Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 98


__ADS_3

Reno tetap diam dan santai, dia membiarkan Gio yang mengatasi Roni tidak mau terprovokasi oleh Roni yang hanya akan membuang waktunya.


"Tuan, Reno dia sudah melalui prosedur yang ada, bahkan dia sudah di berikan arahan langsung oleh asisten sebelumnya, jadi meski Reno sahabat dekat Marcell. tapi jika menurut Asisten sebelumnya Reno tidak memiliki kualifikasi yang bagus dia tidak akan mejadi asisten Marcell saat ini. Aku rasa sampai disini anda mengerti tuan, kami tidak bisa asal menerima pekerja di Admaja Company!"


Tegas Gio membuat Roni pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan kesal.


Reno menghela nafasnya dan Gio yang menggelengkan kepalnya seolah dia tidak mengerti mengapa masih ada orang seperti Roni.


"Teman kuliah mu?" Tanya Gio dan Reno mengangguk.


"Lebih tepatnya teman yang selalu membully ku dan Marcell !" Gio menghela nafasnya.


"mungkin dia merasa tidak terima jika kau dan Marcell lebih sukses darinya !" Sehingga dia bersikap seperti ini.


Reno mengedikkan bahunya acuh. "Aku tidak peduli, lagi pula dia hanya pria manja yang mengandalkan kekayaan kedua orang tuanya. Maka tidak heran jika saat ini dia sulit mencari pekerjaan, karena dia tidak mau jika hanya sebagai karyawan biasa, untuk itulah dia ingin meminta bantuan Marcell hingga Marcell bisa memberikan posisi penting di perusahaan !"


Gio mengerti kini mengapa pria itu bersikeras meminta bertemu dengan Marcell. "Apa Marcell mengudang nya di acara resepsi ?" Tanya Gio pada Reno sambil melanjutkan acara makan siang yang sempat tertunda.


Reno menggelengkan kepalanya. " Tidak ada teman kuliah yang di undang olehnya, Marcell hanya mengundang rekan bisinis dan orang terdekat, termasuk sewaktu dia belum menjadi CEO."


"Lagi pula Marcell tidak memiliki banyak teman di masa kuliahnya, dia belajar dengan bersungguh- sungguh karena mengikuti program akselerasi !" Lanjut Reno


Gio pun mengangguk mengerti. "Dia pria yang keras kepala, jika di undang aku khawatir dia akan membuat kekacauan di acara Marcell!" Reno mengangguk membenarkan.


Malam hari Di mansion, Marcell dan Nara yang tengah berbaring di tempat tidur.


"kau baik-baik saja?" Tanya Marcell Khawatir pada Nara yang terlihat pucat.


Nara mengangguk. " Aku hanya sedikit pusing, Hubby apa ini karena aku banyak makan ?" Tanya Nara membuat Marcell tertawa geli.

__ADS_1


"Mana ada banyak makan membuat mu pusing sayang, jika itu membuatmu gemuk baru masuk akal !" Ucap Marcell sambil terkekeh.


Nara mengangguk. "Jika aku gemuk kau tidak kan mencampakkan ku bukan?" Tanya Nara membuat Marcell menarik Nara dalam pelukannya.


"Bukankah aku sudah bilang. Aku tidak masalah akan bentuk tubuh seperti apa kelak, mau gemuk atau pun langsing. Selama itu kau. Aku tidak akan meninggalkanmu.!" Jawab Marcell membuat Nara tersenyum dalam pelukan nya.


"Aku suka seperti ini. Jika bisa jangan lepaskan pelukan mu hingga ku tertidur.!" Pinta Nara pada suaminya, yang saat ini sangat senang jika terus berada di dalam pelukan Marcell.


"Hamm tidurlah, aku akan terus memelukmu." Balasnya dan mencium kening Nara, sebelum ia ikut memejamkan matanya juga.


Nara dalam hatinya saat dia bangun nanti, dia berharap apa yang di inginkan oleh nya dan juga keluarga bisa tercapai.


Kehamilannya yang sudah di tunggu, baik oleh Marcell dan kedua mertuanya.


