
"Kita langsung pulang ke mansion ya, ibu sudah menunggu kita?" Tanya Marcell yang sambil menyetir.
Nara mengangguk tanpa memalingkan wajah nya pada bubur di pangkuannya. Marcell melihat itu hanya terkekeh, merasa lucu dengan tingkah Nara yang seperti anak kecil
Tak lama mereka pun sampai di mansion, yang di sambut oleh kepala pelayannya.
Nara masuk ke dalam mansion dan langsung menuju kamarnya, setelah memakan dua porsi bubur ayam, kini dirinya merasa mengantuk dan ingin segera menuju tempat tidur dan menutup matanya.
Marcell melihat itu bertambah heran dengan tingkah Nara yang sangat berbeda di hari-hari sebelum nya.
'Marcell, mana istrimu?" Tanya Safira yang mengagetkan Marcell yang masih berdiri di ruang tengah, karena melihat Nara yang langsung menuju ke dalam kamar, yang memang sudah berbicara padanya lebih dulu ketika masih di dalam mobil, jika Nara sangat mengantuk dan ingin tidur sebentar.
"Nara langsung masuk ke kamarnya, bu aku heran melihat istriku hari ini ?" Ucap Marcell membuat Safira mengerutkan keningnya.
"Heran, apa yang kau herankan ?" Tanya Safira.
Marcell berjalan menuju sofa dan mendudukinya. Marcell pun menceritakan pada Ibu nya pada saat di penthouse, Nara yang memakan roti bakar buatannya dan ingin memakan bubur ayam di dekat kampus nya, serta semua kejadian dimana Nara mulai merasa risih dan mendadak tidak nafsu makan.
"Benar kan bu, Nara sedikit aneh hari ini ?" Tanya Marcell pada ibunya,
Safira yang tersenyum mendengar cerita Marcell, membuat Marcell semakin heran." Sudah biarkan saja dia, mungkin Nara ada perubahan pada hormonnya, jangan ganggu dia dulu, biarkan dia istirahat dan turuti saja apa yang dia inginkan ?" Ujar Safira pada Marcell.
Marcell hanya mengangguk mendengar perkataan ibunya, pikir Marcell Nara sedang PMS.
Marcell pun meninggalkan ibunya yang masih terlihat tersenyum, dia dengan segera menyusul istrinya ke dalam kamar. Benar saja Nara sudah terlihat sangat pulas tertidur di ranjang empuknya.
Marcell tersenyum dan mendekati istrinya dan menaiki ranjang dengan hati hati agar tidak membangunkan Nara.
"Apa kau benar-benar lelah sayang, cepat sekali kau tertidur?" Ucap Marcell lirih memandangi wajah cantik istrinya.
Sedangkan Safira, ia terlihat sangat senang, seolah dia mendapatkan kabar bahagia, namun ia pun mesti memastikannya lebih dulu.
"Ku harap tebak kan ku benar." Ucapnya dengan girang.
Siang hari Nara sudah terbangun dan melihat suaminya berada di balkon kamar mansion sedang meminum kopi.
__ADS_1
Nara beranjak dari tempat tidur dan menghampiri suaminya.
"Tidurmu nyenyak ?" Tanya Marcell pada istrinya yang sudah berada di depannya.
Nara mengangguk. " Hubby aku lapar !"
'Lapar?" Tanya Marcell dan Nara mengangguk.
Marcell melihat jam tangannya, masih ada dua jam menuju makan siang. Pikirnya
"Kau makan apa ?" Tanya Marcell.
"Bakso!" Jawabnya.
'Bakso, ya sudah kita pesan saja ya, ibu melarang kita keluar mansion!" Bujuk Marcell pada Nara.
Nara mengangguk, karena dia pun sedang tidak ingin keluar rumah, saat ini Nara sangat ingin bermalas-malasan dan ingin terus bersama suaminya, lagi pula dia tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi, yang membuat moodnya menjadi buruk dan tidak nafsu makan.
Marcell pun lega karena Nara menyetujui usulannya dan dengan segara memesan bakso keinginan istrinya. Marcell mengingat jika ibunya mengatakan meski menyetujui apa yang diinginkan oleh istrinya, namun bagi Marcell meski tanpa petuah dari ibunya, Marcell pasti akan berusaha memberikan apa yang diinginkan oleh istri cantiknya.
