
Nara tersenyum dan mengecup pipi suaminya. Hmm pasti aku bercerita, namun sekarang aku hanya lelah, tidak ada yang aku pikirkan !" Balasnya membuat Marcell tersenyum.
Nara sangat senang Marcell benar-benar perhatian padanya, bahkan tahu jika dia kini sedang memikirkan sesuatu.
Marcell tersenyum mendapat ciuman singkat dari istrinya meski hanya di pipinya.
"Sayang, bagaimana jika kita pulang ke penthouse?"
"Pulang ke penthouse ?" Tanya Nara memastikan sambil sedikit menjauh dari suaminya dan Marcell yang tersenyum pada Nara.
Tanpa meminta persetujuan istri cantiknya, Marcell melajukan mobilnya menuju Penthouse, membuat Nara menggelengkan kepalanya.
Tak lama mereka pum sampai, dan Marcell yang sudah merebahkan dirinya di atas pembaringan.
"Aku rindu tempat ini !" Celetuk Marcell membuat Nara terkekeh gemas.
"Hubby apa ibu akan marah nanti ?" Nara yang mendekat ke arah suaminya dan duduk di pinggir ranjang.
Marcell bangkit dan memeluk istrinya dari belakang." Tidak akan, dia mungkin hanya akan kesal padaku, karena menculik menantu cantiknya!" Balas Marcell sambil menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nara.
Nara terkekeh. "Hubby kau ada - ada saja, bersihkan dirimu lebih dulu!" Ujar Nara.
Marcell mengeratkan pelukannya tidak ingin lepas." Hmm tidak mau, karena nanti kita akan berkeringat lagi, jadi biar sekalian saja kita bersihkan nanti !" Jawab Marcell tersenyum pada istrinya yang terlihat mendengus kesal. Dia pun mengecup pipi istrinya.
Nara hanya pasrah karena jika Marcell sudah berbicara dia tidak bisa menolak, namun tiba-tiba dia ingin membicarakan hal yang sudah sejak tadi mengganjal dalam pikirannya.
"Hubby, aku takut tidak bisa hamil, apa jika aku tidak bisa hamil kau akan menceraikan aku?" Tanya Nara lirih membuat Marcell melepas pelukannya dan memegang bahu istrinya mengarahkan badannya untuk menghadap dirinya.
"Jadi ini yang kau pikirkan sejak tadi?" Tanya Marcell dan Nara mengangguk lemah.
Marcell menghela nafasnya. " Dengar sayang, kita belum satu bulan menikah, kita bisa terus berusaha, jangan berpikir jauh, bahkan berpikir buruk, kau harus optimis, jika kita tidak akan di berikan keturunan aku tidak masalah, aku tidak mungkin menceraikan mu, sayang begini saja, agar kau yakin dan agar kau tidak perlu takut lagi, kita bisa konsultasi ke dokter kandungan untuk program hamil, kau mau ?"
__ADS_1
Nara mengangguk semangat, tentu dia mau, dengan begitu dia akan tahu tentang dirinya, Nara pun memeluk suaminya.
"Aku juga berharap akan cepat mengandung anak mu Hubby." Ucap Nara dalam pemikirannya.
Marcell tersenyum." Jika begitu aku harus terus menanam benihku agar bisa cepat tumbuh menjadi anak yang menggemaskan !" ucap Marcell dengan mengeratkan pelukannya.
Nara terkekeh. "Ya lakukanlah, aku ingin cepat memiliki anak dari mu, pria atau wanita ?"
"Pria atau wanita tidak masalah untuk ku, selagi itu anak-anak kita." jawab Marcell sambil melepas pelukannya dan lalu mencium bibir Nara dan di balas olehnya.
Dan malam ini di penthouse menjadi saksi bisu untuk kesekian kalinya mereka memadu kasih, saling menyalurkan perasaan cinta dan berharap akan segara menghadirkan buah hati mereka.
Di sebuah Club malam, seorang wanita dengan pakaian sexy sedang duduk seorang diri dengan beberapa botol minuman yang berada di atas meja, wanita itu sudah terlihat mabuk, namun ke inginan untuk meminum minuman beralkohol tidak ingin ia hentikan begitu saja.
