
Amara menggelengkan kepalanya. "Marcell, apa kau benar-benar sudah tidak ada lagi perasaan untuk ku, bahkan kau secepat ini menikah dengan wanita udik itu, dan aku tidak percaya jika kau benar-benar cinta padanya !"
"Kau percaya atau tidak itu tidak penting bagiku, bagaimana perasaan ku pada istriku, dia lebih yang memahaminya !
Dan kau katakan apa tadi, jika aku bisa secepat ini menikahi Nara, bahkan mencintainya, setelah beberapa hari putus denganmu, Heh...!
Apa kau tidak berkaca jika bahkan kau saja sudah berhubungan dengan Alex sebelum berpisah dengan ku, bahkan dengan alasan jika dia lebih kaya dariku, lalu disini, siapa wanita yang hanya memanfaatkan kekayaan ?
Jadi berhentilah mengganggu hidupku, bukankah kau sudah memiliki Alex yang bisa memberikanmu segalanya!" Hardik Marcell yang geram pada Amara yang sangat tidak tahu malu, Marcell berdiri dari duduk nya dan berniat meninggalkan Amara yang sudah terlihat meneteskan air matanya.
Amara menggeleng keras dan menatap Marcell, ia ikut berdiri dan menatap Marcell dengan derai air matanya yang membasahi wajahnya " Aku tidak percaya kau benar- benar mencintainya, Marcell kumohon maaf kan aku, aku masih sangat mencintaimu, aku menyesal melepasmu, dan memilih Alex yang brengsek itu!"
Marcell terdiam dan menatap Amara, Marcell tahu jika Amara tidak bersungguh-sungguh.
Entahlah, Marcell berpikir memang seperti itu, karena sejak Amara memutuskan dirinya di hadapan kekasihnya, dia sudah enggan percaya dengan apapun perkataan Amara, bahkan Amara pun sudah mengatakan terang- terangan jika dia hanya memanfaatkannya saja.
"Aku sudah memanfaatkan mu, jadi sekarang pergilah !" Ujarnya pada Amara yang langsung mendongkak dengan wajah berbinar jika Marcell memaafkannya, dan Marcell yang berharap Amara akan segera pergi dari hadapannya.
"Benarkah, kau memaafkanku, kau sudah menerima ku kembali disisimu?" Tanya Amara sambil menghapus air matanya dan tersenyum pada Marcell.
"Kembali ke sisi ku !" Ucap Marcell mengulang apa yang dikatakan Amara, dan Amara pun mengangguk.
Marcell berdecak " Aku memaafkanmu, bukan berarti hubunganku denganmu kembali seperti dulu, kau hanya masa lalu ku, Amara!"
Mendengar itu wajah Amara kembali bersedih." Mengapa ! mengapa kita tidak bisa kembali seperti dulu, apa karena istrimu, kau bisa menceraikannya kan Marcell !" Lirih Amara.
"Kau gila Amara !"Geram Marcell.
"Aku tidak akan pernah menceraikan istriku, bahkan jika benar aku akan bercerai dengannya, bukan berarti kau akan menggantikannya menjadi istriku !"
"Pergilah kau membuang waktuku ! dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku, aku muak melihatmu!" Geram Marcell pada Amara dan mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Amara tidak percaya mendengar perkataan Marcell yang benar-benar menolaknya.
__ADS_1
Amara berbalik dan melihat ke arah Marcell yang sudah sedikit menjauh dari nya. "Jadikan aku istri keduamu Marcell !" Ucap Amara dengan lantang, beruntung suaranya tidak terdengar hingga di telinga penghuni mansion lainnya.
Mendengar perkataan Amara, membuat Marcell berhenti dan berbalik kembali ke arahnya, bahkan Amara terlihat tersenyum.
Amara pun berpikir jika Marcell akan menerimanya, bukankah pria akan sangat senang mempunyai banyak istri, itu lah dalam pikiran Amara, meski setelahnya ia memiliki rencana untuk menggeser posisi Nara jika dirinya benar-benar akan dinikahi Marcell, menjadi istri keduanya.
"Kau ingin menjadi istri kedua ku?" Tanya Marcell dengan nada rendah seolah ia tidak ingin ada yang mendengar perkataan nya.
