
"Sedikit, lagi pula kita tidak akan jauh dari Villa, di depan sana ada sebuah Cafe," ujar Marcell, dan Nara hanya mengangguk saja.
Marcell pun mulai menjalankan motornya dengan Nara memeluknya dari belakang.
Tak lama mereka pun sampai di sebuah Cafe yang dimaksud Marcell. Nara Turun lebih dulu dari motor dan disusul oleh Marcell.
Marcell dan Nara saat hendak masuk ke dalam Cafe terhenti, karena mendengar seseorang memanggilnya.
"Marcell, kau Marcell bukan?" panggil seorang wanita yang juga hendak memasuki Cafe.
Marcell menengok begitu juga dengan Nara.
"Benar kau Marcell, dia siapa ?" tanya lagi dengan pandangan sinis pada Nara.
"Amara. Bukankah dia istrimu ?" Lanjutnya. Membuat Marcell dan Nara saling pandang.
Sedangkan wanita itu terus memandang Nara sinis.
"Saya istrinya Marcell, bukan Amara!" Nara menjawab, karena risih di perhatikan seperti itu oleh wanita di hadapannya.
"Jangan bercanda kamu, Marcell sudah lama berhubungan dengan Amara! ck apa kau pelakor?"
Marcell kesal, sepertinya Amara, dia menyebarkan rumor yang tidak benar.
"Saya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Amara! dan dia, Nara Istriku, bukan pelakor!" ucap Marcell tegas.
Wanita itu merasa tidak percaya dengan perkataan Marcell, pasalnya mereka tidak terlihat memiliki masalah apapun.
Andien adalah teman yang cukup dekat dengan Amara, sikap dan sifat mereka pun tidak jauh berbeda, beberapa hari lalu mereka bertemu, hingga Andien mendapat kabar jika Amara sudah menikah dengan Marcell.
FLASH BACK ON
Di sebuah Cafe Amara yang tidak sengaja bertemu dengan Andien, temannya sewaktu kuliah, akhirnya memutuskan untuk berbincang lebih dulu.
"Amara, gila ya kamu pacaran sama Marcell beruntung banget, ga tahunya dia seorang CEO.!"
Amara tersenyum, ia mengibaskan rambutnya. "Kita sudah menikah, namun masih ditutupi, mungkin saat resepsi nanti kita akan publish," ucap Amara dengan percaya diri.
"Oyah, waah ga heran sih kalo masih ditutupi, Marcell sekarang terkenal di kalangan pebisnis."
Amara mengangguk. "Andien, nanti kamu, aku undang kok santai aja.!" Ucap nya, yang sontak membuat Andien senang, karena mungkin di pesta Amara akan banyak menemui orang penting.
"Tapi aku minta, untuk saat ini jangan sebarin ke siapa-siapa dulu," lanjut Amara membuat Andien mengangguk patuh.
FLASHBACK OFF.
__ADS_1
Marcell menggelengkan kepalanya mendengar cerita Andien.
"Seminggu lagi, aku akan mengadakan resepsi, dan kau akan lihat, siapa istri sah ku dan pelakor.!" Ucap Marcell.
"Oh, aku menikah dengan istriku setelah Amara meminta mengakhiri hubungan kami, jadi jika kau berpikir Nara biang keretakan hubungan ku dengan Amara itu salah!"
"Ara, ayo kita masuk, kau lapar bukan?" Ajak Marcell pada Nara.
Nara mengangguk dan pergi bersama Marcell masuk ke dalam Cafe, tanpa menghiraukan Andien yang terlihat kesal dan masih tidak percaya.
"Amara, apa dia berbohong, ck lihat saja jika benar yang Marcell katakan, aku bakalan sebarin kalau kamu lah yang seorang pelakor!"
"Sepertinya Amara ga bisa lupain kamu gitu aja?" ucap Nara.
"Itu karena aku udah kaya, punya segalanya!"
"Kau tahu Marcell, dulu aku tidak ingin memiliki suami yang kaya raya."
Marcell mengerutkan keningnya heran, karena menurutnya banyak perempuan yang malah lebih memilih pria kaya raya.
"Kenapa?"
"Karena banyak yang suka selingkuh dan juga "jajan" !" Ucap Nara sambil terkekeh.
"Ya, tapi tidak semua, contoh nya ayahku, dan juga aku, Ara setelah semua ini, aku jadi benar-benar berterima kasih pada mereka, kedua orang tuaku, karena mereka mendidikku dari bukan dengan cara orang kaya lainnya, jika seperti itu mungkin aku sudah menjadi anak yang sombong.