Aku harap kau sudah ada bersama dengan ibu nak, ibu sangat berharap, begitu juga dengan ayahmu. Ucapnya dengan mengelus lembut perutnya.


.


.


Amara yang sudah mengenalkan Raina pada Alex saat makan malam, karena Alex yang baru datang menemuinya.


Raina yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Amara dan Alex tengah berbincang di ruang tengah.


"Jadi mereka menyetujui mu membawa Raina karena berjanji akan memberikan uang yang banyak, namun rupanya itu hanya bualan saja?" Tanya Alex kembali memastikan apa yang sudah di ceritakan oleh Amara.


"Hmm, aku harus bagaimana lagi, jika Rai terus berada disana, itu akan membawa pengaruh buruk padanya dan juga aku khawatir jika suatu saat Rebeca akan melukainya.


"Kau tahu Alex, biar kan saja aku yang di nilai buruk oleh semua orang, tidak dengan adikku, dia masih belum mengerti sepenuh nya!" Lanjut Amara.

__ADS_1


Alex mengangguk mengerti. "Lalu apa yang kau minta dari ku untuk mengurus mereka!" Tanya Alex karena Amara berkata jika dia butuh bantuan Alex, namun dia belum mengatakan apapun perihal apa yang harus Alex lakukan.


"Aku hanya ingin kau membantuku untuk mengawasi Rebeca, jangan sampai dia melukai ayahku, meski dia sudah tidak peduli padaku dan juga Rai, namun aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja.!" Ucap Amara membuat Alex tersenyum "Baiklah aku akan menyuruh orang untuk mengawasinya, oh ya, hari minggu kau mau menemaniku menghadiri acara resepsi Tuan Marcell?" Tanya Alex pada Amara.


Amara terdiam ia bingung antara ikut atau tidak, dia hanya takut saat datang dan bertemu dengan teman- teman nya dan saat itulah dirinya akan malu, karena sempat berkata jika dirinya adakah istri sah Marcell bukan pelakor!


"Kau takut?" Tanya Alex pada Amara yang terdiam.


Takut bukan sebenarnya aku tidak mau mempermalukan diriku lagi, terlebih kini ada Raina bersamaku.


Alex menghela nafasnya melihat keterdiaman Amara. " Jika kau mau, kau ikutlah datang denganku dan aku juga mau kau meminta maaf pada tuan Marcell dan juga istrinya. Amara aku tahu hatimu baik, kau hanya salah dalam bergaul, semoga kau mau mengikuti saranku!" Lanjut Alex lagi karena Amara belum merespon apapun.


Amara masih diam belum bisa mengatakan apapun.


Minta maaf?


Ch yang benar saja, aku tidak melakukan kesalahan apapun, kemarin aku hanya memperjuangkan hidupku.


Berjuang tidak salah bukan?


"Amara kita akan menikah, aku harap kau akan serius dalam hal ini, jika kau tidak serius aku akan mundur, kau tahu bukan rasanya berjuang sendiri seperti apa ?"


"Aku memang salah memaksamu menikah denganku, dan kini aku berpikir lagi jika kau masih menganggap ini bukan suatu keseriusan ku, maka lebih baik kita akhiri, aku hanya ingin menikah satu kali di hidupku. Tolong pikirkan ini baik-baik?" Ucap Alex yang mencoba menyadarkan Amara agar bisa menerimanya dengan tulus dihatinya.


Alex pun pergi meninggalkan Amara di apartemennya, dia berharap Amara bisa berubah.


Amara menatap nanar Alex yang pergi dari apartemennya, ada perasaan takut jika Alex akan benar- benar pergi meninggalkan nya.


Amara dia memang belum tahu perasaanya terhadap Alex seperti apa, namun melihat kebaikan dan ketulusan Alex membuat dia sedikit melunak.

__ADS_1


Amara mendesah pelan, sebenarnya dia memang sudah menerima Alex, namun bicara dengan hatinya dia masih bingung, selain Aex, Amara juga mendambakan pernikahan yang hanya terjadi satu kali di hidupnya.


__ADS_2