
Alex memasukan obat yang ada di botol Amara dan memasukkannya ke dalam plastik, dan lalu dia memasukan ke dalam tasnya, agar Amara tidak melihatnya, dan lalu ia kembali merebahkan tidurnya, agar Amara tidak merasa curiga.
"Semoga tidak lama lagi, aku akan mendengar kabar yang aku tunggu!" Gumam Alex.
Alex dia memang sengaja membuat Amara tidak keluar apartemen, karena ia tahu Amara akan menemui Marcell.
"Aku tidak akan membiarkanmu, mendekati Marcell lagi, Amara, kau sudah jadi milikku, maka aku tidak bisa mencari atau mendekati pria lainnya!" Lanjut Alex, dan langsung menutup matanya lagi, karena mendengar Amara akan keluar kamar mandi.
Dengan hanya menggunakan handuk, Amara berjalan perlahan menuju sebuah laci, laci yang berisikan obat pencegah kehamilannya, dia terlihat meminumnya tanpa merasa ada yang berbeda. Alex pun tersenyum melihatnya.
"Kau sudah membersihkan dirimu ?" Tanya Alex yang terbangun dan duduk.
"Hmm.!" Jawab Amara dengan dehemannya.
Alex, merangkak mendekati Amara, ia memeluknya dari belakang.
"Alex, diamlah, apa kau tidak lelah, lagi pula aku sudah mandi. ?" Kesal Amara karena Alex mulai menyentuhnya lagi..
Alex menulingakan telinganya, tangannya sibuk memainkan bukit kembar Amara, dengan bibirnya yang mencium curuk leher, bahkan menggigitnya lembut telinga Amara. Amara yang masih menggunakan handuk memudahkan Alex untuk bergerak sesuka hatinya.
"Alex, ahh..!" Desah Amara lolos.
Alex pun tersenyum puas, setelah mendengar ******* keluar dari bibir Amara. " Aku tahu, kau tidak akan tahan dengan sentuhanku, ayo sayang kita lakukan lagi.." Ajak Alex membuat Amara kesal, namun Amara yang sangat mudah terangsang oleh Alex pun, akhirnya mengikuti permainan kekasihnya.
Pagi hari di hari senin, Marcell tengah bersiap untuk segera pergi ke perusahaan, dengan dibantu istrinya.
Marcell tersenyum saat Nara membantu Marcell mengenakan dasinya, tinggi istrinya yang hanya sebahu membuat dia mudah mencium keningnya.
Nara tersenyum saat bibir Marcell menempel di keningnya.
"Kau ke kampus hari ini ?" Tanya Marcell.
Nara mengangguk. "Sayang, bolehkan aku mengajak Citra kesini !"
"Tentu, terserah kau aku tidak akan melarang apa yang kau inginkan, namun jika kau mengajak seorang pria tentu itu akan membuat masalah untuk mu dan juga aku !" Jelas Marcell yang membuat Nara tersenyum senang.
__ADS_1
"Mana mungkin seperti, dan kau, kau yang mesti berjaga jarak dengan perempuan, mereka kan banyak yang menginginkanmu!" Ucap Nara dengan sedikit kesal.
Marcell terkekeh. "Hey, bukankah sudah ku katakan, aku tidak akan pernah melirik mereka, bahkan menyukainya, hanya kau yang pantas ada di hatiku !" Ucap Marcell dan kembali mencium kening istrinya.
"Marcell, aku percaya padamu, tapi tidak dengan para wanita itu !" Ucap Nara yang mengingat saat mereka di bogor, mengingat Ayu yang begitu gencar mendekati suaminya.
"Maka aku hanya tidak perlu pedulikan mereka bukan!" Ucap Marcell yang di angguki Nara.
"Baiklah, ayo kita sarapan, aku sudah memasak untukmu !" Marcell pun mengikuti istrinya menuju meja makan.
Setelah sarapan Marcell yang lebih dulu berangkat menuju perusahaan, karena Nara akan berangkat sekitar pukul 09:00, satu jam setelah suaminya pergi.
Nara terlihat cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah sebelum ia bersiap berangkat ke kampus. Dia tersenyum sepertinya Nara sudah menikmati menjadi seorang ibu rumah tangga.
Marcell yang sudah duduk di kursi kebesarannya, ia dikejutkan dengan karena sekretarisnya yang mengundurkan diri.
