
Semua orang sangat sedih, karena Kendrik orang cukup berjasa dalam pencarian keluarga Nara di korea ini, kendrik meninggal karena luka yang cukup parah di bagian kepalanya.
"Bawa dia pulang ke Indonesia, keluarga nya berada di sana, persiapkan dengan cepat dan atur mereka yang ikut bersama Kendrik dan yang untuk berjaga disini, dan katakan pada keluarganya, atas permohonan dari saya dari keluarga Admaja, dan maaf kami tidak bisa hadir di pemakamannya." Jelas Arya mewakili Marcel, Nara dan juga Safira.
"Mereka pasti mengerti tuan, baiklah kami akan segera mempersiapkan penerbangannya, " Ucap paman Drax.
Bodyguard The Admaja semua kini tengah bersedih, termasuk dengan Gio yang terlihat sangat marah, ia bersumpah akan menemukan pelaku utamanya, orang yeng menabrak juga orang yang di balik nya.
Meski Erick dan Do yun masih dalam dugaan besar mereka, namun dia akan secepatnya mencari bukti, agar mereka bisa segera di proses hukum.
"Hubby, apa karena aku hingga Tuan Kendrik mesti meninggalkan kita ?" Ucap Nara dalam isak tangisnya.
Sesaat ia sudah senang dengan keadaan Marcel yang sadar dan bisa berbicara meski belum sepenuhnya pulih, namun ketika kabar buruk itu datang membuat Nara kembali down dan terpuruk, karena ia pikir semua ini adalah ulahnya, jika dia tidak begitu ingin tahu keluarga nya mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Safira yang berada di samping Nara memeluk dan menenangkan menantunya, ia tahu apa yang Nara rasakan, berbeda dengan Sisca, ia begitu tertegun jika apa yang Nara alami sangat lah sulit namun Nara di hari harinya selalu terlihat kuat, ia tidak menyangka di balik senyuman Nara ternyata begitu banyak menyembunyikan kesedihannya, karena tidak tahu siapa keluarga nya.
Sedangkan Marcel hanya mampu melihat dan tak mampu memeluk Nara dengan keadaan yang masih sulit untuk bergerak, ia hanya berbaring dan menatap Nara dalam pelukan ibunya dengan isak tangis yang teramat terasa sakit.
Kuatlah sayang, ada aku dan anak kita, juga orang- orang yang berada di sekelilingmu, ada ibu dan ayah yang akan selalu menyayangimu juga.
Beberapa hari berlalu, kondisi Marcel dan Nara pun berangsur-angsur pulih. Nara pun sudah mengenal kakek nya, namun pertemuan mereka yang di balut kesedihan karena meninggalnya Kendrick.
__ADS_1
Nara tidak bisa menyalahkan kakeknya dengan apa yang sudah terjadi, permintaan nya maaf tentu dia maafkan.
Kim Ye Joon selalu mengakatan kata maaf pada Nara, "ini salah kakek, kakek minta maaf," kalimat itu yang selalu Kim Ye Joon katalan pada Nara.
"Aku sudah memaafkan mu kek, berhentilah mengatakan kata maaf pada ku !" Ucap Nara sedikit kesal karena Kim Ye Joon selalu meminta maaf padanya.
Kim Ye Joon pun terdiam."Aku senang memiliki cucu perempuan, karena semuanya laki-laki, terimakasih sudah berjuang mencari kakek."
Nara mengangguk."Suamiku dan orang-orang nya yang membantuku. Tanpa mereka, kita mungkin tidak akan bertemu disini dan aku tidak tahu jika memiliki saudara di korea."
"Sudah-sudah jangan mengatakan hal yang seperti itu lagi, aku tidak ingin kau menangis lagi sayang. "Marcel dengan selang infusnya, berjalan ke arah Nara, menghentikan obrolan yang akan membuat Nara akan kembali menangis.