Wanita itu tertawa miris, sambil meminum, minumannya dengan sekali tegukkan.
"Ssshhh ash.." Desisnya dengan sambil menuangkan kembali minuman ke gelasnya.
Wanita itu tampak terlihat kacau, bahkan terlihat menangis. Tanpa wanita itu sadari, ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikannya di meja bartender, dengan segelas minuman dan sebuah rokok yang ia hisap.
"Kau mengenalnya tuan ?" Tanya seroang bartender.
Pria itu menggelengkan kepalanya. " Aku hanya tahu dia siapa." Jawabnya singkat.
Bartender itu mengangguk. "wanita itu kuat minum, sudah habis 2 botol tapi masih terlihat baik-baik saja, bahkan dia memesannya lagi."
Mendengar itu pria itu tersenyum tipis dan terus memperhatikan nya, wanita yang sempat membuat nya kesal karena menyebutnya seorang penyusup.
Ya, dia Sisca dan pria itu adalah Gio. Gio sedikit khawatir pada Sisca karena Sisca seorang diri datang ke club malam, bahkan terlihat mabuk berat.
Apa yang membuatnya mabuk. Ck. Kenapa aku harus memikirkannya Pikir Gio.
__ADS_1
Gio yang menepis jika dia tidak ingin khawatir pada Sisca dan mencoba untuk tidak peduli, namun saat dia ingin mengalihkan pandangannya, Sisca di datangi oleh 3 orang pria dan membuat Gio kembali memperhatikan Sisca.
"Hey cantik, kau sendiri ?" tanya salah satu pria di sana.
Sisca mengangguk dan tersenyum pada pria itu, dan Sisca yang terlihat sudah sangat mabuk " Aku Cantik?"
Celetuk Sisca membuat ketiga orang itu tertawa.
"Ya kau sangat cantik Nona, kau mau ikut dengan kami?" Tawar nya dengan melihat Sisca dengan tatapan lapar.
"Tidak, kalian bukan orang baik !" Balas Sisca yang menolak namun Sisca sudah di pegang oleh dua orang pria lainnya dan akan membawa Sisca.
Sisca tidak bisa memberontak karena badannya sudah di kuasai oleh alkohol bahkan matanya yang sudah tidak bisa melihat jelas hingga akhirnya dia pun tidak sadarkan diri yang membuat ketiga pria itu tertawa senang.
"Kita dapat santapan bagus bos!" Celetuk salah satu pria yang memegang Sisca.
Bos nya yang melihat itu tersenyum puas dan mereka pun akan membawa Sisca bersama dengan nya, namun ketika mereka akan membawa Sisca, Gio datang dan merebut Sisca dari dua pria yang memegangnya.
Dan ketiga pria itu pun menggeram marah karena Gio berani merebut Sisca dari mereka. "Siapa kau ? jangan menganggu kami!"
"Aku siapa bukan urusan kalian, pergilah wanita itu kekasihku!" Jawab Gio sambil meletakkan Sisca di kursi tempat dia duduk sebelumnya.
Ketiga pria itu tertawa tidak percaya dengan ucapan Gio. "Kau jangan bercanda aku lihat sejak tadi dia sendiri!"
"Terserah, aku tidak peduli kalian percaya atau tidak, pergilah !" Usir Gio, namum mereka tidak mau pergi begitu saja tanpa membawa Sisca.
Hingga akhirnya perkelahian pun terjadi dan Gio yang sudah terlatih tidak akan terkalahkan dengan mudah oleh mereka bertiga.
Ketiga orang itu pun kalah dan mereka pun akhirnya menyerah dan merelakan Sisca bersama Gio.
Gio menatap kepergian ketiga orang itu, laku pandangan nya ia jatuhkan pada Sisca.
__ADS_1
"Ck, menyusahkan !" Decak kesal Gio sambil mengangkat tubuh Sisca dan menggendongnya ala bridal Style, membawanya keluar dari Club Malam dan memasukkan nya ke dalam mobil mengantarkannya pulang. nya, berniat