
Mendengar itu sontak membuat Marcell dan juga Reno tersentak, mereka terkejut jika Sisca berbicara seperti itu.
"Itu bukan keinginan istriku, tapi keinginanku, kau tidak perlu ikut campur, aku mengajak kalian berbicara bukan untuk meminta izin pada kalian terutama kau Sisca, aku kemari karena satu hal yang meski kalian selesaikan !" Decak kesal Marcell.
Marcell melempar satu berkas pada Reno yang ia bawa sebelum menemui sahabatnya Reno. "Periksa itu, sepertinya ada sesuatu yang salah dengan laporan keuangan, jika sudah selesai kalian boleh pulang dan kau Reno beristirahat lah jangan pulang malam lagi, lagi pula pekerjaannya sudah mulai menipis !"
"Aku tunggu laporannya besok di meja ku !" Ucap Marcell dan langsung meninggalkan ruangan Reno dengan kesal karena ucapan Sisca.
Reno yang juga kesal dengan sikap Sisca pun menatapnya tajam "Jangan kira dulu kita dekat kau bisa bicara seenaknya Sisca, aku heran mengapa sifatmu berubah !"
Sisca berdecak. "Apa yang salah, bukankah ucapanku benar, jika mungkin saja istrinya yang merengek ingin pergi berbelanja menghabiskan uangnya !" Ucap Sisca tanpa rasa bersalah.
"Sisca!" Hardik Reno.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu, dengar, istri Marcell bukan wanita yang gila harta, berhenti membicarakan bos kita, jika tidak aku yakin kau bekerja disini tidak akan sampai dalam waktu satu minggu!"
Sisca yang diperingati oleh Reno tidak merasa takut justru ia semakin gencar ingin meluapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Aku yakin Marcell tidak akan memecatku. Dan lagi Aku akan tetap bicara sesukaku !" ucapnya dan melangkah keluar ruangan Reno.
Reno menggeleng kan kepalanya tidak percaya, jika Sisca bisa bersikap seperti itu, padahal saat dulu mereka berteman Sisca bukan wanita yang suka menjuludin orang, tapi dia wanita yang lembut apalagi jika sedang bersama mereka.
"Tunggu! Apa dia menyukai Marcell ?" Gumam Reno yang mengingat jika dulu saja Sisca sangat perhatian pada Marcell.
"Ck, Marcell wajahmu terlalu tampan hingga banyak yang menyukaimu !" Ucap Reno yang bergidik ngeri jika harus menjadi seperti Marcell yang tidak akan tenang karena banyak wanita yang mengejarnya
Marcell dan Nara sudah siap dan segera keluar ruangan dan kebetulan berhadapan dengan Sisca. Marcell dia tidak menghiraukan Sisca sedangkan Nara melihat Sisca yang menatapnya sinis padanya, namun Nara tidak ingin memperdulikannya dan terus berjalan di samping Marcell.
__ADS_1
"Apa yang Marcell lihat dari wanita itu, dibanding Amara, Amara dia jauh lebih modis dan lebih baik, begitupun denganku !" Gumamnya sambil menatap kepergian Marcell dan Nara yang semakin menjauh dan hilang karena memasuki lift.
Sisca sebetulnya sudah menaruh hati pada Marcell sejak dulu, namun Marcell lebih memilih Amara menjadi pacarnya.
Sisca yang sejak saat itu tidak bisa terus melihat Marcell bersama dengan Amara akhirnya memilih pergi meninggalkan jakarta dan menetap di bali.
Saat di bali Sisca mendapat kabar tentang jati diri Marcell dan Marcell yang putus dari Amara, untuk itulah dia kembali ke jakarta dan ingin kembali berusaha mendekati Marcell, namun ketika ia mendengar satu fakta yang membuat ia tidak terima jika Marcell ternyata sudah menikah.
"Aku sudah susah payah agar bisa diterima bekerja disini dan untuk bisa menjadi sekretaris Marcell, maka aku tidak akan menyerah begitu saja !" Gumam Sisca yang bertekad tidak akan menyerah untuk yang kedua kalinya.