"Aku sudah memesannya. Sayang tadi ibu berpesan jika kau bangun temui lah dia?"
Marcell terkekeh. " Tidak sayang, untuk apa ibu marah padamu, mungkin ada yang ingin di bicarakan oleh ibu soal resepsi nanti?" Jawab Marcell membuat Nara tersenyum lega.
Nara pun tersenyum dan segera pergi menemui ibu mertuanya.
Nara menemui ibu mertuanya di sebuah taman di belakang mansion karena memang Safira sering menghabiskan waktu disana untuk mengurus tanaman bunga nya yang di tanam.
"Bu ?" Panggil Nara pada Safira yang sedang terlihat menyiram tanaman.
Safira tersenyum karena ternyata Nara sudah bangun dari tidurnya dan langsung menemuinya.
"Kau sudah bangun, apa kau masih lelah ?"
Nara menggelengkan kepalanya. " Tidak bu aku kini hanya lapar." Jawabnya sambil terkekeh dan sedikit lirih karena malu.
__ADS_1
"Maaf, karena aku pulang yang malah langsung ke kamar dan tidur, dan aku tidak menemui mu lebih dulu." Sesal Nara.
Safira pun tersenyum mendengar perkataan Nara, dia meletakkan alat untuk menyiram tanaman dan membuka sarung tangannya.
"Tidak apa ibu mengerti, ku tidak perlu meminta maaf." Ucap Safira membuat Nara tersenyum lega.
"Kemarilah kita duduk disana, ada yang ingin ibu tanyakan ?" Ajak Safira sambil menunjuk ke sebuah gazebo yang tidak jauh dari sana..
Nara pun mengangguk dan langsung mengikuti ibu mertuanya.
Di gazebo Safira menatap Nara dengan senyumannya. "Sudah sekitar dua minggu kau menikah dengan Marcell, anak ibu, kau bahagia ?"
Nara mengangguk, namun hatinya mendadak resah karena mertuanya membahas hal yang tidak biasa.
"Aku bahagia bu." Jawab Nara membuat Safira mengangguk.
Safira tersenyum " Ara, kapan kau terkahir datang bulan ?"
Nara mengerutkan keningnya." Datang bulan ?" Heran Nara karena ibu mertuanya yang malah kemudian menanyakan siklus menstruasinya.
Safira mengangguk. "Kau ingat bukan?" Tanya Safira kembali.
Nara sedikit berpikir dan kemudian dia ingat jika beberapa hari sebelum menikah dengan Marcell dia baru selesai Haid.
"Mungkin sekitar 3 hari sebelum menikah dengan Marcell bu !"
Safira tersenyum. "Kau tahu, itu sudah masuk masa suburmu untuk bisa mengandung, kau mau mengecek, siapa tahu kau sudah hamil saat ini ?"
Mendengar perkataan ibu mertuanya membuat jantung Nara berdetak kencang. "Maksud ibu ada kemungkinan aku hamil saat ini, apa benar begitu ?" Tanya Nara balik dengan perasaan menggebu, dia begitu senang jika kemungkinan besar dia hamil saat ini.
Safira tersenyum. "Hmm, perasaan ibu begitu, setelah mendengar cerita Marcell pagi ini tentang mu, jika itu benar, kau akan memberikan kebahagian untuk Marcell saat ini, bahkan ke pada kami." Ucap Safira membuat Nara mengangguk.
Nara pun sama berharap seperti ibu mertuanya, semoga tebakkan ibu mertuanya benar Ada Anak, namun dia juga merasa khawatir jika ternyata dia tidak hamil, apa ibu mertuanya akan kecewa ?"
Nara yang masih terdiam dalam pemikirannya sendiri, membuat Safira mengerutkan keningnya bingung, namun Safira pun paham dan yakin jika mungkin Nara sedang memikirkan sesuatu yang tidak baik.
__ADS_1
"Kau mengkhawatirkan sesuatu, apa kau takut itu bukan kehamilanmu ?" Tanya Safira lembut.
minimal like ya klo gk vote gift