
Nara dan Marcell yang berjalan memasuki mansion, setelah menginstruksikan agar membawa belanjaannya ke kamar mereka dan meminta beberapa maid agar langsung merapikannya. Marcell dan Nara terkejut ketika melihat adanya Amara di mansion bahkan dekat dengan Safira.
"Kalian sudah berbelanja !" Tanya Safira terkejut karena banyak sekali yang mereka beli, hingga seperti mereka yang baru pindahan.
Nara tertunduk malu, takut jika Safira berpikir buruk tentang nya, sedangkan Marcell dia mengelus tangan Nara lembut seolah dia tahu apa yang di pikirkan oleh Nara.
Saat Marcell ingin berbicara dan menjawab pertanyaan Safira, Amara lebih dulu mengatakan sesuatu yang membuat Marcell berdecak kesal bahkan terlihat marah.
"Lihatlah tante, masa kelakuan istrinya Marcell seperti itu, belum satu bulan menikah dia sudah terlihat menguras ATM Marcell !" Ucap Amara sinis, ia yakin jika Safira akan berpikir sama seperti nya dan Safira akan menjadi benci pada Nara.
Nara semakin menundukkan dirinya, ia sungguh takut dengan apa yang akan di katakan oleh Safira, apa Safira kan membencinya, pikir Nara.
Nara, jika hanya berhadapan dengan Amara itu tidak akan jadi masalah, malah mungkin dia akan membalas perkataan Amara, namun jika harus berhadapan dengan Safira, ia tidak bisa berbuat apapun, terlebih dia masih merasa tidak pantas dan bersalah jika akhirnya Marcell harus menikahinya.
Safira mendengar itu terkejut dan tidak menyangka jika Amara sangat berani berkata seperti itu.
"Amara, bagi tante itu tidak masalah, karena harta Marcell adalah harta Nara juga, dia istrinya, jadi wajar, selagi Marcell memang menyanggupinya." Papar Safira pada Amara dengan sedikit kesal, karena Safira tahu jika Amara seperti ingin menjelekkan menantunya.
Amara menjadi sangat kesal, mendengar Safira membela Nara, sedangkan Nara dan Marcell mereka tersenyum, terlebih Nara yang tersenyum mengejek pada Amara.
Marcell pun bersyukur jika ternyata ibunya tidak mempermasalahkan hal ini "Amara, untuk apa kau kemari ?" Tanya Marcell dengan nada datarnya.
"Aku merindukanmu Marcell, dan ada hal yang ingin aku katakan padamu !" jawab Amara lembut seolah ia sudah tidak merasakan kekesalannya lagi dan malah tersenyum manis pada Marcell.
Marcell mendengus kesal mendengar perkataan Amara, begitu pun dengan Nara.
__ADS_1
Sama halnya nya dengan Safira, ia terlihat menggelengkan kepalanya pada Amara, seolah wanita ini tidak tahu malu berkata jika dirinya merindukan Marcell, yang sudah menjadi suami orang bahkan tepat di hadapan istrinya..
"Sudah, nanti di lanjutkan lagi bicaranya, kita makan malam dulu!" Ujar Safira yang melihat situasi sudah tidak kondusif lagi, dan Safira pun terpaksa mengajak Amara untuk makan siang bersama, bagaimana pun dia sebagai tuan rumah yang meski ramah pda tamunya.
Safira pun bersama Amara lebih dulu melangkah masuk kedalam mansion, yang di susul oleh Marcell dan Nara di belakangnya.
"Lihatlah mantamu, dia tidak tahu malu terus mengejar mu !"
Marcell mengangguk membenarkan "Hmm, aku kasian pada kekasihnya, Amara harus bersikap seperti ini !"
"Kau mengenal kekasihnya?"
"Hmm, dia adalah direktur keuangan di perusahaanku." Jawab Marcell dan Nara mengangguk.
Mereka mereka berbicara Dengan sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh Amara yang berada di depannya bersama Safira.
Setelah makan malam, kini Marcell dan Amara berbicara hanya berdua saja karena permintaan Amara. Awalnya Marcell menolak dan meminta Nara ikut bersama dengannya, berbicara bertiga dengan Amara.
