
"Amara, kita sudah tidak ada hubungan apapun, jadi untuk apa aku menghubungimu, dan ingat aku sudah menikah, dia istriku bukan wanita menyebalkan, dan kau lah wanita yang menyebalkan itu,"kesal Marcell pada Amara.
"Marcell, aku tahu kau masih mencintaiku, dia hanya pelarianmu saja bukan ?" tanya Amara dengan yakin.
Nara terdiam, ia tidak ingin ikut campur, biar Marcell yang menyelesaikannya, lagi pula Nara percaya pada Marcell.
"Sejak kau memutuskan hubungan dan kau memperlihatkan jati dirimu, aku Sudah tidak memiliki perasaan apapun, jadi berhentilah mendekatiku.!" jawab Marcell.
Amara menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Marcell. Sungguh Amara sangat menyesal telah memutuskan Marcell jika tahu akhirnya seperti ini.
"Marcell, aku mohon berikan aku kesempatan aku masih mencintaimu," ucap Amara membuat Marcell tertawa.
"Cinta uangku bukan, Ara kita pergi saja sepertinya ibu sudah lama menunggu kita! "Ajak Marcell pada Nara tanpa memperdulikan Amara.
"Marcell, tidak, aku benar-benar mencintaimu, aku yakin aku lebih pantas untukmu, daripada perempuan sepertinya yang udik," ucap Amara berharap Marcell mau kembali padanya.
"Marcell bolehkah aku mengajak temanku Citra, rumahnya satu arah dengan tujuan kita?" tanya Nara pada Marcell yang di angguki oleh Marcell, yang menyetujuinya sambil mengelus lembut puncak kepala Nara, mereka benar-benar tidak ingin memperdulikan Amara lagi.
"Tentu sayang ajaklah," jawab Marcell tersenyum.
Citra ingin menolak namun melihat Nara menatapnya akhirnya dia setuju.
Akhirnya mereka bertiga memasuki mobil tanpa mempedulikan Amara yang sudah sangat marah melihat Marcell begitu perhatian pada Ara, bahkan menganggapnya tidak ada.
Dulu, dia lah yang diperlakukan seperti itu oleh Marcell, Marcell pria lembut dan penyayang yang selalu bersikap manis padanya, namun dulu Amara tidak merasa senang malah Amara merasa jijik pada Marcell, dan ia terpaksa harus selalu senyum demi keinginannya tercapai.
Dan kini Amara ingin Marcell memperlakukannya seperti Marcell memperlakukan waktu dia dan Marcell masih berpacaran.
Marcell saat di dalam mobil kembali menatap Amara," hargai dirimu sendiri Amara, dan bukankah kau sudah ada Alex, yang bisa memberikanmu segalanya, berhentilah mencoba mendekatiku, aku suah bahagia dengan istriku," ujar Marcell yang langsung menginjak gas mobilnya dan berlalu meninggalkan Amara yang tidak terima jika dirinya di tolak oleh Marcell.
"Marcell, bagaimana pun kau harus kembali padaku!" Ambisi Amara tanpa perduli apapun yang akan terjadi kelak.
Disisi lain orang-orang suruhan Wijaya sudah menangkap gambar Marcell suami dari Nara yang segera mereka laporkan pada Erick Wijaya.
__ADS_1
"Marcell, dia Marcell, CEO Admaja Company, bagaimana bisa?" ucap Erick setelah menerima laporan dari bawahannya, yamg seolah ia enggan untuk mempercayainya.
Marcell memegang lengan Nara dengan sebelah tangannya lagi yang memegang stir mobil.
"Ara, kau tidak apa? maaf aku tidak tahu dia ada disana."
Nara menggeleng, "tidak Marcell, aku tidak ada apa apa aku mengerti, Amara dia yang masih terobsesi padamu," ucap Nara dengan wajah yang terlihat cemberut. -
Marcell tersenyum, sepertinya Marcell mengerti jika Nara tengah cemburu padanya, namun itu adalah hal yang bagus bagi hubungan mereka. Satu kemajuan pikirnya.
"Jangan cemberut, atau aku akan menciummu!"
"Ck, Marcell apa kau tidak malu di belakang ada Citra, temanku !"
