
Nara terdiam, itulah yang membuatnya tidak percaya diri, akankah dia bisa mempertahan pernikahannya dengan Marcell, sedangkan diluar sana banyak wanita yang menyukai suaminya, yang mungkin lebih cantik darinya.
Sementara itu, di salah satu sel penjara di kantor kepolisian di kota jakarta, terlihat wanita paruh baya, sedang termenung, merenungi nasibnya yang sangat menyedihkan, tidak ada yang membantu agar bisa keluar dari sel tahanan ini, baik suaminya ataupun anaknya.
Anaya...
Anaya, la terlihat sangat bersedih, saat setelah Wilona datang menjenguknya dan mengatakan sesuatu hal yang membuatnya sangat menyayat hati.
"Wilona, sayang kau menjenguk ibu." Anaya yang baru di jemput dari sel nya, karena ada yang menjenguk nya dan dia sangat senang karena rupanya itu adalah Wilona, anaknya.
Anaya melangkah dengan langkah lebar dan menghampiri Wilona, memeluknya dengan erat, karena saat sebelum ia masuk ke dalam penjara Wilona tengah marah padanya.
Anaya yang memeluk Wilona, namun tidak ada balasan dari Wilona untuk memeluknya balik, tapi itu tidak membuatnya bersedih, setidaknya Wilona sudah mau menjenguknya di penjara dan dia sudah sangat bersyukur.
"Wilona kau sudah baik-baik saja, ibu dengar kau masuk ke rumah sakit?" Tanya Anaya khawatir dengan menatap putrinya, dengan mata yang berkaca-kaca.
Wilona mengangguk. " Aku baik-baik saja, duduklah bu, kau akan membuang buang banyak waktu !"
Anaya terdiam, setelah itu ia duduk di hadapan Wilona, karena memang hanya ada dua tempat duduk.
"Sayang, kau masih marah pada ibu ?" Tanya Anaya dengan ekspresi penuh harap memohon agar Wilona tidak lagi marah padanya.
"Untuk apa aku marah, toh semua sudah terjadi bukan, kini aku sudah menjadi budak nafsunya Samuel!" Ucapnya sinis.
"Tidak sayang maafkan ibu dan ayahmu ini, yang tidak bisa mencari solusi lain !" Lirih Anaya, yang amat menyesal mengambil keputusan ini.
"Sudahlah aku kesini hanya ingin mengatakan jika aku sudah mencoba untuk meminta Nara atau suaminya agar bisa membebaskan mu, namun mereka tetap tidak mau memenuhi keinginanku, ya walaupun aku memang tidak memohon secara baik !"
__ADS_1
Anaya menggelengkan kepalanya "Tidak apa, ibu mengerti karena kau pun jangan sampai tunduk pada mereka, biar ayahmu yang mengurusnya!" Jawab Anaya, ia sudah sangat bersyukur jika Wilona ternyata mau membantunya.
"Baguslah, karena aku tidak ingin di cap sebagai anak yang durhaka, karena tidak mau membantu ibunya keluar dari penjara, oh dan satu lagi, kunjungan ku ini mungkin adalah yang pertama dan terakhir, karena aku tidak mau teman-teman dari agency ku tahu, jika aku memiliki ibu yang sedang di penjara, itu akan merusak reputasi ku sebagai model!"
"Baiklah, ku rasa hanya ini saja yang ingin aku katakan, kau baik-baik lah disini bu, 3 bulan kedepan kita akan bertemu lagi !" Ucap Wilona, dan tanpa jawaban dari ibunya, Wilona berdiri dan beregas meninggalkan Anaya yang menatap nanar putri nya, dan tidak percaya jika
Wilona dengan tega berkata seperti itu.
Anaya di dalam sel tahanannya, menatapa kosong kedepan, dengan air mata yang menetes, tidak menyangka jika Wilona anak yang ia dukung dan ia bela hingga ia berakhir disini, dan rupanya Wilona kini menganggap, jika dirinya sebagai aib yang meski di tutupi.