Di salah satu mall besar di kota jakarta, Marcell dan Sisca berjalan bergandengan seolah mereka adalah pasangan remaja yang sedang berpacaran.
"Belilah apapun yang kau mau Ara !" Ujar Marcell pada istrinya.
Nara yang menggandeng lengan Marcell hanya tersenyum dan mengangguk, meski ia bingung harus membeli apa, karena Marcell sebelum itu pun sudah memberikan banyak barang yang Marcell belikan untuknya.
Marcell tersenyum dan mengangguk " Baiklah kita cari Ramen untuk mengisi perut kita!"
Mereka pun memasuki restoran jepang, dan memesan dua porsi ramen dan dua orange juice.
"Bolehkah aku bertanya soal sekretarismu ?" Tanya Nara dengan hati-hati pada Marcell.
Marcell yang sebenarnya malas membahas Sisca, namun ia mau tidak mau harus menjawab apa yang di ingin tahu kan oleh istrinya agar tidak adanya salah paham
"Hmm tentu, apa yang ingin kau tahu, meski sebenarnya aku tidak tahu banyak tentangnya?"
Nara mengangguk. " Apa dia dekat denganmu, karena aku lihat dia seperti Reno yang tidak segan padamu !"
__ADS_1
Marcell menghela nafasnya. "Sisca, dia dulu teman kuliah Reno, karena aku mengikuti program akselerasi, dan aku kenal dengannya karena Reno, dia wanita satu - satu nya yang dekat dengan kami, yang hanya berasal dari keluarga yang sederhana!"
Nara mengangguk mengerti " Aku lihat sepertinya dia menyukaimu ?"
Lagi Marcell menghela nafasnya panjang " Entahlah aku tidak peduli, sayang aku tidak bisa melarang orang untuk tidak menyukaiku, karena itu hak mereka selagi mereka tidak menggangguku, yang perlu kau ingat kau harus selalu percaya padaku, dan kita harus selalu terbuka, jika ada apa-apa kita harus bicara ok!"
"Iya aku tahu, aku hanya penasaran saja, terlebih saat pertama bertemu dengnnya, dia seperti tidak menghiraukanku bahkan tadi saja dia terlihat menatapku sinis, aku hanya takut jika aku berbuat salah padanya, namun jika aku pikir aku bahkan belum mengatakan apapun selain aku hanya memperkenalkan diriku sebagai istrimu, makanya aku berpikir jika dia menyukaimu !"
"Ya sudah, jangan membahasnya lagi, jika kedepannya dia tidak bisa bekerja profesional, aku akan memecatnya atau memindahkannya ke divisi lain !" Ucap Marcell menenangkan Nara.
Pesanan mereka pun tiba dan mereka pun menghabiskan Ramen yang sudah diinginkan oleh Nara.
Setelah selesai makan dan tak lama mereka keluar dari restoran jepang, dan saat ini mereka tengah berada di toko perhiasan.
"Aku lupa belum memberikanmu cincin pernikahan, sekarang pilih lah yang mana yang kau suka !" Ujarnya pada Nara.
"Tidak ada pun tidak apa-apa Marcell !" Tolak Nara, yang memang tidak mempermasalahkan hal ini.
"Mana bisa begitu, kita harus memilikinya agar orang tau jika kita sudah menikah !" Jawab Marcell.
"Jadi pilihlah yang mana yang kau suka !" Lanjut Marcell..
Nara pun mengangguk dan mengikuti perintah suaminya. Nara bingung dengan semua model yang cincin yang ada di hadapannya, karena semua terlihat cantik dan indah.
"Tuan, Nona jika anda bingung kami memiliki satu set perhiasan yang baru saja realis." Tawanya ada Nara dan Marcell.
"Tunjukkanlah!" Ucap Marcell.
__ADS_1
Pegawai itu pun memperlihatkan satu set bpe hiasan yang dilengkapi batu permata dan berlian, yang membuat mata Nara berbinar namun ia tepis karena pikirnya itu akan sangat mahal.