Kesayangan Ceo

Kesayangan Ceo
Bab 181


__ADS_3

Wilona tersenyum miris, dan disadari oleh Nara," kau mau membuktikan padaku jika kau kini sudah berubah?" tanya Nara kemudian.


Wilona mengangguk, "apa yang harus ku buktikan"


"Sebenarnya tidak ada, hanya saja aku ingin kau bisa hidup fokus pada hidupmu, bukankah cita-cita mu itu menjadi seorang model terkenal ?" Wilona mengangguk.


"Pergilah ke Korea, dan temui CEO Kim Meesha, disana kau akan dijadikan model Brand Ambasador untuk produk kecantikan," lanjut Nara yang membuat Wilona terkejut.


"Kim Meesha, ?" tanya Wilona kembali.


"Ya, aku punya saham disana, dan aku sudah merekomendasikan mu, kau mau ?" tanya Nara," ah ya, jangan berpikir jika aku mengusirmu dari negara ini, sungguh bukan itu niatku, aku hanya memberikan jalan untuk mu, agar karir mu bisa terus berkembang,"


Wilona menangis, hingga membuat Nara bingung," ada apa, apa aku salah bicara hingga menyakitimu?" tanya Nara.


"Tidak, kau tidak menyakitiku sama sekali, Rara, kau wanita hebat, kau sangat baik sekali, bagaiaman caranya aku bisa membalasmu,"


Nara tersenyum,"seperti yang aku bilang, hiduplah dengan baik, dan jangan ada lagi Wilona yang dulu!" jawab Nara.


"Apa aku boleh memelukmu?"


"Tentu, kau saudara ku Wilona, aku ingin kau bisa bahagia juga, lupakan masalalu kita yang pahit," ucap Nara sambil berdiri dan ikuti oleh Wilona lalu berpelukan.


Kediaman keluarga Admaja di Kota Bogor, tepatnya di pagi hari yang cukup cerah. Andre dan Safira terlihay tengah bercengkrama di teras rumah, dengan secablngkir teh hangat dan juga kopi untuk Arya.


"Dimana Rara, apa dia masih di dalam kamar ?" tanya Arya dan Safira mengangguk.


"Nanti dia juga akan keluar, aku mengatakan padanya untuk sering berjalan jalan pagi, karena ingin lahiran normal," jawab Safira.

__ADS_1


"Heumm, sudah dekat waktunya, ku harap semua lancar dan selamat, " balas Arya di angguki oleh Safira.


5 bulan berlalu setelah hari dimana peresmian Pantu Asuhan Kasih Ibu, kini kehamilan Nara sudah menginjak 9 bulan, dan menurut perkiraan akan segera melahirkan sekitar 2 minggu kedepan oleh dokter kandungannya, namun bisa saja cepat.


Nara yang sudah sejak pagi mengurung diri di dalam kamar, karena merasakan rasa mulas pada perutnya, dan kini rasanya itu semakin kuat dan teratur, awalnya Nara mengira jika itu bukan lah kontraksi akan melahiarkan, namun setelah di rasa, mungkin ini adalah waktunya untuk anak nya lahir.


Nara bangkit dari duduk nya di atas kasur yang sebelumnya bersandar ke pinggiran tembok, ia perlahan berjalan keluar kamar mencari keberadaan Marcel.


Nara setelah berada di luar kamar, merasa bodoh sendiri, karena ponselnya ada di samping tempat tidur, tidak jauh darinya, namun karena panik, dan merasa sakit yang hebat, ia ingin segera menemui Marcel dan memintanya untuk di antar kerumah sakit.


Tak kuat berjalan, Nara duduk di sofa yang tak


jauh dari sana," Hubby.. " panggil nya cukup kencang, namun tidak ada yag mendengarnya.


"Hubby.. Marcel.. Shh..." panggil kembali Nara dan menahan rasa sakit yang semkain menjadi di antara pinggangnya.


"Marcel..!" panggil Nara dengan kencang berharap Marcel bisa mendengar, namun nihil, karena rumah yang besar, tidak mungkin bisa terdengar, karena Marcel berada di dalam ruangan kedap suara, yang dimana ia tengah fokus dengan pekerjaannya, meski sesekali ia mengecek ponselnya, karena takut jika Nara akan menghubunginya.