"Tidak apa sayang, kau bicaralah berdua dengannya, selesaikan masalahmu dengannya!" Ucap Nara pada Marcell, karena dia sudah sangat percaya pada suaminya.
Marcell mendesah pelan, sungguh ia sangat malas berbicara dengan Amara. Akhirnya dengan terpaksa ia pun mau tidak mau berbicara dengan Amara berdua saja.
Marcell bersama Amara pergi ke ruang tengah, awalnya Amara ingin menggandeng lengan Marcell, namun Marcell menepisnya bahkan menatapnya tajam.
"Jangan menyentuhku!" Kesal Marcell pada Amara.
__ADS_1
Sedangkan Amara hanya berdecak kesal, namun setelah itu ia tetep berjalan dengan senang di samping Marcell.
Nara dan Safira, mereka menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Amara. "Bu, ujian pernikahanku sungguh berat, banyak sekali yang menginginkan Marcell !" Keluh Nara.
Safira tersenyum, dia tahu apa yang dirasakan oleh menantunya "Maka kau harus bisa menjaga Marcell, suamimu, jika ada pelakor yang datang, kau lawan mereka!" Ujar Safira pasa Nara dan mengangguk.
"Kau wanita beruntung yang bisa mendapatkan Marcell, jadi kau pertahankan pernikahanmu !" Lanjutnya lagi pada Nara.
"Nara, ayah yakin pada Marcell, jika dia tidak akan mengkhianatimu, jadi kau harus percaya padanya !" Andrew yang kini ikut berbicara yang sejak tadi hanya memilih diam.
Nara mengangguk, dan tersenyum pada kedua mertuanya yang sudah menenangkannya, bahkan meyakinkannya jika Marcell tidak akan berbuat macam- macam yang mungkin akan membahayakan pernikahannya.
Sementara Amara dan Marcell kini duduk berhadapan, awalnya Amara ingin duduk di satu sofa panjang bersama Marcell, namun nyatanya Marcell malah memilih duduk di sofa single, yang membuat Amara mendengus kesal.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau katakan padaku !" Tanya Marcell dengan wajah datarnya pada Amara.
Amara tersenyum. "Tidak bisakah kita bicara santai, aku merindukanmu Marcell, kau tahu aku sudah lama menunggu mu dari sore hari, tidak tahu nya kau malah memanjakan wanita itu dengan memberikannya banyak barang mahal !" Jawabnya sambil tersenyum pada Marcell.
Marcell berdecak kesal mendengar perkataan Amara, mantan kekasihnya ini, Amara yang sangat jauh berbeda pada saat mereka berpacaran. "Jangan berbicara omong kosong Amara, aku tidak peduli dengan apa yang kau rasakan terhadapku, aku sudah menikah, jadi jangan berkata yang tidak masuk akal, lagi pula Nara, dia istriku jadi sangat wajar jika aku memanjakannya, bahkan jika dia menghabiskan uangku itu tidak akan menjadi masalah untuk ku, dia berhak atas hartaku!" Sergah Marcell yang kesal pada Amara.
"Apanya yang tidak masuk akal, merindukanmu itu sangat wajar bukan, dan aku yakin kau juga merindukanku, terlebih kita pernah berpacaran, dan kita belum lama putus. " Ucapnya pada Marcell dengan ekspresi penuh harap jika Marcell memiliki perasaan yang sama padanya.
"Memang benar dia istrimu, tapi bukankah sebagai istri yang baik ia harus bisa berhemat !" Lanjutnya lagi dengan harapan Marcell akan mengurangi rasa sayang atau cinta nya pada Nara, yang berharap Marcell akan berpikir jika Nara wanita yang hanya mementingkan harta.
Ck, dia sama sekali tidak berkaca, batin Marcell.
__ADS_1
Marcell menggelengkan kepalanya, kini ia benar- benar tahu sifat asli Amara yang selama ini dia sembunyikan. "Jika kau berbicara seperti ini terus lebih kau pulang Amara, aku lelah, dan ingin segera istirahat!" Malas jika harus terus meladeni Amara, Marcell dengan segera meminta Amara agar pergi dari Mansion.