
Tok tok tok..
Paman Dika pun masuk ke dalam ruangan Marcell sambil membawa beberapa map, berisikan berkas berkas yang mungkin harus di tandatangani oleh Marcell.
Paman Dika meletakkan berkas berkas itu di hadapan Marcell,"selamat atas pernikahanmu," ucap paman Dika tersenyum.
Marcell menganggu, "terimakasih paman," ucap Marcell.
"Tuan menunggu informasi mengenai keluarga Wijaya bukan?" ucap paman di Dika yang membuat Marcell mengangguk.
"Perusahaan Wijaya grup mereka sudah berjalan normal kembali, dengan menikahkan Wilona anaknya dengan Samuel, pemilik dari perusahaan ECT corp," jelas Paman Dika.
"Lalu, jika perusahaan itu sudah berjalan dengan baik mengapa mereka masih ingin menangkap Nara?" tanya Marcell, begitupun dengan Reno yang penasaran.
"Mereka di kuasai amarah dan menyalahkan semuanya pada Nara, dan lagi sepertinya mereka menyembunyikan identitas Nara yang sulit kita tembus," ucap Paman Dika yang membuat Marcell terdiam.
"Rahasia, apa itu tentang orang tua Nara ?" tanya Reno yang membuat Marcell mengangguk, merasa tersadarkan dengan apa yang di katakan oleh Reno.
Paman Dika terdiam, ia memang sudah di beritahukan masalah detailnya dari Reno, dan memang sudah merasakan kejanggalan dalam identitas Nara.
"Mungkin, tapi paman belum bisa menemukan apapun, sepertinya Erick Wijaya memang sudah menutup rapat akan hal ini,"ucap Paman Dika.
"Paman, aku harap kita bisa mendapatkan informasinya," ujar Marcell dan di angguki paman Dika," Karena bukan tidak mungkin jika suatu saat Ara akan mendatangi mereka untuk mencari tahu orang tua yang sebenarnya, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya nanti" lanjut Marcell.
"Paman mengerti dan kau Reno, kau akan belajar dalam hal ini, paman akan memberikan mu beberapa kontak untuk kau bisa mencari informasi, dan ada satu orang yang memang sudah bekerja di belakang perusahan kita yang akan segera paman kenalkan pada kalian, dia adalah orang yang paling dipercaya oleh tuan Andrew " ucap paman dika dan di angguki Marcell dan juga Reno.
"Untuk saat ini perketat saja penjagaan untuk nona Nara, dan sekarang lebih baik kau bersiap, bukankah kau harus ke bandung untuk mengecek proyek disana!" ujar paman Dika mengingatkan Marcell.
__ADS_1
"Aku tahu paman, apa paman akan menemaniku?" tanya Marcell.
"Tidak, biarkan Reno yang menemanimu, dia sudah bisa di andalkan dalam hal ini " ujar paman Dika yang membuat Reno tersenyum.
"Kau dengar itu, aku cepat belajar bukan," ucap Reno bangga sambil menepuk dadanya, membuat paman Dika tersenyum melihat tingkahnya.
"Ck, aku akan memberikanmu salah satu mobilku, jika suatu saat kau tidak lagi meminta bantuan paman Dika perihal apapun," ucap Marcell membuat Reno semakin semangat, tentu saja siapa yang tidak ingin mobil yang dimiliki Marcell, karena mobil Marcell kebanyakan adalah mobil - mobil mewah keluaran terbaru, yang tak lain kebanyakan adalah mobil sport.
Kembali ke kampus, orang-orang suruhan Wijaya mendapatkan kabar tentang Nara, berita yang beredar tentang Nara yang menaiki mobil BMW keluaran terbaru, dan sudah sampai di telinga mereka, dan dengan segera mereka melaporkan hal ini pada Erick.
("Apa kau yakin? jangan sampai ada kesalahan?") ucap Erick.
("Benar tuan, mereka mengatakan jika anak beasiswa bernama Nara lah yang mengendari mobil BMW keluaran terbaru," )jawabnya.
