
"Aku tahu, aku hanya rindu kebebasanku saat dulu!" Jawabnya sambil tersenyum.
Marcell memeluk istrinya. "Nanti kita berlibur lagi, kau mau?"
Nara pun mengangguk semangat. " Kau janji ?"
"Hmm janji !" Ucapnya singkat dan melepas pelukannya, namun ia meraih dagu istrinya dan mencium lembut bibir yang selalu menjadi candu untuk nya.
"Aku ingin ini setiap pagi, ini adalah mood booster untukku !" ucapnya sambil mengelus lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya.
Nara tersenyum." Hmm, kau bebas jika kau mau, aku tidak akan pernah menolak !" Jawab Nara membuat Marcell tersenyum senang.
"Sudah ayo kita ke bawah, mungkin ayah dan ibu sudah menunggu kita di ruang makan !" Ujar Nara dan Marcell mengangguk.
Di meja makan, seperti dugaan Nara Kedua mertuanya sudah menunggu mereka.
Mereka pun lantas segara menuju meja makan dan dengan segera memulai sarapan.
Setelah sarapan, Arya bertanya pada anaknya, Marcell."Kau sudah menemukan sekertaris baru?"
Marcell mengangguk. "Sudah, dan hari ini dia sudah mulai bekerja !"
Mendengar itu Arya pun mengangguk."Ya sudah pergilah, dan jangan sampai pekerjaanmu menumpuk hingga resepsi nanti!"
"Aku tau yah!" Ucap Marcell seraya berpamitan pada kedua orang tuanya.
Marcell sudah tahu maksud dari ayahnya, karena saat nanti Marcell cuti untuk resepsi dan pergi bulan madu akan digantikan oleh ayahnya lebih dulu.
Marcell tidak ingin ayahnya mengatakan rencananya untuk berbulan madu, karena ini akan menjadi kejutan untuk Nara, yang mengira sejak awal tidak akan jadi berangkat untuk berbulan madu.
"Aku berangkat, nanti kau kabari aku!" Ujar Marcell pada Nara yang mengantarnya sampai halaman Mansion.
"Hmm, aku pasti akan mengabarimu !" Ucap Nara sambil mencium tangan suaminya dan setelah itu melepas kepergian Marcell.
"Sekretaris baru ?" Gumam Nara, entah mengapa ia sedikit cemas akan hal ini, terutama karena dia sering membaca novel tentang sekretaris yang mungkin bisa saja mencoba merayu suaminya.
Nara pun menggelengkan kepalanya, menepis pikiran buruk di dalam benaknya.
__ADS_1
Setelah itu ia pun kembali masuk ke dalam mansion.
Pagi hari di apartemen Amara. Setelah pertengkarannya dengan Alex, Alex tidak terlihat pergi ke apartemen untuk menemuinya, entah karena Alex masih marah padanya atau memang ingin membiarkan Amara dibiarkan lebih dulu sendiri oleh Alex.
Drtt drrt drrt..
Handphone berdering, dan Amara sehera melihat handphonenya dan disana tertera ada satu pesan dari pesan dari Alex.
[ Aku akan keluar kota untuk 2 hari kedepan ]
Amara tersenyum melihat satu pesan yang masuk dari Alex dan dengan segera ia membalas pesan dari ATM berjalannya itu.
[ hmm, hati hati lah ]
Amara pun berpikir kini ia mendapatkan satu kesempatan yang tidak boleh ia sia siakan, Marcell itu adalah tujuannya.
Amara akan memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Marcell, harus ! dalam pikiran nya, ia harus bisa bertemu dengan mantan kekasih yang telah ia sia siakan
Amara, dia tidak tahu jika Alex selalu mengawasinya.
"Lakukan apa maumu Amara, kita lihat apa Marcell akan menerimamu!" Ucap Alex dengan seringai tajamnya.
Pagi hari di apartemen Amara.
Drtt drrt drrt..
Handphone terdengar bergetar, dan Amara segera melihat handphone nya dan ternyata disana tertera ada satu pesan dari pesan dari Alex.
