
"Tidak apa ke, aku sudah memaafkan nya, temui lah jika hanya sesekali, mungkin itu akan membuatnya tenang." Ujar Nara.
Kim Ye joon mengangguk. Nara baginya sangat mencerminkan sifat dari Ahn Jeong yang pemaaf dan sangat baik.
"Jangan lupa untuk mengabari kakek kelahiran anak kalian, kakek akan usahakan datang nanti."
Marcel dan Nara mengangguk." Baik ke, kakek jaga kesehatan, jangan terlalu lelah bekerja, bukan kah ada cucu kakek."
"Kau benar, aku sudah terlalu tua untuk bekerja, jika aku memilih tinggal bersama mu apa boleh?"
Nara menatap suaminya karena tidak bisa memutuskannya sendiri. Marcel tersenyum " Tentu, tempat kami terbuka untuk kakek." Kim Ye Joon pun tersenyum senang mendengar jawaban Marcel begitupun dengan Nara.
"Hanya saja jika keluarga kakek yang berada disini mengizinkan !"
"Haah, Kau benar dan seperti nya itu sulit, apa lagi Ha Yoon." Balasnya, Marcel dan Nara tertawa.
"Kakek jangan khawatir, kami akan usahakan sering menemui kakek." Jawab Marcel yang di angguki Nara.
"Hmm aku akan menantikan nya."
Samuel terlihat bergegas berjalan menuju sebuah kamar apartemen yang di tempati Wilona, karena pagi tadi di perusahaan nya, ia di datangi oleh seorang pria yang tak lain adalah pengacara Ridwan yang tiba berbarengan bersama dengan Reno.
Pengacara Ridwan bergerak cepat untuk mengabulkan permintaan Nara, untuk melepaskan kontrak pernikahan Wilona dengan Samuel.
"Tuan?" Wilona terkejut jika Samuel pagi tadi sidah berangkat namun siang ini sudah kembali lagi ke apartemen.
"Bereskan semua pakaianmu, aku sudah menceraikan mu, kau bebas dari ku !" Ucap Samuel membuat Wilona terlihat senang.
Apa ayah sudah berhasil merebut harta anak sampah itu?
__ADS_1
Bagus lah... Hahaha.
"Ch, aku tidak menyangka kau sesenang ini, pergi dan jangan bawa apapun di apartemen ini, aku hanya memberikan sejumlah uang dalam rekening mu?"
Wilona tidak banyak bicara dan hanya mengangguk serta langung membereskan pakaian nya, memasukkan nya kedalam koper.
Samuel setelah berbicara panjang lebar, ia melihat Wilona yang sedang membereskan pakaiannya, Wilona terlihat tersenyum sendiri, seperti sedang memikirkan hal yang membuatnya senang.
Samuel tahu, jika kedua orang tuan Wilona kini tengah berada di kantor polisi, namun ia tidak mau memberitahukannya pada Wilona, biarkan dia mengetahuinya sendiri.
"Ck, aku harap kau akan menyesal karena terlepas dari ku.'
"Menyesal, tidak tuan, justru saya senang, terimakasih, aku akan segera menemui kedua orang tua ku."
Wilona pun keluar apartemen yang membuat Samuel tersenyum miring." Ck, temui saja mereka di dalam penjara, dan berdoa agar kau tidak ikut terseret masuk bersama orang tuamu!"
Wilona terlihat sangat gembira, karena terlihat dari ekspresi wajahnya, kedua sudut bibirnya terangkat karena kini ia bisa bebas dari Samuel, ia bisa melakukan apapun lagi sesukanya, apa lagi jika kedua orang tuanya bener-benar sudah berhasil mengambil alih semua nya.
"Tapi, mengapa mereka tidak menghubungi ku, jika ayah mungkin dia masih berada di korea, lalu ibu ?" Wilona yang sedikit heran karena tidak ada kabar dari mereka, terutama ibunya.
Tak ingin banyak berpikir, ia memilih mempercepat laju mobilnya menuju kediaman Wijaya, ia berpikir jika mungkin saja ibu dan ayah nya masih sibuk, hingga tidak bisa mengabarinya.