("Selidiki lagi, dan cari cara agar kalian bisa memasuki kampus itu, jika benar ikuti dan tangkap, bawa dia padaku segera!") ujar Erick pada anak buahnya, yang langsung menutup teleponnya sepihak.
Erick, dia tidak mau langsung mempercayainya begitu saja, sebelum ia bisa melihat dan dengan adanya bukti. Namun, Erick hanya mengkhawatirkan sesuatu, pasalnya jika Nara terbukti memiliki mobil mewah, itu tandanya ada orang di belakang Nara yang akan melindunginya.
"Ck, mana mungkin dia bisa mengenal orang hebat bukan?" gumam Erick menepis kekhawatirannya. Erick pun kembali fokus pada pekerjaannya dan tidak ingin terlalu memikirkan Nara, biar para anak buahnya yang mengurusnya dan diharap anak buahnya bisa segera membawa Nara kehadapannya.
Wilona di siang hari setelah selesai dari agensi modelnya, ia berniat pulang lebih dulu ke rumah orang tuanya.
"Sayang, kau kemari, bagaimana dengan tuan Samuel?" tanya Anaya melihat kedatangan Wilona, dan khawatir jika Samuel akan marah jika Wilona datang ke rumahnya.
Wilona berjalan dan duduk di sebuah sofa sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Anaya melihat itu mengikuti Wilona dan duduk di sebelahnya.
"Pria tua itu tidak akan mempermasalahkan hal ini, selagi dia belum kembali ke apartemen, aku hanya harus kembali lebih dulu sebelum di kembali," membuat Anaya mengangguk mengerti. ucap Wilona
__ADS_1
Anaya menatap putrinya yang terlihat kelelahan dan merasa kasihan, "kau mau makan?" tanya Anaya dan Wilona menggeleng.
"Wilona, apa kau meminum obat yang ibu berikan?" tanya Anaya.
"Tentu bu, aku tidak ingin hamil anak nya." Anaya mengangguk puas.
"Tapi, apa Samuel tahu?" tanya Anaya.
"Ch, justru dia sendiri pun memberikan obat yang sama, persis dengan yang ibu berikan padaku," jawab Wilona membuat Anaya mengangguk lega.
Wilona ingat pagi tadi, sesaat Samuel akan berangkat kerja ia mengatakan hal cukup menyakitkan baginya.
"Minumlah obat ini! aku tidak ingin memiliki anak dari perempuan sepertimu," ucap Samuel.
Wilona menatap tajam pada Samuel "Perempuan seperti ku?"
"Ya, perempuan yang rela dijual oleh kedua orang tuanya hanya demi harta," jawab Samuel.
"Mereka tidak menjualku!" jawab Wilona kesal.
"Hahaha tidak menjual? lalu mengapa kau disini, ah aku salah mungkin menyewa karena pernikahan ini hanya berjalan satu tahun, atau lebih tepatnya ini adalah pernikahan kontrak!" ucap Samuel sinis pada Wilona yang terlihat menggeram marah.
"Kau tahu? aku lebih mengagumi saudari mu itu, jika aku tidak salah namanya Nara bukan? kau tahu dia yang bahkan dengan pengaruh obat, dia masih mau mempertahankan harga dirinya, tidak sepertimu yang hanya bisa pasrah dengan keadaan, hanya karena tidak ingin hidup miskin. Kau dan keluargamu adalah orang- orang yang lebih mementingkan sebuah harta!" ujar Samuel sinis dan membungkam mulut Wilona.
Wilona mendengar ia dibandingkan dengan Nara semakin marah, dan dengan tangan yang mengepal kuat. Namun, ia sadar dengan ucapan Samuel itu ada benarnya, Wilona memang tidak ingin hidup miskin, begitupun dengan keluarganya.
Samuel kembali melanjutkan perkataannya, "dengar ini! kau bebas melakukan apapun, namun saat aku kembali ke apartemen kau harus ada, dan satu lagi jangan pernah membawa siapapun ke apartemen ini, kau mengerti?" ucap Samuel yang di balas tatapan tajam oleh Wilona tanpa berniat menjawabnya.
__ADS_1