
Reno mengernyitkan dahi nya heran, dan mengingat pria yang di hadapannya kini. Tak lama Reno ingat dia adalah Roni yang selalu merundungnya bersama Marcell ketika di kampus.
"Ya, setidaknya aku sudah berusaha !" Jawab Reno yang sangat malas meladeni Roni.
"Ch, percuma saja punya otak pintar tapi tidak bisa bekerja diperusahaan, kau tahu dengan uang kita bisa melakukan apapun bahkan bekerja di perusahaan besar!" Sindir Roni pada Reno yang kini ia duduk berhadapan dengan Reno.
Reno menegakkan duduk nya dan menatap Roni, seringai pun terbit di wajahnya. "Aku lebih baik tidak bekerja di perusahaan besar jika harus menggunakan uang untuk bekerja disana, ch, itu sangat memalukan," balas Reno.
Roni tertawa, " ck, kau terlalu naif Reno!" ucapnya.
"Eheum... aku ingin bertanya padamu, Marcell, apa benar dia sekarang menjadi seorang CEO ?" Lanjutanya dan bertanya pada Reno yang sudah sangat penasaran untuk memastikan hal ini.
Reno tersenyum sinis. "Ya !" jawab Reno singkat, sekarang Reno sepertinya tahu apa yang diinginkan oleh Roni.
Roni tersenyum. "Kau temannya bukan, kau bisa meminta Marcell untuk memasukkan aku dan juga kau bekerja di perusahaannya, kau minta lah pada Marcell agar kita bisa bekerja di perusahaan nya!"
Mendengar itu Reno tertawa sumbang. "Apa kau tidak malu meminta Marcell untuk bekerja di perusahaannya? apa kau lupa dengan apa yang dilakukan oleh mu pada kami saat masih berkuliah? ck yang benar saja, lagipula kau kan punya banyak uang, tidak seperti ku yang miskin, kau kan bisa menyogok HRD untuk bekerja disana!" Papar Reno pada Roni.
Roni berdecak kesal, "Itu kan sudah sangat lama, pasti Marcell sudah melupakan hal itu !" Jawabnya tanpa dosa.
Ck bagaimana kami bisa melupakan nya begitu saja, pikir Reno.
"Ayolah, bukankah kau juga butuh pekerjaan, aku memang bisa menggunakan uang untuk bekerja disana tapi sayangnya Admaja Company sangat ketat dan lagi aku tidak memiliki orang dalam, bukankah keren jika kita bisa bekerja di sana!" Rayu nya pada Reno.
Reno menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan makhluk yang ada di hadapannya kini, Roni pria yang selalu merundung dirinya dan juga Marcell, meski memang mereka tidak pernah menggunakan fisik, tapi dengan cara mereka yang merundung dengan ucapannya, itu sudah menorehkan luka di hati mereka, yang sulit untuk mereka sembuhkan, bahkan Roni tidak ada itikad baik untuk meminta maaf lebih dulu dan malah ingin memanfaatkan keadaan.
Nara yang sudah terbangun, meski memang tidak sepenuhnya tidur, terbangun karena suami menghubunginya, dan memberitahukan jika dia akan pulang malam.
__ADS_1
Nara lantas bergegas ke kamar mandi ingin
membersihkan diri. Setelah selesai ia lantas keluar kamar dan berjalan ke arah dapur di mansion ini, dan disana ternyata sudah ada Safira yang sedang memasak.
Safira, meski di mansion sudah ada banyak maid yang bekerja, namun soal urusan masak selalu ia yang lakukan, alasananya tentu itu adalah hal yang disukai oleh Andrew suaminya.
Kebiasaan Safira itulah yang kini dicontoh oleh Nara, terlebih Marcell, suaminya memang lebih menyukai makanan rumahan sederhana.
"Ternyata ibu sudah pulang?" Sapanya pada wanita paruh baya yang terlihat anggun dan cantik.
"Iya sayang, Marcell belum kembali ?" Tanya Safira balik pada Nara, karena dia yang belum melihat Marcell di mansion, padahal biasanya Marcell akan pulang saat sore hari.
