
Marcel terkekeh. "Baiklah tuan putri permintaan anda akan pangeran ini kabulkan." Ucap Marcel sambil menggendong Nara dan melangkah ke kamar mandi.
Nara menggelengkan kepalanya. " Bukan putri dan pangeran, tapi raja dan ratu !" Balas Nara yang menginginkan di panggil seorang ratu.
Marcel tertawa geli, istrinya benar-benar lucu pikir nya. Marcel meletakkan Nara di bathub dengan keadaan Nara yang sudah tidak memakai sehelai benang pun.
"Berendam dan segera bersihkan diri mu sayang, apa kau mau aku mandi kan ?" Tawar Marcel dengan senyuman yang menggoda nya dan kedua alis nya yang ia naik turun kan.
"Tidak terimakasih, kau sudah boleh keluar sekarang, jika tidak itu tidak akan selesai cepat !" Ucap Nara mengusir Marcel dari dalam kamar mandi. Marcel terkekeh dan membiarkan Nara membersihkan dirinya.
Mereka tengah makan siang di sebuah restoran megah di dekat hotel nya, dengan suasana air laut yang terlihat dari luar jendela. Tak lama mereka selesai makan siang, Nara meminta Marcel mengajak nya ke pantai.
Marcel pun menuruti keinginan istrinya dan kini mereka tengah berada di pinggir pantai. Nara duduk dengan beralaskan pasir putih, dengan Marcel yang membaringkan kepalanya di paha istrinya.
Nara mengelus rambut Marcel yang terlihat memejamkan matanya, menikmati setiap elusan lembut tangan dari istrinya di atas kepalanya.
"Hubby, bolehkah aku minta sebuah permintaan?" Tanya Nara dengan mata yang menatap ke arah laut.
"Boleh sayang, apa yang kau mau ?" Jawab Marcel dengan mata yang terus terpejam.
Nara tersenyum. "Aku hanya ingin, ketika anak kita lahir kita bisa tinggal di bogor, aku suka suasana disana." Pinta Nara.
Marcel tersenyum, mendengar permintaan istri nya, ia sempat lupa dengan hadiah yang di berikan ayah nya untuk Nara, dan kini jika Marcel memberitahu pada Nara jika ayah nya menghadiahi villa dan tanah yang luas untuk nya disana, mungkin Nara akan sangat senang.
"Kau ingin menetap disana juga sayang ?" Tanya balik Marcel membuat Nara menggelengkan kepalanya.
"Tidak, mungkin hanya beberapa waktu saja, hubby kau kan bekerja di jakarta, aku tidak ingin di tinggal - tinggal nantinya, dan lagi kau akan sangat lelah jika harus bulak-balik jakarta bogor !" Jawab Nara, meski memang dia sangat ingin untuk menetap di sana.
__ADS_1
Marcel membuka matanya dan memilih duduk di samping istrinya. Nara tersenyum dan lalu memeluk lengan Marcel yang sudah berada di sisinya dan menyandarkan kepalnya di bahu suaminya.
Marcel mengecup kening Nara. "Sayang Jakarta Bogor dekat, jika kau ingin tinggal disana aku bisa mengaturnya, kau lupa jika suami mu ini adalah seorang CEO, aku bisa bekerja dari rumah!"
Nara tersenyum. "Entahlah kita lihat saja nanti hubby. "Balas Nara.
"Memang nya apa yang membuat mu tinggal disana hmm?"Tanya Marcel kembali.
"Disana udara nya sejuk Hubby, kau juga tahu itu, dan jika bisa aku ingin menanam bunga yang banyak di sekitaran Villa, itu akan sangat indah bukan?" Ucao Nara antusias.
"Kau ingin membuat taman bunga?" Tanya Marcel kemudia.
Nara terkekeh. "Membuat tamam bunga memerlukan tanah yang cukup luas, adan aku tidak yakin akan bisa mengurus nya. Aku hanya ingin menanam di sekitaran Villa, itu sudah cukup."