[ Aku akan keluar kota untuk 2 hari kedepan ]
Amara tersenyum melihat satu pesan yang masuk dari Alex dan dengan segera ia membalas pesan dari ATM berjalannya itu.
[ hmm, hati hati lah]
Amara pun berpikir kini ia mendapatkan satu kesempatan yang tidak boleh ia sia siakan, Marcell, itu adalah tujuannya.
Amara akan memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Marcell.
__ADS_1
Harus ! Dalam pikiran nya, ia harus bisa bertemu dengan mantan kekasih yang telah ia sia-siakan itu.
Amara, di masih belum menyadari jika dia selalu dalam pandangan atau pengawasan Alex.
Sedangkan Alex, dia melihat gerak gerik Amara, dan tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya itu melalui CCTV.
"Lakukan apa maumu Amara, kita lihat apa Marcell akan menerimamu!" Ucap Alex dengan seringai tajamnya..
Alex pun kembali melihat handphone nya, dan menghubungi seseorang.
"Awasi saja dia, dan biarkan dia melakukan sesuka hatinya saat ini !" Ucapnya dan langsung memutuskan sambungan telepon nya tanpa menunggu jawaban.
Sebenarnya Alex tidak sedang keluar kota, namun kini ia tengah berada di rumah nya dan meminta cuti untuk dua hari, karena ada hal yang harus ia lakukan.
Alex, dia adalah pria yang cukup tampan dan umurnya yang berbeda 5 tahun di atas Marcell, pria itu sudah didesak oleh kedua orang tuanya untuk menikah, bahkan sampai membuat sebuah perjodohan untuknya, namun Alex jelas menolak karena dia hanya ingin Amara yang akan menjadi istrinya.
Kedua orang tuanya, sebenarnya membebaskan Alex untuk memilih pasangannya, namun rupanya sampai detik ini dia belum juga mengenalkan wanitanya pada kedua orang tuanya..
Hingga saat tadi malam orang tuanya kembali mengenalkan satu wanita dari kerabat dekatnya pada Alex, membuat Alex merasa kesal karena kedua orang tua nya selalu mendesaknya untuk menikah.
Saat malam Alex yang baru tiba di rumah, ibunya sudah menyambutnya dengan lembut.
"Kau sudah pulang syukurlah, ada yang ingin ibu perkenalkan padamu!" Ujarnya kepada anaknya, namun Alex terlihat datar tidak ingin menanggapinya.
Alex dan ibunya berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
Saat sampai di dalam rumah Alex sudah melihat ada wanita yang mungkin seumuran dengannya, dan wanita itu tersenyum manis padanya, namun Abert tetap setia dengan wajah datarnya.
"Sayang, perkenalkan dia Fania !" Ibunya memperkenalkan sosok wanita cantik yang Alex lihat.
Dalam hatinya Alex berdecak kesal, ibunya benar- benar tidak menyerah untuk membuat Alex bisa berhubungan dengan wanita dan lalu segera menikah.
Fania mengulurkan tangannya pada Alex namun Alex hanya menatapnya sekilas dan berlalu meninggalkan kedua wanita berbeda usia itu.
Fania, wanita cantik dan sexy, dia sudah begitu mendambakan sosok Alex, namun kini ia merasa kecewa dengan sikap Alex yang acuh padanya, padahal ibunya sendirilah yang mengenalkannya.
Fania kembali menarik tangannya, ia terlihat mengepalkan tangannya, namun ekspresi wajahnya tetap tersenyum, karena tidak ingin image nya buruk di depan Renata.
__ADS_1
Fania di berpikir sagat beruntung bisa mengenal Renata, ibu dari Alex, ia sudah cukup yakin jika Fania akan mendapatkan Alex melalui Renata, namun rupanya Alex sama sekali tidak peduli padanya, bahkan pada ibunya, padahal ia sudah bersiap untuk mempercantik diri nya agar Alex bisa menyukainya, tapi nyatanya dilirik pun tidak sama sekali.