"Dia mengundurkan diri, tanpa menemuiku lebih dulu!" Decak kesak Marcell.
"Kemarin dia menemuiku dan bahkan dia terlihat terburu-buru, keluarga yang ada di jawa mengabarinya, jika kedua orang tuanya meninggal dunia karena suatu musibah, kebakaran. "
"Jadi, dia langsung memutuskan kembali dan berhenti bekerja, karena disana dia memiliki adik yang masih sekolah bahkan ada yang masih balita" Lanjut Reno dan Marcell pun mengangguk mengerti.
"Kirim pesangon yang lebih besar padanya dari yang sudah ditetapkan" Ucap Marcell pada Reno.
"Ya, ayahmu pun mengatakan ini, karena paman Dika yang menceritakannya." Kembali Marcell menganggukkan kepalanya.
"Jadi saat ini kita harus mencari sekretaris baru?" Lanjut Reno bertanya pada Marcell.
Marcell sedikit berpikir setelah itu mengangguk setuju. "Kau sendiri sekarang, paman Dika dia sudah tidak akan lagi ke perusahaan !"
Reno mengangguk " Maka kau jangan beri aku pekerjaan yang menumpuk, belum lagi kau akan mengambil libur yang cukup panjang"
Marcell tertawa." Kau tenanglah, aku tidak sekejam itu, untuk bulan madu mungkin aku akan menundanya dulu, sampai kau ada yang membantu disini." Ujar Marcell membuat Reno bernafas lega.
Reno memberikan sebuah berkas pada Marcell, yang sejak tadi ia pegang, sebuah berkas tentang biodata Gio." Dia Gio, orang yang dikenalkan paman Dika."
__ADS_1
Marcell membuka berkas tersebut dan membacanya dengan teliti." Jadi dia seorang ahli IT?"
"Ya, lebih tepatnya seorang hacker, paman Dika dan ayahmu ternyata memiliki orang hebat seperti dia!" Ucap Reno merasa senang bisa mengenal Gio.
"Jika begitu, bukankah dia bisa bekerja membantumu di sini!"
Reno menggeleng " Dia tidak suka bekerja di perusahaan, dia lebih nyaman bekerja di rumah, dan paman Dika sudah menyediakan apartemen untuknya.!"
Marcel pun menghela nafasnya menyesal kan akan hal ini. "Apa dia sudah menemukan sesuatu"
Reno mengangguk " Sebelum membahas keluarga Wijaya, aku ingin memberitahumu mengenai Amara!"
"Amara!" Marcell berdecak, ia sungguh malas jika mendengar nama ini.
"Dia mencari tahu tentang dimana alamat rumahmu, bahkan dia sempat ingin melamar kerja disini, namun karena saat itu kita belum membuka lowongan apapun !"
"Dia menemukannya!"
"Ya,mansion tempat kedua orang tuamu tinggal jika penthouse, dia tidak memiliki informasinya !" Marcell mengangguk puas, karena jika Amara menemukannya pun itu tidak akan menjadi masalah, karena penthouse Marcell hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.
"Mengenai Erick dan Anaya,Wijaya kami belum memberikannya, karena aku berpikir akan lebih bagus jika berbicara denganmu! Lanjut Reno
Tapi tentang Wilona, kami sudah membicarakannya!"
"Wilona ?" Heran Marcell, yang mengingat siapa Wilona yang dimaksud Reno.
"Wilona, anak pertama Erick dan Anaya Wijaya, yang kemungkinan akan merusak hubunganmu dengan Nara, karena iri dengan apa yang dimilikinya sekarang, yang menurutnya meski dialah yang mendapatkanmu!"
"Omong kosong!" Ucap Marcell jengah.
"Tenanglah, dan kau harus tahu akan hal ini! Wilona sudah memerintahkan seseorang untuk mencelakai Nara, namun kau tidak perlu khawatir Gio sudah memperketat penjagaan di sisi Nara bahkan saat kau di bogor.!"
Marcell yang sempat ingin marah dan khawatir pada istrinya, kini merasa sedikit tenang karena Gio telah memerintahkan orang untuk menjaga istrinya, bahkan dia sudah bergerak cepat.
"Mereka harus benar-benar menjaga istriku, aku tidak ingin mereka kecolongan lagi!" pinta Marcell pada Reno dengan sorot mata yang tajam, seolah ia sangat serius kali ini..
__ADS_1