika ini bukan kabar kehamilanku, apa nantinya ibu akan kecewa padaku ?" Tanya Nara dengan mata yang berkaca- kaca.


Safira tersenyum pada menantu cantiknya, ia sangat paham apa yang dipikirkan Nara, karena dia juga pernah ada di posisi seperti apa yang dirasakan oleh menantu Nara.


Safira menarik Nara ke dalam pelukannya. "Tidak Ara, jika kau tidak hamil saat ini ibu tidak akan kecewa. Namun ibu akan terus mendoa'akan mu agar kau bisa cepat hamil, lagi pula kau baru menjalin pernikahan ini 2 minggu. "Ucap Safira menenangkan Nara. Karena dia tahu jika Nara saat ini perasaanya sangat sensitif.


Safira melepas pelukannya dan menatap wajah Nara yang sudah berlinang air mata.


Safira tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi wajah Nara. "Jangan berpikir buruk, kau harus bisa optimis, jangan jadikan beban permintaan kami yang ingin segera memiliki cucu dari kalian, maafkan ibu dan ayah karena kami yang seperti mendesak mu untuk segera memiliki anak."


Nara mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih ibu sudah mengerti perasaan ku." Balas Nara dan di angguki okeh Safira.


"Ibu sudah memesan alat tes kehamilan, agar kau bisa mengeceknya di pagi hari, bukan karena apa-apa, ibu haya khawatir bila benar kau hamil dan saat resepsi nanti kau tidak boleh terlalu capek, ibu takut jika nanti akan membahayakan kandungan mu yang masih sangat muda karena kau akan kelelahan, maka ada baiknya kita menari tahu lebih dulu saat ini."


Nara pun mengangguk mengerti. "Bu, jangan beritahu Marcell lebih dulu, aku akan mengatakannya jika aku benar-benar hamil setelah aku mengeceknya" Safira mengangguk mengerti.


"Hmm itu tidak akan memberitahu Marcell, ya sudah apa kau ingin makan sesuatu saat ini?" Tanya Safira yang kemudian ia ingat jika Marcell tengah memesankannya bakso.


Nara mengangguk. " Aku ingin bakso dan Marcell sudah memesannya untuknku. !" Jawab Nara denan sedikit malu mengatakan nya pada ibu mertuanya.


Safira tersenyum. "Ya sudah, kau temui Marcell. Siapa tahu baik yang kau pesan sudah datang.!" Nara pun menangguk dan pamit meninggalkan ibu mertunya di taman belakang Mansion, karena Safira masih ingin berada disana.

__ADS_1


Nara dan Marcell saat ini tngah berada di meja makan. Nara sedang menyiapakan pesanan bakso yang sudah dipesan oleh suaminya dan ternyata bakso yang di i pesan cukup banyak, hingga ia membagikannnya ke beberapa maid disana dan juga untuk ibu mertuanya yang kini tengah di panggil oleh seorang maid untuk makan bakso bersama.


Mereka pun makan dengan lahap baksi yang audah dipesan oleh Marcell. Marcell yang melihat Nara memakan bakso menggelangkan kepalanya karena Nara seperti belum makan di pagi hari, nafsu makan nya benar benar bertambah saat ini.


Berbeda dengan Safira yang sudah mengerti dengan perubahan nafsu makan menantunya.


"Sayang, jangan menambah sambal lagi, nanti kau sakit perut!" Cegah Marcell yang melihat Nara akan menambahkan sambal ke mangkok baksonya yang sudah terlihat sangat pedas menurutnya, kuah bening yang sudah di masukan 4 sendok sambal dan kini ia ingin menambahnya lagi.


"Tapi ini kurang pedas !" Kesal Nara yang tidk di perbolehkan Marcell menambah sambalnya.


"Tidak sayang sudh cukup, tadi aku coba dan itu sudah sangat pedas kau ingin perutmu sakit!" Tegas Marcell membuat Nara berdecak kesal, namun kemudian ia ingat jika kemungkinan ia hamil membamuatnya reflek memegang perutnya.


Mudah-mudah kau sudah hadir sayang, maaf kan ibu, ibu akan menjaga pola makan ibu agar kau sehat jika kau memang sudah ada di sini. Ucap Nara dalam hatinya.


Nara pun mengangguk mengerti. "Hmm aku mengerti, maafkan aku!" Sesal Nara yang membuat ibu dan suaminya khawatir.


"Tidak apa sayang, kami hanya khawatir kau sakit, sudah habiskan baksomu !" Ujar Marcell pada istrinya yang kini mudah terlihat sedih.


Safira hanya tersenyum pada Nara dan melanjutkan acara makan baksonya.


Wilona yang terlihat turun dari mobilnya, dengan kaca mata hitam yang ia gunakan dan masker yang sedikit menutup wajahnya, karena tidak ingin ada yang melihatnya memasuki kantor kepolisian dimana ibunya di tahan di balik jeruji besi.

__ADS_1


"Kau mengunjungi ibu ?" Ucap Anaya yang sedikit terharu karena ternyata Wilona kembali menjumpai dirinya.


Wilona tersenyum tipis, ia melepas kaca mata hitamnya dan meletakkan nya di meja, tanpa melepas masker hitam yang sedikit menutupi wajahnya.


"Aku kemari karena ingin mengetahui dari mu, soal rahasia yang kalian sembunyikan dari ku, tentang apa lagi disini, apa ayah yang memberitahumu?" Tanya Anaya yang terkejut Wilona ingin mengetahui rahasia mereka.


Wilona mengedarkan pandangannya dan melihat para polisi yang terlihat jauh ia pastikan jika para polisi itu tidak akan mendengar mereka berbicara.


"Hmm ayah mengatakan nya padaku, dan itu membuatku sangat penasaran, tak bisakah ibu katakan saja padaku, aku yakin mereka tidak akan mendengarnya dan aku pastikan aku akan menutup mulutku!"


Anaya menggelengkan kepalanya." Tidak sayang, ibu tidak bisa, ini untuk kebaikan kita dan perjanjian di masa lalu, jika hanya ibu dan ayahmu yang cukup mengetahuinya, ibu hanya bisa mengatakan jika identitas Nara tidak biasa, maka kau jangan gegabah untuk menjatuhkannya sebelum waktunya tiba !"


Wilona berdecih. "Identitas apa yang dimiliki Nara, bu aku benar ingin tahu, dan kalian sangat sulit mngatakannya padaku, ck ini benar-benar menyebalkaan, baiklah aku akan cari tahu ini sendiri, jika kalian tidak mau mengatakannya !" Wilona pun pergi meninggalkaan ibunya dengan perasaan kesal.


"Ch, identitas, identitas apa yang di miliki oleh sampah itu, heh aku tidak percaya ini !" Kesal Wilona yang baru keluar dari kantor polisi.


Wilona bergegas berjalan menuju mobilnya sambil mengenakan kaca mata hitam nya kembali.


Di dalam mobil Wilona yang masih menggerutu karena ibu dan ayahnya kompak tidak mau memberitahukan tentang Nara padanya.


"Baiklah, aku aku mencari tahunya sendiri!"

__ADS_1


Di perusahaan Reno yang melihat Gio saat pagi tadi datang bersama Sisca, dia sungguh penasaran apa sudah terjadi sesuatu pada mereka, mengingat jika Sisca tengah mabuk di malam hari dan akhirnya Gio membawa Sisca ke apartemennya.


"Kau akan pergi setelah makan siag bukan, kalau begitu kita makan siang bersama ?" Ajak Reno pada Gio.


__ADS_2