Diluar Safira memanggil Kayla, " Kay, tolong lihat Nara, apa dia baik-baik saja, tadi ia bilang akan kemari, dan berjalan jalan pagi dengan saya, namun tidak ada keluar sampai sekarang," ujar Safira meminta Kayla untuk melihat Nara.


"Baik nyonya, "jawab Kayla dengan segera melihat ke adaan Nara, dan setelah ia masuk, ia di kejutkan dengan suara Nara yang memanggil manggil suaminya.


Kayla pun berlari mencari keberadaan nonanya, nona, nona apa ini sudah waktunya ?" tanya Kayla khawatir karena ia pikir mungkin Nara sudah akn melhairkan karena Nara terlihat kesakitan sambil memegang perutnya. "


"Kay, oh syukurlah kau datang, bawa aku kerumah sakit," ujar Nara pada Kayla yang sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di perutnya.


Kayla mengangguk," aku akan siapkan mobilnya, nona tunggulah sebentar, aku juga akan panggilkan tuan Marcel," Nara mengangguk pasrah, ia hanya berharap bisa segera di tangani oleh dokter nantinya.

__ADS_1


Nara dalam sakitnya, terus berdoa, agar kelahiran anak pertamanya akan lancar dan selamat.


Sementara Kayla, sebelum memanggil Marcel, ia berjalan keluar lebih dahulu untuk memberitahukan Safira dan juga Arya, agar Nara ada yang menjaganya.


"Nyonya, nona Nara seperti nya akan segera melahirkan, nona sedang kesakitan dan duduk di sofa," ucap Kayla dengan khawatir membuat Safira dan Arya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat menemui Nara, sedangkan Kayla langsung berlari ke arah ruangan kerja Marcel.


"Nara, astaga, bukankah masih dua minggu lagi ini lebih cepat dari perkiraan," ucap Safira sambil membantu mengelus pinggang Nara.


Sementara Arya yang juga terlihat khawatir, memilih untuk pergi dan memberitahu bodyguard nya untuk menyiapakan mobil.


"Aku akan pergi untuk menyiapkan mobil," pamit Arya dan bergegas ke luar setelah di angguki oleh Safira.


"Sabar ya sayang, kau kuat kan," ucap Safira pada Nara yang meringis kesakitan.


Nara mengangguk lemah," harua bu, aku harus kuat, ternyata begini ya bu, menjadi seorang ibu, maaf aku dan juga Marcel," ucap Nara pada Safira yang membuat Safira tersenyum.


"Sudah, atur nafas mu, dan berdoa agar semuanya lancar, ibu juga pasto akan mendoakan juga," ucap Safira yang di angguki Rafasta yang lalu memgikuti instruksi dari Safira agar bisa mengatur nafasnya.


Tak lama Marcel terlihat berlari bersama Kayla di belakangnya, "Marcel cepat lah, gendong Rasya dan bawa ke mobil, ayahmu sudah menyiapkan mobil di depan!" pinta Safira pada Marcel setelwh meliht Marcel sudah berlari ke arah mereka.


"Dan kau Kayla, tolong bawa koper yanh sudah di siapkan, da bawa kerumah sakit !" perintahnya kemudian pada Kayla, sementara Marcel sudah berlalu menggendong Nara ke luar rumah dan memasuki mobil.


Marcel dan Nara berangkay lebih dulu, dengan di surpiri oleh Marcel, bodyguar the Admaja, sementara Safira dan juga Arya menyusul mereka di belakang dengan di supiri oleh Kayla.


Di dalam mobil Marcel, terlihat Nara tengah mencengkram dengan kuat tangan Marcel yang tidak di rasa olehnya, meski kuku panjang Nara sedikit menusuk tangannya, pandngan Marcel justru sngat terlihat khawatir pada istrinya, yang terlihat sangat kesakitan.


"Sakit sayang, sabarya, kita akan segera samoai di rumah sakit," ucap Marcel mencoba menenangkan Nara.

__ADS_1


__ADS_2