Kim Ye Joon pun mengangguk begitu pun dengan Nara. " Benar, kita bicarakan saja kedepannya, tidak baik bagi ibu hamil menangis terus, apa kau mau sesuatu ?" Tanya Kim Ye Joon pada ibu hamil pada Nara.
Marcel melihat jika di depan ruangannya ada Reno, dia tahu jika ada yang ingin dia bahas, begitu pun dengan Ye Joon. "Apa kau mau berjalan-jalan, kita taman rumah sakit ini, bersama kakek. " Ajak Ye Joon pada Nara.
"Bolehkah ?" Tanyabnya cukup senang, karena dia pun merasa bosan jika selalu berada di dalam ruang perawatan.
"Boleh, aku minta suster untuk siapkan kursi roda dulu !"Ucap Marcel dan meminta salah satu pengawal untuk meminta kursi roda pafa suster untuk istrinya.
"Apa aku tidak boleh berjalan, aku sudah merasa kuat saat ini hubby?"
__ADS_1
"Tidak sayang, Dokter berkata kau tidak boleh berjalan jauh dan masih harus banyak istirahat, ingat anak kita sayang, jangan karena kau merasa kuat, hingga kau tidak mengingatnya dan akhirnya terjadi sesuatu yang buruk !"
"Tidak, baiklah aku menurut !" Balas Nara membuat Marcel merasa lega.
Disini lah mereka sekarang, di sebuah taman rumah sakit, Kim Ye Joon dan Nara yang di kawal oleh beberapa bodyguard the Admaja dan Bodyguard dari Kim Meesha.
"Kau mirip dengan nenek mu, dia wanita yang baik dan pintar, namun karena kecerobohan kami, dia harus mengalami hal yang buruk." Ucap Ye Joon membuat Nara meminta nya untuk bercerita.
"Aku akan ceritakan, namum aku minta kau tidak akan menangis lagi, atau marah kakek mu ini, dan jika kau menangis, nanti yang ada aku akan di marahi oleh suamimu!"
Nara tersenyum."Aku janji kek, ceritalah, mungkin saat ini aku hanya bisa tahu bagaimana nenek ku, meski tidak tahu bagaimana kedua orang tuaku."
Kim Ye Joon meringis di hatinya, benar, bahkan dia saja tidak tahu bagaimana anaknya, ia tahu ketika Do Yun membawa jasad Selena dan Kenzo. "Nanti kita pergi ke makan mereka."
"Makam, bukan kah mereka di kremasi, aku mendengarnya dari Marcel ?" Heran Nara karena berbeda infirmasi.
"Tidak, mereka di makam kan, memang dulu Do Yun yang kekeuh untuk menkremasi nya mereka, namun kakek menolak, karena kakek tahu tradasi di indonesia juga agama yang mereka anut, seperti apa, bahkan kakek senpat, marah mengapa mereka di bawa ke korea, bukan seharus di makam kan disana, mungkin karena memang dia tidak ingin kakek sampai bertemu dengan mu!" Jelas Kim Ye Joon yang juga baru menyadari hal ini.
Kim Do Yun, benar-benar merencanakan semuanya sejak dulu.
Nara mengangguk senang." Baiklah nanti antar alu kesana, aku ingin menemui mereka, sekarang ceritakan, bagaimana nenek ku ?^ prime prime Ucap Nara membuat Kim Ye Joon terseyum.
__ADS_1
"Nenekmu, dia adalah skretaris kakek, dia lebih muda dari istriku, mungkin saat itu dia masih berusi 20 tahun, seumuran dengan kim Do Yun. Di cantik dan baik, bahkan selalu mengingatkan ku jika aku salah, dia juga profesional dalam bekerja, sebenarnya kakek juga tidak begitu mengenal dirinya, namun kekek pastikan dia wanita yang baik."
Nara tersenyum." Ternyata aku pintar dari nenek, atau bahkan ibuku juga wanita yang pintar !"