"Belum bu, masih banyak pekerjaan, tadi Marcell mengabariku, karena sekretarisnya kan mengundurkan diri!" Jelas Nara pada ibu mertuanya.
Safira mengangguk mengerti karena Andrew pun sudah menceritakannya.
Mereka pun memasak makanan yang akan dihidangkan untuk makan malam nanti.
Nara masih berharap, Marcell akan pulang saat makan malam tiba.
Sementara di Cafe Reno masih berbincang dengan seorang pria bernama Roni.
Pria tidak tahu malu itu terus merengek pada Reno untuk bisa memasukkannya ke perusahaan Marcell, Roni yakin dengan bantuan Reno yang berbicara pada Marcell akan memudahkannya bekerja di sana, perusahaan Admaja Company yang sangat disegani.
Reno menghela nafasnya kasar."Lebih baik kau coba saja ajukan lamaran, siapa tahu kau akan diterima, Marcell dia seorang CEO, mana mau harus mengurusi pekerjaan HRD?" Papar Reno pada Roni yang masih bersikeras untuk Reno memohon pada Marcell.
Reno masih mencoba untuk bersabar agar tidak meluapkan emosi pada Roni, terlebih ini berada di sebuah cafe yang lumayan ramai.
__ADS_1
"Untuk apa a aku mengajukan lamaran seperti itu, jika ada orang dalem yang bisa membantuku, ck Reno apa kau bodoh, dengan bantuan Marcell kita bisa mendapat jabatan yang tinggi !" Decak kesal Roni karena Reno tidak mau mendengar sarannya.
Pesanan Reno pun tiba, dan akhirnya dia bisa pergi dari hadapan Roni. Reno berdiri dan menatap Roni sambil menenteng kantong berisikan makanan yang telah dipesan olehnya.
"Roni, aku tidak pernah memanfaatkan sahabatku seperti itu. Memanfaatkan keadaan untuk membantuku itu tidak ada dalam kamusku apa lagi aku harus merengek padanya, namun jika Marcell yang memintaku bekerja untuknya tentu aku akan bersedia, kau paham maksudku!" Papar Reno pada Roni.
Roni menggeram marah pada Reno. " Ch, aku baru tahu ada pria miskin yang masih mempertahankan harga dirinya. Baiklah aku akan mendatangi Marcell sendiri, ku rasa dia pasti akan mengikuti kemauanku !"!
Reno tersenyum remeh. "Silahkan, Marcell akan menunggu!" Ucapnya sambil melangkah keluar cafe tidak mau hiraukan lagi Roni.
Roni di mejanya sangat kesal, dan memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Marcell.
Perusahaan Admaja Company adalah perusahaan idaman oleh kebanyakan orang untuk bekerja disana, tentunya karena gajinya yang besar meski hanya karyawan biasa.
"Aku harus bisa bekerja disana, Marcell harus mau mengikuti keinginanku !" Gumam Reno.
Reno yang bergegas kembali ke perusahaan dan dengan perasaan kesal. Dia berjalan masuk ruangan Marcell dan meletakkan sekantong makanan dari cafe tersebut di meja panjang di depan meja kebesaran Marcell.
Reno yang masih terlihat kesal pun tak luput dari penglihatan Marcell..
Marcell melihat ekspresi Reno, mengerutkan keningnya. "Ada apa denganmu, kau terlihat sangat kesal !"
Reno mantap Marcell yang masih duduk di kursi kebesaran nya, dengan masih menunjukkan ekspresi kesalnya dia kemudian berkata, menceritakan tentang kejadian saat di cafe ia bertemu dengan Roni. "Kau tahu, aku bertemu dengan pria manja yang selalu merundung kita waktu masih berkuliah, dan kini ia merengek dengan tidak tahu malu nya untuk meminta ku menemuimu, agar bisa bekerja di perusahaan ini !"
Marcell mengerutkan keningnya mengingat nama Roni yang disebut oleh Reno.
Marcell berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Reno dan duduk di sofa panjang berhadapan dengannya.
__ADS_1