Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 49


__ADS_3

Erick yang mendapati suhu badan Wilona panas,Erick panik dan dengan segera membawanya ke rumah sakit, padahal semalam suhunya tidak sepanas ini.


Keadaan keluarga Wijaya kini benar-benar kacau, Nara yang berada di kantor polisi dan juga Wilona yang disiksa oleh Samuel karena kesalahannya.


Kini Wilona sudah berada di rumah sakit, kamar VIP yang dipilih Erick, agar anaknya mendapat pelayanan yang lebih bagus.


Erick yang masih setia di samping Wilona, dengan perasaan kacau, memikirkan istri dan anaknya, bahkan perusahaan yang kini ia tinggalkan.


Wilona yang baru terbangun dari tidurnya, dan dia sedikit terkejut karena kini ia berada di rumah sakit, dengan seluruh badan yang terasa nyeri, dan kepalanya yang terasa pusing. Wilona melihat ayahnya yang terlihat tersenyum padanya, seolah ia bersyukur Wilona sudah membuka mata.


Wilona, dia ingat saat malam ayahnya datang, dan dengan susah payah dia bangun untuk membuka pintu apartemennya, ayahnya datang seorang diri, dan tidak ada ibunya. Wilona yang lemah memilih tidak bertanya lebih dulu dan memilih beristirahat yang dibantu oleh ayahnya yang terlihat menahan amarahnya pada Samuel.


"Kau bangun, kau sudah baikkan ?" Tanya Erick.


Wilona mengangguk," Dimana ibu ?" Erick terdiam ia bingung harus mengatakan apa.


"Polisi, apa mereka menangkapnya ?" tebak Wilona.


Mendengar itu Erick terkejut, ia tidak menyangka jika Wilona tahu akan hal ini.


Melihat ekspresi Erick, Wilona hanya tersenyum miris." Aku sudah tahu ini, apa ayah akan membiarkan ibu tetap disana?"


Erick menatap putrinya, ia memiliki banyak pertanyaan di benaknya, pikir Erick mungkin Wilona banyak menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ayah pasti akan mengeluarkannya dari sana, nanti siang ayah akan membawa pengacara!"


Wilona pun mengangguk," Ayah tidak ke perusahaan ?" tanya Wilona kembali.


"Tidak, jika ayah pergi kau akan sendiri disini!"


Wilona tersenyum miris meratapi nasibnya yang amat menyedihkan. "Aku akan meminta asisten ku untuk menemaniku disini!" Jawabnya.


Erick terdiam menatap putrinya, "baiklah, tapi ayah akan pergi setelah asisten mu kemari !" Wilona pun mengangguk setuju.

__ADS_1


"Selamat datang sayang." Safira yang menyambut menantu cantik nya yang baru sampai di mansion.


"Ibu, apa kabar?" Balasnya sambil tersenyum senang karena disambut Safira, ibu mertuanya, dan mencium tangannya, begitu pun dengan Marcell setelah Nara.


"Baik sayang, Marcell kau akan langsung ke perusahaan?" Tanya Safira.


"Bu, apa ibu tidak ingin menyambutku untuk masuk dulu!" ucap Marcell, merasa di asingkan.


"Tidak! Pergilah !" usir Safira pada anaknya, yang membuat Marcell mendengus kesal, sedangkan Nara hanya tersenyum dan pasrah ketika tangannya ditarik oleh ibu mertuanya.


Marcell tersenyum melihat ibunya sangat menyayangi istrinya, begitupun Nara, pertemuan mereka yang diawali kesalahan tidak membuat keluarganya memandang rendah Nara, yang justru menyayangi nya seperti anak sendiri.


Marcell pun berbalik dan kembali memasuki mobilnya, karena ini memang sudah waktunya untuk berangkat ke perusahaan.


Di dalam, Nara diajak oleh Safira ke arah belakang bagian Mansion, yang ada sebuah Gazebo dan kolam ikan, dan disana sudah ada ayah Arya, yang menikmati pagi dengan secangkir kopi dan melihat ikan ikannya.


"Ayah, lihat lah anak cantik ibu sudah datang!" Safira yang sedikit berteriak pada Arya, sedangkan Nara hanya mengulum senyumnya melihat tingkah mertuanya yang menggemaskan menurutnya.