Marcel tersenyum. "Bunga apa yang kau suka?"
Nara terdiam memikirkan bunga apa yang dia sukai." Mawar dan tulip." Jawab Nara.
Marcel memikirkan keinginan istrinya, dia tidak akan masalah jika Nara memilih untuk tinggal di bogor, karena selain keadaan udara yang masih segar, juga ini bagus untuk Nara, agar bisa menghindar dari keluarga Wilton yang masih jadi ancaman untuk Nara.
Dan taman bunga. Batin Marcel dan tersenyum.
Aku akan coba mewujudkan keinginanamu sayang. Harap Marcel dia yang akan berusaha terus untuk membahagiakan istri cantik nya.
Marcel ingat akan ayah nya yang dulu bisa bekerja dan mengurus perusahaan saat mereka hidup sederhana. Maka Marcel akan wujudkan ke ingininan istri nya, bisa tinggal disana dan sebuah taman bunga tulip atau pun mawar.
Jakarta, Indonesia.
__ADS_1
Apartemen Sisca.
Malam hari di sebuah apartemen dua pasang seejoli sedang bercengkrama, membicarakan tentang rencana mereka di masa depan pernikahan mereka, Sisca dan Gio.
Mereka terlihat sangat dekat dan mesra, dengan Sisca yang berbaring di atas paha Gio yang duduk di sofa empuk dengan menyandarkan punggungnya dan mengelus rambut Sisca yang panjang.
"Aku terserah pada mu, Sisca apapun konsep yang akan kau ambil aku ikut saja." Jawab Gio yang menjawab pertanyaan Sisca.
Sisca tersenyum, meski Gio menyerahkan semua keputusan nya pada Sisca, namun Gio selalu menemaninya, di tengah kesibukan yang Gio kerjakan.
"Aku ingin menikah di bali, di ruang terbuka dengan suasana pantai, itu akan terlihat romantis." Ucap Sisca yang membuat Gio tersenyum tipis.
Sisca bangun dari duduk nya dan menatap Gio. "Kau ternyata tampan juga, tapi sayang kau lebih dingin dari Marcel, tapi aku suka." Ucap Sisca dengan tersenyum pada Gio.
"Kau sudah jatuh cinta padaku?" Tanya Gio yang menbuat Sisca terdiam dan mengulum bibirnya.
Cinta, aku tidak tahu ini perasaan cinta atau bukan, namun aku senang berada terus di dekat nya. Batin Sisca.
Gio tersenyum melihat Sisca yang terlihat malu, Gio memperhatikan bibir ranum Sisca yang menggoda dirinya.
Gio mendekatkan wajah nya ke wajah Sisca. " Jika kau bertanya pada ku, aku sudah mencintai mu!" Ucap Gio membuat jantung Sisca berdetak kencang dan menatap Gio yang berada di tepat di hadapan nya.
Gio tersenyum dan semakin mendekat ke arah Sisca dan ******* bibir ranum Sisca yang sudah sangat menggoda dirinya.
Sisca tidak menolak dan ikut menikmatinya, Gio merasa senang karena ini kali kedua mereka menautkan bibirnya, dengan Sisca yang ikut menikmati nya kali ini.
Gio semakin memperdalam ciuman nya dengan tangan nya yang masuk ke dalam baju Sisca dan mengelus lembut punggung Sisca yang membuat nya darah berdesir, merasakan rasa geli dan kehangatan, hingga tangan nakal Gio mengarah ke perut Sisca dan ingin menyentuh bagian bukit kembar Sisca. Sisca mengehentikannya.
__ADS_1
"Gio, aku takut kita akan lebih dari ini nanti nya!" Ucap Sisca pada Gio yang terlihat tersenyum.
"Jangan khawatir, aku akan menahan nya, aku hanya ingin memainkan ini, itu juga jika kau mengizinkan ?"Tunjuk Gio pada kedua aset kembar milik Sisca.