
Nara melepas pelukan Marcell, ia mengangguk dan menatap Marcell tersenyum, dan Marcell pun mendekati wajah Ara dan menarik dagu Nara yang kembali ******* bibir istrinya dengan penuh perasaan dan yang dibalas oleh istrinya.
"Sepertinya bibirmu ini membuatku candu,"ucap Marcell setelah cukup puas menikmati bibir istrinya.
"Baguslah, karena aku tidak ingin kau mencicipinya dari wanita lain," ujar Nara tersenyum.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Ara aku hanya milikmu begitupun dengan kau yang hanya milikku!" ujar Marcell dan Ara tersenyum.
"Bisakah kita segera berangkat, ini sudah sangat siang," ujar Nara dengan melihat jam tangannya.
Sama hal dengan Marcell tapi ia malah tersenyum, "kita terlambat saja, kau tidak perlu kuliah dan aku pun tidak perlu bekerja, setelah itu kita kembali ke penthouse, sepertinya itu lebih menyenangkan," ucap Marcell sambil tersenyum menggoda pada Nara, dan Nara yang sepertinya tahu maksud Marcell menjadi kesal.
"Marcell!" ucap Ara kesal yang membuat Marcell dengan segera menginjak gas mobilnya melaju hingga sampai di kampus Nara.
Ck apa malam tadi masih kurang, batin Ara.
Ara yang sambil membayangkan saat malam ketika Marcell menyentuhnya secara sadar, tanpa pengaruh obat, Marcell yang membuat Nara hingga melayang penuh kenikmatan.
Di apartemen Amara, ia yang baru terbangun dengan tubuh polosnya yang di tutupi oleh selimut tebal, terbangun dengan tidak mendapati kekasihnya di samping tempat tidur.
Amara menggeliat merasakan tubuhnya yang remuk akibat pergulatan ranjangnya bersama Alex, wajahnya terlihat kesal mengingat saat malam Alex menyentuhnya dengan kasar.
"Brengsek Alex, jika aku sudah tidak membutuhkanmu, kau sudah aku tinggalkan saat ini juga !"
Amara benar-benar kesal, pasalnya Alex kini semakin seenaknya, Alex memperlakukan Amara layaknya seorang pemuas nafsu.
Amara tidak bisa berkutik atau melawan Alex, karena Alex mengungkit semua yang sudah diberikan padanya, harta yang terkuras sudah sangat banyak hanya demi keinginan Amara.
Amara beranjak dari tidurnya dengan menyeret selimut tebal yang menutupi tubuhnya untuk membersihkan diri, ia merendam tubuhnya di bathup, lalu ia teringat akan kartu namanya yang ia berikan pada Nara.
__ADS_1
"Apa wanita itu tidak memberikannya pada Marcell, ck sialan, jika benar aku harus memberinya pelajaran !" Amara lalu berpikir bagaimana ia bisa bertemu dengan Marcell di kantornya tanpa sepengetahuan Alex. "Apa aku melamar kerja saja ya, baiklah akan ku coba," ucap Amara
semangat demi mendapatkan kembali Marcell.
Sama halnya dengan Amara, Wilona terlihat kesal saat bangun tidur, Samuel suaminya membuat ia tidak bisa tidur dengan nyaman, namun tidak dipungkiri olehnya jika sentuhan Samuel membuat ia ketagihan.
"Ck, apa aku sudah gila, Wilona jangan sampai kau memuja pria tua itu, ch menjijikan!." Wilona menggelengkan kepala agar ia tidak berpikir demikian, berpikir untuk terus disentuh oleh suami yang hanya berjalan selama satu tahun yang lebih layak menjadi ayahnya.
Wilona melihat ponselnya yang terlihat notifikasi transferan uang dengan jumlah 20jt dari Samuel seperti yang ia janjikan, Wilona tersenyum tipis meratapi nasibnya buruknya.
"Apa bedanya aku dengan ******?" gumamnya.
"Ck sialan, Nara kau adalah orang pertama yang harus bertanggung jawab dalam penderitaanku ini !" Wilona yang masih ingin Nara bisa merasakan penderitaanya.
Wilona lalu bergegas ke kamar mandi karena ia ada pekerjaan di agency model nya, agency model dalam naungan Admaja Company.
