
"Apa Nara akan melaporkan kita ke polisi perihal malam itu?" tanya Sora khawatir.
"Tidak, mereka tidak akan menemukan bukti apapun, kita sudah membersihkannya, bahkan CCTV hotel kita matikan sejak kedatangan Samuel, jadi kau tidak perlu khawatir jika dia mengancam mu," ucap Erick dan Anaya mengangguk lega.
"Ara, kau ke kampus hari ini," tanya Marcell.
"Iya, hanya satu mata pelajaran siang aku sudah kembali ke rumah, " jawab Nara.
Marcell mengangguk,"siang nanti ayo kita kencan." Nara mengerutkan keningnya," kencan?"
"Hmm kita pacaran setelah menikah," ucap Marcell sambil memeluk Ara dari belakang yang sedang merapikan pakaian dan riasannya.
"Bukankah kita belum pernah berkencan, bahkan bertemu pun baru hitungan hari," lanjut Marcell.
Nara berbalik dan menatap Marcell, setelah itu ia pun merapikan dasi yang dikenakan oleh Marcell.
"Kau benar, tapi bukankah kau harus bekerja, bagaimana jika besok, besok weekend bukan?" ujar Nara mengusulkan pada Marcell.
Marcell mengecup kening Nara, "baiklah besok saja, kau mau kemana?" tanya Marcell.
"Aku akan ikut kemanapun kau membawaku?" jawab Nara sambil menatap Marcell dan tersenyum padanya.
Marcell yang ditatap seperti malah mendekatkan wajahnya pada Ara dan ******* bibirnya mesra, Nara pun membalas ciuman pagi dari suaminya. Sepertinya Nara memang sudah benar-benar nyaman dengan Marcell, ia hanya tinggal menata hatinya.
"Sepertinya aku sudah mulai jatuh cinta padamu," ucap Marcell yang membuat Nara menunduk malu.
"Jangan menunduk, atau aku akan menciummu lagi ," goda Marcell karena ia tahu jika Ara, istrinya tengah merasakan malu.
"Marcell!" ucap Ara kesal dan menatap nya kesal, dan Marcell hanya terkekeh.
"Sepertinya aku ingin cepat-cepat pergi berbulan madu denganmu, berusaha untuk membuat para juniorku,"ucap Marcell.
__ADS_1
"Ck, Marcell sudahlah ini masih pagi, ayo kita sarapan, mungkin ayah dan ibu sudah menunggu kita," ujar Nara karena ia ingin cepat-cepat menjauh dari Marcell, menjauh karena ia sudah sangat malu dengan jantung yang tidak berhenti berdetak, dia takut Marcell akan mengetahuinya.
Marcell terkekeh melihat kegugupan Nara yang sudah pergi menjauh darinya, mungkin Nara mengira jika Marcell tidak mengetahuinya. Tapi nyatanya, Marcell tahu apa yang dirasakan istrinya.
"Kau memang beda Ara, kau tahu jantung ini hanya berdetak padamu, sewaktu aku bersama Amara, aku tidak pernah seperti ini,"gumam Marcell.
Mereka kini berada di meja makan seperti biasa hening tidak ada percakapan, saat semua sudah selesai Safira mengawali berbicara pada menantunya.
"Ara, siang nanti kau kosong?"tanya Safira.
"Iya bu, hari ini aku hanya ada satu mata pelajaran, jadi siang aku sudah pulang " jawab Ara.
"Baguslah, siang nanti datanglah ke butik HANNA, ibu menunggumu di sana dan Marcell jika kau senggang kau juga datanglah,"pinta Safira.
Nara hanya mengangguk saja meski ia tidak mengerti untuk apa pergi ke butik
"Baiklah bu, akan ku usahakan," ucap Marcell yang menebak jika ibu sudah memiliki rencana.
"Secepatnya yah, mungkin setelah pekerjaanku sudah mulai longgar," jawab Marcell dan Nara hanya menunduk saja.
"Soal pekerjaan serahkan saja pada ayah, atau Dika dan Reno, bukankah itu bagus agar Reno bisa dengan cepat belajar," ucap Arya.
Marcell mengangguk dan setuju mendengar pendapat ayahnya,"baiklah kita tinggal mengatur waktu saja, benarkan Ara?"