"Apa kesalahan ku begitu besar, karena memintanya menikahi Samuel menggantikan Rara, Wilona maafkan ibu ini, seharusnya ibu mendengar perkataan ayahmu, jika mungkin kita bisa hidup sederhana saja, dari pada harus mengorbankan dirimu !" Lirinya dengan di iringi isak tangis, orang-orang yang bersama nya di dalam sel, mereka acuh pada Anaya, tidak peduli dengan apapun yang terjadi padanya.
Nara kini sudah berada di mansion, setelah bercerita dengan Citra di Cafe lalu mereka lalu memutuskan pulang terlebih hari sudah sore.
Nara memasuki mansion, dan sedikit terkejut mendapati mobil suaminya sudah terparkir rapih.
Marcell tidak menyadari jika Nara sudah kembali, karena dirinya yang terlalu fokus pada laptop nya.
Nara tersenyum dan berjalan perlahan ke arah suaminya, setelah dekat dan suaminya yang belum juga menyadari ada dirinya, Nara sedikit menunduk dan mengecup pipi suaminya, yang membuat Marcell terkejut.
"Astaga sayang kau mengagetkanku!"
Nara terkekeh. " Salah siapa kau terlalu fokus dengan laptop mu, apa ada yang menarik disana, dari pada aku, istrimu!"
Marcell tersenyum pada Nara dan meletakkan laptopnya di atas meja, lalu menarik Nara ke dalam pangkuannya, mengecup sekilas bibirnya dan tersenyum " Apa kau cemburu dengan laptopku !"
Nara tertawa. "Mana ada aku cemburu pada sebuah laptop, aku hanya heran kau sampai tidak menyadari jika aku sudah ada di sini!" Jawab Nara sambil mengalunkan kedua tangannya di leher suaminya.
__ADS_1
Marcell terkekeh gemas. "Ya aku hanya fokus dengan pekerjaan ku, apa kau bersenang-senang?"
Nara mengangguk. "Hmm, sebelum bertemu dengan mantan mu!"
"Mantan ?" Heran Marcell.
"Maksudmu Amara, apa dia juga menganggumu?"
Nara mengangguk." Tidak, aku langsung pergi darinya, karena aku malas jika harus berdebat dengan pelakor itu !" Kesal Nara.
Marcell tertawa "Baguslah, karena aku tidak ingin kau ketularan gila darinya !"
Nara mengangguk dan tersenyum " Kau mengatainya gila !" Nara tertawa.
"Ya, dia memang gila !" Jawab Marcell yang ingat dengan keberanian Amara pada nya sejak semalam dan juga pagi tadi.
Nara tersenyum dan lega, karena sudah di pastikan jika Marcell tidak mungkin lagi menyukai Amara." Sayang, kau tumben pulang cepat, maaf aku baru pulang setelah kau ada di rumah!"
"Tidak apa, aku hanya lelah dan lagi pekerjaan ku pun tidak banyak, jadi aku pulang cepat, dan lagi sebetulnya tadi aku ingin menjemputmu di mall, namun aku urungkan, karena aku tidak ingin mengganggu waktumu bersama Citra !"
Nara mengangguk tersenyum, ia memeluk suaminya, karena sangat berterima kasih jika Marcell selalu mengerti akan dirinya.
"Aku akan mandi badan ku sudah sangat lengket, setelah itu aku akan membantu ibu menyiapkan makan malam !" Ucap Nara dan berniat turun dari pangkuan Marcell, namun Marcell memeluknya erat, hingga Nara tidak bisa beranjak dari pangkuan Marcell hingga membuat Nara menatap suaminya dengan kesal.
Marcell tersenyum dan berdiri dari kursi dengan tetap membawa Nara di gendongan ala bridal style " Kita mandi bersama, aku juga belum membersihkan diri!"
Mendengar itu kedua mata Nara membola dan Marcell hanya terkekeh jika istrinya merasa kesal, namun ia tidak peduli dan tetap membawa Nara bersama nya mandi bersama dan Nara hanya pasrah karena tidak bisa menolak keinginan suaminya.
__ADS_1