Ara jika kedepannya hidup kita tidak seperti ini, dengan kemewahan, apa kau akan tetap di sampingku, jika nantinya kita hidup susah ?"
"Mana ada wanita yang mau diajak hidup susah." Jawab Nara. Membuat Marcell terdiam.
Melihat ekspresi Marcell, Nara pun terkekeh." Tapi jika ada yang diajak berjuang bersama, banyak, contohnya aku." Jawab Nara membuat Marcell tersenyum dan mencubit hidung Nara games.
"lih Marcell, sakit tahu!" Kesal Nara, sambil mengusap hidungnya. Membuat Marcell mengusap kepala nya lembut sambil terkekeh..
"Sudah makan dulu, setelah ini kita jalan-jalan di sekitar sini, pasti pemandangan bagus.!"
Nara mengangguk semangat, karena itu lah yang ia tunggu-tunggu.
Mereka pun menghabiskan makanan yang sudah mereka pesan dengan tanpa percakapan kembali.
.
.
Di Jakarta.
__ADS_1
Reno yang baru mendapatkan pesan dari Paman Dika, untuk bertemu di sebuah restoran yang disebutkan paman Dika.
Reno pun segera menuju tempat yang diberikan. Reno memasuki Restoran, dan di sana terlihat Paman Dika yang tidak sendiri.
"Paman, maaf saya terlambat !" Ucap Reno sambil duduk di hadapan Paman Dika, dan pria yang di samping paman Dika.
"Tidak, kami juga baru sampai, oh ya Reno, paman mengajakmu kesini, mau memperkenalkan kamu pada Gio, dia seorang yang ahli di bidang IT.!
Gio mengulurkan tangannya pada Reno begitupun sebaliknya.
"Jadi, Gio ini yang sejak kemarin membantu kita. ?"
"Benar, dia kepercayaan Admaja Company terutama Tuan besar Arya."
Reno mengangguk. "Semoga kita bisa bekerja sama?" Ucap Reno pada Gio.
"Ya tuan Reno, kita bisa saling membantu, sayangnya Tuan Marcell tidak bisa bertemu hari ini !"
"Jangan panggil aku tuan, Reno saja, aku tidak nyaman di panggil tuan !" Ujar Reno dengan kekehannya.
"Soal Marcell, dia sedang mengajak istrinya berlibur, maklum mereka baru menikah." Lanjut Reno dan Gio pun mengangguk.
"Ya, paman Dika sudah menjelaskannya."
"Gio bicarakan saja pada Reno apa yang kamu dapatkan, paman mau undur diri tidak apa kan Reno.?"
"Loh paman tidak ikut berdiskusi ?" Tanya Reno heran.
"Tidak Reno, paman ada perlu, dan lagi di hari senin paman sudah memutuskan untuk berhenti, paman sudah mengirim pesan pada Marcell"
Reno mengangguk. "Baiklah, terima kasih paman, ku harap kita akan terus bertemu !"
"Tentu, ya sudah paman pergi dulu, mari Gio, Reno.
Reno dan Gio berdiri melepas Paman Dika yang meninggalkan mereka di restoran, setelah itu mereka pun kembali berbicara.
"Jadi apa yang sudah kau dapatkan Gio?
"Ya, ini soal Wilona"
"Wilona !!" Dahi Reno mengkerut, apa wanita itu membuat ulah pada Nara, pikirnya.
Gio menceritakan dahulu pada Reno, jika paman Dika sudah memberikannya tugas untuk mencari tahu tentang keluarga Wijaya, terutama untuk mencari orang tua kandung Kinara. Setelah diberikan tugas, Gio pun bergegas mencari apapun informasi mengenai keluarga Wijaya, hingga ia terfokus pada Wilona yang kemungkinan besar akan bertemu dengan Marcell atau Nara.
Gio tahu, jika keselamatan istri dari tuannya atau nonanya kini sedang diincar oleh keluarga Wijaya. Gio berpikir, jika hanya karena Nara menolak permintaan mereka, mereka tidak akan gencar mencari Nara dan ingin membawanya, karena jika mereka ingin segera membunuhnya, bukankah itu mudah ?. Karena mengingat keluarga Wijaya yang memiliki bodyguard nya sendiri atau bahkan mereka bisa menyewa pembunuh bayaran.
__ADS_1