Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 37


__ADS_3

"Ya sudah pak, bilang terima kasih pada putri bapak, untuk saat ini saya belum mau sarapan mau menunggu istri saya bangun lebih dulu.!" Ucap Marcell membuat Pak Amir mengangguk mengerti.


Marcell yang tadinya ingin membuat sarapan untuk istrinya di urungkan, karena ia pikir Ayu masih ada di dapur, karena takut jika nanti Nara bangun dia akan salah paham, mengingat saat malam Nara sudah sangat kesal pada Ayu.


Marcell pun kembali ke kamarnya, dan memilih berdiam diri di balkon kamar, menunggu istrinya terbangun dengan sabar sambil memainkan HP nya.


Ayu menghampiri bapaknya yang terlihat sudah selesai membersihkan ruang tengah.


"Pak, bukannya tak Tuan Marcell sudah bangun ya, kenapa ga sarapan?"


"Istrinya belum bangun, Tuan Marcell mau nunggu istrinya bangun lebih dulu." Jawab Pak Amir yang membuat Ayu menggeleng heran.


"Aneh ya pak, seharusnya seorang istri itu yang lebih dulu bangun, siapin sarapan buat suaminya, ini ko malah suaminya yang bangun lebih dulu." Ucap Ayu panjang lebar.


"Sudah, jangan ikut campur, lagi pula kamu belum ngerti, ayo kita pulang, sudah selesai bukan ?" Ajak Pak Amir pada Ayu untuk kembali ke rumahnya.


"Apanya yang belum ngerti coba pak, bapak duluan saja, Ayu masih ada cucian piring belum dibersihkan." Ujarnya pada Pak Amir, yang padahal semua sudah beres ia kerjakan, hanya saja Ayu ingin bertemu lebih dulu dengan Marcell.


Pak Amir hanya mengangguk saja, dan berlalu meninggalkan putrinya.


Ayu yang melihat bapaknya pergi, ia lantas duduk di sofa ruang tengah di Villa, menunggu Marcell keluar dari kamarnya.


"Enak banget jadi orang kaya, bangun juga bisa siang, semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan, ga kaya aku, meski bangun pagi sekali, bahkan harus pergi ke pasar bantu ibu.!" Gumam Ayu, yang mendambakan bisa menjadi orang kaya.


Di kamar, Nara sudah terbangun namun ia tidak mendapati suami di sampingnya, ia lantas duduk dan menelisik kamarnya, dan Nara menemukan Marcell yang ternyata sedang berada di balkon kamarnya.


Nara kemudian bangun dengan menyeret selimutnya ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri. Marcell menyadari jika Nara sudah terbangun, ia pun tersenyum melihat Nara membawa selimutnya ke kamar mandi.


"Ck, sayang padahal hanya ada aku disini, untuk apa kau menutupinya lagi. " Gumam Marcell yang terus memandangi Nara hingga masuk ke dalam kamar mandi.


Marcell mendengar jika suara motor Pak Amir sudah berjalan menjauh dari Villa. Marcell pun berpikir jika Ayu pergi bersama bapaknya.

__ADS_1


Marcell berdiri dari kursinya dia ingin pergi ke dapur untuk membuat kopi untuk nya dan juga untuk istrinya.


Marcell keluar kamar, dan berjalan menuju dapur, dan tidak menyadari akan keberadaan Ayu. Ayu melihat Marcell berjalan ke arah dapur pun mengikutinya.


"Tuan Marcell mau sarapan, Ayu sudah buatkan untuk tuan Marcell.?" Tawar Ayu ketika mereka sudah berada di dapur.


Marcell, ia terkejut mendengar suara dari Ayu, ia pun berbalik memandang Ayu jengah, sebaliknya Ayu memandang Marcell dengan tersenyum manis.


"Mengapa kau masih disini ?" Tanya Marcell dingin.


"Aku disini siapa tahu tuan Marcell membutuhkan bantuan saya." Ucapnya lembut.


Marcell berdecak. "Bukankah sudah kukatakan jika asa istriku yang melayaniku, jadi kau tidak perlu merepotkan dirimu !"


"Ayu tidak merasa direpotkan tuan Marcell." Jawabnya dengan menunduk karena Marcell terlihat kesal padanya.