Marcell tertawa, "tidak ! Kurasa Citra akan mengerti," ucap Marcell membuat Nara mendelik kesal.
Citra, dia hanya tersenyum geli melihat pasangan di depannya, namun dalam lubuk hatinya, ia merasa lega, pasalnya Nara memang bukan seperti apa yang dikatakan oleh Ryan ataupun Dea.
Setelah mengantarkan Citra mereka pun langsung menuju ke butik, karena mereka yakin, Safira sudah menunggu mereka cukuo lama.
khawatir jika Nara dan Marcell tidak datang.
"Maaf bu, tadi ada sedikit gangguan, makanya kita
terlambat, "sesal Marcell dan menjelaskan sedikit kendala pada ibu tak lupa mencium tangan Safira lebih dulu, bergantian dengan Nara.
"Ya sudah, Ara kemarilah ikut ibu !" ujarnya pada Nara, membuat Nara mengikuti Safira, dan Marcell yang mengekor di belakang.
Nara bingung saat sampai di butik Hanna ini, dia memang tahu jika ada butik Hanna, namun Nara tidak tahu jika butik Hanna lebih mengutamakan pakaian atau gaun pengantin.
Nara dengan kebingungannya mengikuti Safira yang mengarah ke tempat yang berjejer gaun pengantin yang cantik dan indah.
Nara kali ini yakin jika ibu mertuanya ini ingin Nara mencoba gaun pengantin.
__ADS_1
"Nyonya inikah mempelai wanitanya ?" tanya seorang wanita yang terlihat cantik dan anggun dan tersenyum pada Nara.
"Benar Gina, bisakah kau tunjukkan beberapa gaun pengantin yang cocok untuk nya!"
Nara menatap ibu mertuanya, " bu, apa ibu akan menggelar pesta untuk kami ?"
"Benar sayang kalian harus menggelar pesta, ibu sudah mempersiapkan semuanya, kau dan Marcell tidak boleh menolak !"
Nara terdiam dan menatap Marcell. Namun Marcell hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seolah dia memang menginginkan hal yang sama dengan ibunya.
"Tapi bu.. !" belum sempat Nara berkata. Ibu Safira kembali berbicara.
"Sayang, Marcell anakku satu-satunya, tentu ibu ingin yang terbaik, apa lagi ini adalah pernikahan yang pertama dan terakhir, kau mengerti maksud ibu? Dan juga ibu yakin dalam lubuk hatimu juga pasti menginginkan sebuah pesta bukan?"
Nara terdiam, ia menatap haru ibu mertuanya, hingga tidak sadar air matanya pun menetes.
"Sudah jangan menangis, kamu harus membayar ini Ba - bayar?" Tanya Nara gugup."
"Ya, bayar dengan seorang cucu untuk ibu dan ayah !" Jawab Safira dengan tersenyum.
Nara tersenyum dan mengangguk, "insyaallah bu, kami akan berusaha."
"Benar bu, setelah pesta pernikahan kami akan segera berbulan madu," ucap Marcell menambahkan.
"Baguslah, dan sekarang kau ikutilah Gina, dia akan menunjukan beberapa gaun pengantin, kau pilihlah yang kau suka!"
Nara pun mengikuti Gina sesuai instruksi ibunya, memilih gaun yang menurutnya cocok, begitupun Marcell yang mencoba tuxedo yg disediakan pegawai butik Hanna.
"Apa katamu ?. Keluarga Admaja?" Anaya yang terkejut mendengar Erick mengatakan jika Nara menikah dengan Marcell dari keluarga Admaja.
Tentunya Anaya tahu siapa Marcell, yang kini sudah menjadi CEO Admaja Company, dan itu akan sulit bagi mereka untuk membuat Nara yang kembali tunduk pada mereka.
"Kau yakin,? mungkin saja mereka salah orang bukan?" tanya kembali Anaya yang enggan percaya.
__ADS_1
"Mereka memberikan aku sebuah Foto, dan itu sudah jelas, jika itu adalah Marcellino Admaja !" Jawaban tegas Erick meskipun ia sempat tidak percaya.
Anaya terduduk lemas di sebuah sofa matanya menatap nanar ke depan, lalu ia teringat akan putrinya yang begitu mendambakan sosok pria tampan dan kaya raya menjadi jodohnya, seperti Marcell.