Ara mengangguk ragu mendengar Marcell bertanya padanya,"aku terserah kau saja," ucap Ara dan Marcell pun tersenyum.
"Baiklah ayah ibu kami berangkat dulu," pamit Marcell begitupun dengan Nara.
"Hati-hati, dan jangan lupa nanti siang ibu tunggu," ucap Safira mengingatkan kembali Nara dan Marcell.
"Baik bu, kami berangkat dulu," pamit Nara dan langsung mencium lengan kedua orang tuanya secara bergantian, begitupun dengan Marcell.
__ADS_1
Diluar Marcell meminta Nara untuk satu mobil dengannya, Nara menolak namun karena Marcell memaksa akhirnya Nara pun menyerah.
"Ada hal yang ingin ku katakan padamu?" ucap Marcell saat menyetir yang membuat Ara menoleh pada Marcell.
"Apa?" tanya Nara.
"Kemarin di kampus mu banyak orang suruhan Wijaya, apa kau tahu?" tanya Marcell, membuat Nara terkejut.
Deg..
"Be benarkah?" jawab Ara takut.
Marcell mengangguk, "tapi kau tidak perlu khawatir, karena aku sudah menyewa bodyguard untuk mu, awalnya aku tidak ingin kau tahu tentang bodyguard tersebut agar kau nyaman, namun setelah kejadian kemarin kau pasti juga sudah menebaknya bukan?"
Nara mengangguk ia paham mengapa Marcell sampai melakukan itu, karena itu pun demi kebaikannya, "aku mengerti dan itu tidak apa, aku tahu ini demi diriku sendiri, seharusnya aku berterima kasih padamu, berkat kau aku sudah tidak menderita lagi dan bisa lari dari mereka," ucap Ara yang setelah itu menoleh ke arah jendela dan menghapus air matanya agar Marcell tidak mengetahuinya.
"Ara kini ada aku di sampingmu dan juga kedua orang tuaku, jadi kau tidak perlu khawatir lagi, dan ya aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu tentang orang tuamu, kau tidak keberatan bukan?"
"Tidak Marcell, tentu tidak. justru aku senang kau mau membantuku mencari tahu tentang siapa orang tuaku, karena jika aku bertanya pada mereka, mereka pasti tidak akan pernah mau mengatakannya," ucap Nara yang tersenyum senang Marcell benar-benar mau membantunya.
Marcell tersenyum, " jadi aku minta untuk saat ini dan seterusnya kau tidak boleh menangis lagi, atau memikirkan mereka, biar aku sebagai suamimu yang melakukannya, kau hanya perlu tunggu kabar dariku, kau mengerti? karena ini demi kau, aku tidak ingin mereka menyakitimu lagi."
Nara mengangguk, "terimakasih Marcell."
"Ya Ara, tapi ini tidak gratis!"
"Tidak gratis, apa aku harus membayar mu?" jawab Ara yang mendadak kesal karena baru tadi ia sangat senang bahkan mengangumi Marcell, karena pikirnya Marcell mengistimewakan dirinya.
"Bukan dengan uang tapi dengan kau mau menjadi istri dan ibu bagi anak anakku kelak sampai hanya maut memisahkan kita."
Blussh Nara menunduk malu, ia sangat salah dengan pikirannya tadi, "Marcell, aku sudah menjadi bagian hidup mu tentu aku bersedia, meski aku belum tahu tentang perasaan ku saat ini padamu, namun aku akan terus mencoba agar aku bisa mencintaimu, terima kasih karena kau datang dan menolong bahkan membuatku bisa merasakan kasih sayang," ucap Nara tulus dengan air mata yang kembali menetes.
__ADS_1
Marcell memarkirkan mobilnya di tepi jalan ia membuka sabuk pengamannya dan memeluk istrinya," jangan berterima kasih, ini sudah menjadi tugasku, untuk membuatmu bahagia, sama dengan halnya kau, aku yang masih belum mengetahui bagaimana perasaanku namun perlu kau tahu Ara, aku benar benar tulus padamu, dan ku harap kedepannya kau akan terus mempercayai ku, begitupun aku yang akan terus mempercayaimu."