Mobil yang di kendarai Wilona terparkir rapih di halaman rumah. Wilona keluar dari mobilnya dan sedikit heran ketika melihat pria asing yang mungkin seumuran dengan ayahnya, sedang duduk di kursi teras rumah dengan secangkir kopi yang tersimpan di meja berukuran kotak kecil yang telah disediakan ART di kediaman Wijaya.
Wilona tidak mau ambil pusing karena mungkin saja itu adalah tamu ibunya, pikirnya.
la mulai melangkahkan kaki untuk memasuki rumah nya, namun yang semakin membuat nya heran pria itu terlihat berdiri seperti sudah menunggu kedatangannya.
"Nona Wilona?" Panggil orang itu tepat saat Wilona sudah menginjakan kakinya di teras rumah.
__ADS_1
Wilona menatap pria itu seolah ia bertanya siapa orang ini dan untuk apa memanggilnya.
"Saya Ridwan, pengacara mendiang kakek nona." Ucap nya membuat Wilona semakin bingung.
Pengacara Ridwan, setelah menemui Samuel, ia langsung ke kediaman Wijaya, menunggu kedatangan Wilona, memperjelas semua masalah yang akan ia hadapi. Sesuai dari instruksi dari Nara dan Marcel, karena Nara dan juga Marcel, masih memikirkan hidup Wilona, dengan harapan Wilona tidak lagi mengusik nya dan yang terpenting mereka ingin Wilona bisa sadar dan berubah, karena apapun rencana jahat yang di rencanakan, pasti tidak akan pernah menang atau berhasil.
"Lalu, oh kau sedang menunggu ibu ku, aku akan panggilkan dia. "Balas Wilona membuat pengacara Ridwan itu tersenyum.
Saat Wilona akan melangkahkan kaki nya kedalam, langkah nya kembali berhenti ketika pengacara Ridwan itu kembali berbicara.
"Tidak, saya sedang menunggu kedatangan anda, nona Wilona." Balas nya membuat Wilona terdiam, namun setelah itu ia tersenyum.
Dia pengacara bukan, menemui ku, apa karena ada harta yang akan aku miliki? Pikirnya yang kembali mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Ekhuem." Wilona menetralkan ekspresinya dan menghampiri pengacara Ridwan lalu duduk di hadapan kursi yang di duduki oleh pengacara Ridwan.
Pengacara Ridwan pun kembali duduk dan mengeluarkan beberapa berkas yang Wilona terima, hingga membuat Wilona semakin penasaran.
"Karena nyonya Anaya sudah tidak ada disini, jadi saya akan menjelaskannya langsung pada anda, jika aset seluruh keluarga Wijaya sudah berpindah tangan pada Nona Nara, atas apa yang sudah Tuan Erick lakukan, di antara nya meninggalnya mendiang Kenzo dan Nyonya Selena karena sabotase rem mobil yang di lakukan orang tua anda dan atas percobahan peembungan nona Nara di korea, tolong nona baca semua nya agar tidak adamya salah paham."
Wilona shock dan terkejut mendengar semua yang sudah di tuturkan oleh pengacara Ridwan, hingga ia berdiri dari duduknnya memaki pengacara Ridwan jika itu semua tidak mungkin terjadi.
Di ambil alih, tidak itu tidak benar bukan? Pikir Wilona.
"Di ambil alih oleh Nara, atas dasar apa hah, itu semua milik ku, milik ayahku !"Geram Wilona pada pengacara Ridwan yang terlihat bersikap tenang.
"Tolong anda baca berkas yang saya berikan, di situ sudah tertulis dengan jelas jika semua aset keluarga Wijaya sudah berpindah tangan pada nona Nara, berikut alasan dan tanda tangan ayah anda yang sudah ada dalam perjanjian sejak dulu, dan itu semua atas wasiat dari kakek anda !"Jelas pengacara Ridwan.
Sedikit merasa kasihan, pengacara Ridwan pada Wilona, karena ia tahu jika Wilona sudah merasa senang bahkan mungkin juga Wilona berpikir jika ayahnya berhasil dengan apa yang sudah di rencanakan sejak lama.
__ADS_1