"Lagi pula istri Tuan Marcell masih tertidur bukan, jadi biarkan Ayu yang melayani Tuan Marcell. " Ucap Ayu tidak tahu malu.


"Pergilah, aku sama sekali tidak membutuhkanmu, dan katakan pada bapak mu siang ini aku akan kembali ke Jakarta !" Ucap Marcell tidak ingin lagi meladeni Ayu, ia dengan cekatan membuat kopi yang tersedia di sana, dua buah kopi dan juga beberapa roti yang disimpan di nampan yang akan dibawa ke kamarnya, dan sarapan yang dibuat oleh Ayu tidak disentuh sama sekali oleh Marcell.


Ayu terdiam menatap Tuanya, yang terlihat sedang membuat kopi, padahal di sana ada dirinya namun Marcell tidak ingin menyuruhnya.


Marcell telah selesai membuat kopi dan sarapan, ia langsung membawanya ke dalam kamar, tanpa menghiraukan lagi Ayu.


Ayu menatap nanar kepergian Marcell, yang tidak peduli sama sekali pada dirinya, bahkan makanan yang dibuat olehnya sejak pagi tadi tidak dia sentuh, jangankan disentuh, dilihat saja tidak.


"Aku memang mencoba mendekatinya, rupanya dia pria yang sulit disentuh,"


"Ayu kau benar-benar telah salah !" Gumamnya sendu.


Ayu tidak pernah segiat ini mendekati pria, meski ia memiliki sebuah impian menikahi pria kaya dan tampan, namun rupanya kehadiran Marcell membuat akal sehat nya menghilang.

__ADS_1


Ayu pun dengan segera meninggalkan Villa dan dengan cepat kembali ke rumahnya.


Marcell menyimpan makanan yang ia bawa ke teras balkon kamarnya, menyimpannya di sebuah meja kecil.


Tak lama Nara terlihat sudah segar dan cantik, dengan mengenakan dress pendek selutut, dengan rambut panjang yang di gerai begitu saja.


Nara pun menghampiri Marcell yang berada di balkon.


"Mengapa kau tidak membangunkan ku ?"


Marcell tersenyum. "Aku tidak tega membangunkanmu, kau terlihat sangat lelah." Nara berdecak mendengar jawaban Marcell, mengingat semalam Marcell benar-benar tidak melepaskannya.


"Sudah, kita sarapan saja dulu, sore nanti kita meski kembali ke jakarta!" Ujar Marcell.


Mendengar ini Nara, menghela nafasnya. "Baiklah .!" ucapnya pasrah bibir yang cemberut.


Marcell mengerti dengan perasaan istrinya."Nanti jika ada waktu kita kemari lagi, atau kamu mau kemana pun, suami mu ini akan mengikuti kemauanmu.!"


Mendengar ini Nara kembali tersenyum, sungguh baginya berlibur adalah sesuatu yang sangat menyenangkan untuknya, terlebih dengan suasana alam.


"Kau sudah berjanji padaku, jadi kamu tidak bisa lagi membantahnya. !" Ucap Nara dengan memberikan jari kelingkingnya pada Marcell yang dengan segera di sambut olehnya.


Gavi mengacak-acak rambut Nara gemas, sungguh ia benar-benar jatuh cinta pada wanita di hadapannya.


Nara berdecak kesal dan memukul lengan Marcell yang mengacak-acak rambutnya.


"Apa kau ingin berjalan jalan lebih dulu?"


Nara sedikit berfikir, sambil merapikan rambutnya, setelah itu ia menggelengkan kepalanya. "Kita di Vila saja, jika kita berjalan jalan aku takut kau akan kelelahan nantinya. " Ujar Nara yang mengingat jika Marcell yang akan menyetir dengan perjalanan yang cukup jauh.


Marcell tersenyum dan mengangguk. "Jika begitu mungkin kita bisa berusaha lagi untuk menghadirkan juniorku.!" Ucap Marcell dengan tatapan nakalnya.

__ADS_1


Nara melotot ke arah Marcell.


"Dia menginginkannya lagi, bahkan tubuhku saja masih terasa remuk !" Pikir Nara kesal.


__ADS_2