Amara mengangguk semangat "Ya Marcell, aku rela meski hanya menjadi istri keduamu, aku benar-benar mencintaimu!" Jawabnya lembut.
Marcell pun tertawa " Hahaha, aku tidak mengerti kau wanita seperti apa Amara!
Dengar ini, aku tidak akan pernah mengkhianati istriku, jadi kau sudah tahu bukan jawabannya, sekarang pergilah dan jangan pernah mengganggu hidupku bersama istriku lagi,!"
Setelah mengatakan itu, Marcell pun benar-benar meninggalkan Amara, tidak peduli dengan apapun yang akan Amara katakan setelahnya, dia sudah sangat lelah, jika harus terus meladeni Amara yang tidak tahu malu itu.
Amara terlihat sangat marah, ia menggertakkan giginya, rahang mengeras bukan tangannya yang terkepal kuat.
"Sial, Marcell ! kau benar-benar menantangku, aku tidak akan berhenti mendekatimu, sebelum aku bisa menikmati kekayaan mu!" Gumam Amara setelah berada di dalam mobilnya, dan segera menyalakan mesin mobilnya dan menginjak gas, pergi meninggalkan Mansion yang sangat ingin ia tempati.
Marcell memasuki kamarnya dan melihat istrinya yang sudah membersihkan diri, Marcell berjalan dan mendekati istrinya yang belum menyadari kedatangannya, karena sibuk mengeringkan rambutnya.
Marcell memeluk Nara dari belakang, dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Nara tersenyum jika suaminya kini sudah ada bersama dengannya.
"Amara sudah pergi ?"
"Hmm..!" Jawab Marcell yang masih nyaman dengan posisinya.
"Ada apa, apa dia membuatmu kesal ?" Tanya Nara karena melihat raut wajah suaminya yang terlihat menahan amarahnya.
Nara tidak ingin bertanya lebih dulu tentang apa yang sudah mereka bicarakan, karena ia yakin, jika Marcell akan menceritakan semua kepadanya, meski tidak hari ini.
__ADS_1
"Ya, dia membuatku kesal karena harus lama berpisah denganmu, karena aku yang tidak bisa jauh dari mu!" Jawab Marcell sambil mencium pipi istri cantiknya.
Nara terkekeh gemas pada Marcell yang menjawab dengan gombalannya.
"Aku tidak menyangka seorang CEO sepertimu bisa berbicara gombal !"
Marcell tertawa dan membalikkan tubuh istrinya sibuk mengeringkan rambutnya.
Marcell memeluk Nara dari belakang, dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Nara tersenyum jika suaminya kini sudah ada bersama dengannya.
"Amara sudah pergi ?"
"Hmm..!" Jawab Marcell yang masih nyaman dengan posisinya.
"Ada apa, apa dia membuatmu kesal ?" Tanya Nara karena melihat raut wajah suaminya yang terlihat menahan amarahnya.
Nara tidak ingin bertanya lebih dulu tentang apa yang sudah mereka bicarakan, karena ia yakin, jika Marcell akan menceritakan semua kepadanya, meski tidak hari ini.
"Ya, dia membuatku kesal karena harus lama berpisah denganmu, karena aku yang tidak bisa jauh dari mu!" Jawab Marcell sambil mencium pipi istri cantiknya.
Nara terkekeh gemas pada Marcell yang menjawab dengan gombalannya.
"Aku tidak menyangka seorang CEO sepertimu bisa berbicara gombal !"
Marcell tertawa dan membalikkan tubuh istrinya hingga berhadapan dengannya. "Itu bukan sebuah gombalan, itu benar sungguh apa yang aku rasakan !"
Nara tersenyum " Bersihkan dirimu, aku tidak ingin ada bau wanita lain pada tubuhmu !" Ujarnya pada Marcell.
"Baiklah sayang, setelah itu aku boleh memintanya ?" Tanya Marcell dengan ekspresi penuh harap.
Nara tersenyum dan mengangguk "Buka kah aku sudah menjadi milikmu, kau bebas meminta kapanpun !" Jawabnya sambil mengecup sekilas bibir Marcell dan dengan segera mendorongnya ke arah kamar mandi agar Marcell segera membersihkan dirinya.
__ADS_1