"Aku masuk, kau segera lah ke kantor!" pamit Nara sambil membuka sabuk pengamannya, dan tidak lupa Nara mencium tangan Marcell dan di balas ciuman di keningnya oleh Marcell.
"Jangan khawatir bukankah sudah ada para bodyguardmu?" Jawab Nara dan membuka pintu mobilnya.
Nara pun melambaikan tangannya setelah keluar dari mobil dan Marcell pun kembali melanjutkan perjalanannya.
"Nara, itukah suamimu?" Tanya Citra yang melihat Nara turun dari mobil.
"Kau melihatnya ?"
"Tidak, dia tidak terlihat, kapan kau akan mengenalkannya padaku?"tanya Citra penasaran.
Nara mengangkat kedua bahunya, "entahlah, mungkin suatu hari nanti, " jawab Nara sambil terkekeh geli melihat Citra yang sudah kesal.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama menuju kelas mereka, di depan gerbang orang suruhan Wijaya hanya memfoto Nara yang datang di antar seseorang, saat ini mereka hanya memantau Nara untuk mengetahui keluarga mana yang menjadi suami dari Nara.
Bodyguard yang menjaga Nara mengetahuinya dan melaporkan semuanya pada Daniel.
"Nara, apa suamimu adalah orang penting?" Tanya Citra yang dipenuhi rasa penasaran.
"Orang penting, mungkin ?"jawab Nara menambah kekesalan Citra.
"Ck,ayolah kau tahu aku sudah sangat ingin tahu siapa suamimu, mengapa harus dirahasiakan sih !" decak kesal Citra pada Nara.
"Suami, Nara kau sudah menikah?" Tanya Seorang Pria pada Nara.
Nara mengangguk pada pria itu, "apa karena ini kau selalu menolak ku?" tanyanya lagi yang terlihat sangat kecewa.
"Bukan, maaf Ryan, sejak dulu aku hanya menganggapmu kakak seniorku, "jawab Nara dan Citra hanya terdiam tidak ingin ikut campur.
Ryan seniornya di kampus yang memang sudah menyukai Nara sejak pertama mengenal, namun Nara tidak pernah menerimanya karena beberapa alasan.
"Apa karena dia kaya, ck aku tidak menyangka kau wanita seperti itu!" Kesal Ryan yang membuat Nara menatapnya heran.
Ryan yang sudah beberapa hari tidak ke kampus dikejutkan dengan beredarnya kabar jika Nara membawa mobil mewah, Ryan mengetahui kedatangan Nara yang bahkan di antar oleh seseorang dengan mobil mewah, ia lantas segera melangkahkan kakinya ke kelas Nara guna untuk mengetahui kabar yang beredar tersebut saat sampai di kelas Ryan kembali dikejutkan dengan perbincangan Nara dan Citra, mendengar temannya Citra berbicara jika Nara sudah menikah, hatinya tentu merasa kecewa ia sudah setia menunggu Nara mau bersama dengannya.
"Apa maksudmu, wanita seperti itu !" kesal Nara yang tahu jika Ryan memikirkan hal yang tidak baik tentangnya.
"Wanita yang mengincar pria kaya raya, aku benarkan ? Aku kecewa padamu Ara!!" lanjut Ryan yang langsung berlalu meninggalkan Nara yang terdiam, tidak menyangka Ryan pria yang dianggap Nara baik, ternyata berpikir buruk pada Nara hanya karena mendengar kabar dan melihatnya dengan sebelah mata.
"Ara, kau tidak apa, jangan dengarkan ucapannya, aku percaya padamu kau tidak seperti itu" Ucap Citra menenangkan Nara.
Nara hanya tersenyum tipis menanggapinya, dalam hatinya ia berkata,
__ADS_1
jika mereka tahu apa yang aku alami apakah mereka akan percaya? atau mungkin rumor ini akan semakin memojokkan ku.
Dosen yang mengajar di kelas Nara pun datang membuat lamunan Nara buyar, ia kini lebih memilih fokus dengan pelajarannya, berbeda dengan Citra yang terlihat khawatir dengan Nara, Citra sangat yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh temannya ini.