"Kau tidak apa nak?" Tanya Arya pada Nara yang tahu jika saat kemarin menantunya mendapatkan berita miring, dan Safira yang mengusap lembut tangan menantunya.


Nara mengerti jika Ayah Arya tahu akan kejadian kemarin, ia tersenyum pada kedua mertuanya." Aku tidak apa-apa, dan Marcell pun bergerak cepat menolongku!"


"Ya itu sudah seharusnya, jika tidak ayah akan menghukumnya !" Jawab Arya sambil tertawa.


Mereka pun menghabiskan waktu dengan berbincang di pagi hari.


Sedangkan di perusahaan, tepatnya di ruangan Marcell, dia terlihat sedikit kesal dengan banyaknya dokumen yang ada diatas meja.


Marcell mendelik ke arah pria jangkung di hadapannya yang tersenyum tanpa dosa padanya.


"Apa ini Reno ?" Geram Marcell.


"Bukankah kau tahu, itu adalah dokumen-dokumen yang harus kau kerjakan, karena sekertaris tidak ada, jadi pekerjaannya menumpuk, dan aku membagi dua pekerjaannya denganku dan juga kau!"

__ADS_1


Marcell berdecak kesal, sepertinya ia salah memilih Reno menjadi asistennya, karena dia yang justru memerintah padanya.


"Jangan kesal seperti itu, lagi pula dalam waktu dekat kau akan cuti, jadi mau tidak mau kau harus membantuku!" Papar Reno dan sambil terkekeh melihat kekesalan Marcell


Marcell menghela nafasnya, membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabat sekaligus asistennya itu. "Apa pihak HRD sudah bergerak cepat untuk membuka lowongan !"


"Sudah, bahkan sudah mulai interview, kau mau ikut dalam pemilihan sekretaris ?"


Marcell menggeleng, merasa malas jika harus ikut campur yang bahkan pekerjaannya pun sudah menumpuk seperti ini. "Tidak itu akan membuang waktuku, aku percayakan pada HRD saja, Reno apa pekerjaan kita hanya di perusahaan ?"


Reno mengangguk mengerti."Tidak, tapi siang nanti kita akan bertemu klien, untuk membahas pekerjaan atau proyek di Amerika !" Jawab Reno dan Marcell mengangguk.


"Baiklah kau ingatkan aku siang nanti, dan aku memintamu untuk mengawasi interview disana, jangan sampai ada kecurangan, aku benar-benar ingin yang berkompeten yang akan menjadi sekretaris ku !" Ujar Marcell pada Reno.


Reno pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Marcell, karena dia tahu terkadang perusahaan besar atau kecil banyak yang menggunakan cara licik dengan menyogok atasan agar mereka bisa bekerja di perusahaan yang mereka inginkan.


Siang hari Citra sudah sampai di sebuah alamat yang diberikan oleh Nara, ia begitu tercengang dengan sebuah mansion besar bak sebuah istana di kota jakarta.


Citra sangat mengagumi mansion yang ditinggali oleh Nara, perasaan iri mungkin ada pada benaknya, namun ia tepis karena ia sadar perasaan iri tidak akan membuatnya bahagia.


Nara sudah meminta izin pada mertuanya, jika akan mengundang Citra ke mansion dan mertuanya tidak mempermasalahkannya, karena Nara pun menjelaskan jika dirinya tidak diperbolehkan Marcell keluar untuk saat ini.


Mertuanya sangat mengerti, karena itu juga adalah kekhawatirannya.


"Ra, Ara!" Panggil Citra setengah berteriak.


Nara tersenyum mendapati Citra yang tercengang melihat Mansion besar yang kini ia pijaki, persis seperti saat ia pertama datang kemari bersama Marcell.


"Ayo masuk, kau tidak susah bukan mencari alamatnya?"


"Tidak justru sangat mudah, supir taxi bahkan tidak menyangka akan membawaku ke daerah elit seperti ini. Ra, aku tidak menyangka suami mu sekaya ini, kau beruntung Ra!"Nara tersenyum.


"Benar, aku sangat beruntung bisa mengenal dan menikah dengan Marcell !" jawabnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2