
Tak lama Raina pun pulang, namun saat ia masuk ke dalam rumah, Raina terkejut karena ayah dan ibu tirinya langsung menariknya ke kamar mereka.
"Ada apa ini ayah, ibu mengapa kalian membawaku ke sini?
Oh ya, diluar aku melihat mobil kakak, apa dia ada disini ?" Tanya Raina.
Ayahnya mengangguk. " Raina, apa yang sudah ku adukan pada kakakmu ?"
Raina mengerutkan keningnya " Aku, mengadu pada Kakak ?"
"Ya, kau sering meminta uang kepadanya, apa kau gila!" Geram ibu tirinya.
"Oh ya, itu karena aku butuh untuk keperluan sekolahku, lagi pula salahkan kalian yang tidak pernah memberikanku uang !"Bela Raina.
" ck dasar bodoh, bukankah kau bekerja seharusnya kau bisa menutupi uang sekolah sendiri bukan ?" Sarkas ibu tirinya dan ayahnya hanya terdiam menatap Raina yang dimarahi oleh istrinya.
Karena Markus sudah diberitahu oleh istrinya jika Raina kini bekerja dan membiarkan dia bisa belajar mandiri dan mencari uang.
Ya, Raina selama ini bekerja, dan tidak diketahui oleh Amara, namun pekerjaan dia hanya mampu untuk dirinya sendiri, jika untuk keperluan sekolah yang nilainya sangat besar dia tidak bisa membayarnya, dan akhirnya dia meminta pada kakaknya karena jika meminta pada ayahnya yang justru dia harus meminta pada ibu tirinya yang tidak akan pernah memberikannya sepeserpun uang.
Raina kini menyesal, karena pada saat kakaknya minta ikut bersama dengannya dia menolak, karena ternyata ayahnya tidak pernah peduli padanya dan selalu membela istrinya dan saat dia menyesal ia ingin bersama kakaknya namun ia bingung dan takut jika nantinya dia akan merepotkan kakaknya karena Raina tahu jika Kakaknya selalu dimanfaatkan oleh mereka dan Raina tidak ingin menambah beban kakaknya.
Sementara di salah satu mall di kota jakarta, tepatnya di sebuah salon yang cukup terkenal, Safira, Nara dan juga Citra tengah memanjakan dirinya, terutama untuk Nara agar saat resepsi nanti dia akan terlihat sangat cantik dan segar.
__ADS_1
"Aku tidak sabar melihatmu menjadi ratu sehari saat resepsi nanti, pasti kau kan terlihat sangat cantik, Ra!" Celetuk Citra pada Nara.
Nara hanya tersenyum menanggapi perkataan Citra. Sedangkan Safira yang terkekeh mendengarnya." Nara dia bukan menjadi ratu sehari tapi akan selamanya menjadi ratu bagi Marcell !"
"Bu...!" Nara yang malu ibunya mengatakan hal seperti itu, namun Safira hanya tersenyum dan yang Citra mengangguk setuju karena mendengar cerita dari Nara dan juga Safira jika Marcell memang selalu membuat Nara bahagia bahkan lebih memprioritaskan Nara, dan Safira tidak masalah karena memang Marcell sebagai suami meski bisa memprioritaskan lebih dulu istrinya karena Arya pun seperti itu, selagi Marcell masih menyayanginya dan menghormatinya sebagai anak terhadap orang tua.
Nara, Safira dan juga Citra sudah selesai memanjakan diri di sebuah salon ternama, mereka kini tengah makan di sebuah restoran, makan siang yang sempat tertunda.
Setelah selesai makan, mereka mulai bercengkrama, membicarakan banyak hal.
"Wah kalian ternyata sudah cukup lama berteman." Ucap Safira setelah mendengar cerita jika mereka sudah berteman sejak SMA. Maka tidak heran jika Citra sangat mengenal Nara, begitupun dengan Nara yang mengenal Citra.
"Iya tante, ya meski se waktu SMA kita tidak sedekat ini." Balas Citra..
"Kau sudah punya pacar ? Tanya Safira pada Citra.
Citra menggelengkan kepalanya. " Belum tan.. Eh bu !" Citra yang terkekeh karena masih merasa canggung memanggil Safira ibu.
"Aku ingin mengenalkanya pada kak Reno bu. namun Citra menolak nya!" Celetuk Nara membuat Citra mengerutkan keningnya dan menatap kesal pada sahabatnya.
Safira tersenyum. " Reno pria yang baik, tampan pasti kau akan suka !"
Citra tersenyum. "Biar waktu saja yang mempertemukan kita bu, jika memang berjodoh pasti aku akan bertemu dan akan lebih mengenalnya, untuk sekarang aku masih menikmati kesendirian ku !"
__ADS_1
Safira mengangguk setuju. "Kau benar, lihat saja Nara dan juga Marcell, tahu - tahunya mereka berjodoh.
Untuk menikmati kesendirian itu tidak salah tapi juga jangan terlalu lama, apa kau tidak iri melihat sahabatmu sudah menikah dan mungkin akan segera memiliki anak !" Lanjutnya sambil terkekeh.
"Iri mungkin ada, tapi sejauh ini aku masih tidak ingin terburu menikah !" Ucap Citra.
Nara mengangguk. "Soal jodoh, aku pun tidak menyangka bisa berjodoh dengan Marcell, bahkan dengan cara yang unik !" Tambah Nara.
"Hmm tuhan punya caranya sendiri, kita hanya bisa berjuang dan mempertahankan nya jika itu baik untuk kita, kita syukuri. !" Safira kembali menambahkan, membuat Nara dan juga Citra mengangguk setuju.
BODYGUARD THE ADMAJA.
Arya, Marcell, Gio, Darx dan Kendrick, telah selesai berdiskusi untuk perencanaan pengamanan acara resepsi pernikahan nanti.
"Baiklah semua sudah setuju, aku harap semua akan berjalan sesuai rencana, jangan sampai ada yang lengah, karena ini juga menyangkut kemanan para tamu, meski kita belum yakin jika mereka akan mengacaukan acara, tapi ada baiknya agar kita bisa berjaga-jaga!" Ujar Marcell setelah berdiskusi cukup lama.
"Ya, kita hanya perlu bersiap dan berjaga, acara ini di gelar dengan meriah, banyak tamu yang hadir dari berbagai kalangan, besok kita akan ke lokasi dan memasang CCTV di berbagai sudut !" Drax yang menambahkan dan di angguki oleh Kendrik.
"Hmm tolong tuan Drax dan Tuan Kendrik, aku tidak tahu jika aku akan punya musuh seperti ini, jika tahu lebih awal mungkin kita akan membuat acara lebih privat. !"
Arya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Marcell, sejak tadi ia hanya terdiam dan menyimak, namun kali ini ia akan ikut berbicara terlebih ini sudah bukan pembahasan yang serius. "Ibu mu tidak akan mau membuat acara privat, karena dia tidak bisa mengundang semua teman-temannya!" Balas Arya yang tahu sejak awal istrinya merencanakan acara resepsi pernikahan untuk Marcell yang ingin di gelar semeriah mungkin, dengan alasan Marcell anak satu-satunya, yang menurutnya juga tidak ada salahnya jika membuat acara megah yang hanya di gelar satu kali seumur hidup di hidup Marcell.
Mungkin juga acara megah ini juga sebagai hadiah, selain hadiah pernikahan juga karena Marcell sudah menjadi anak yang di banggakan oleh mereka, meski mereka pernah hidup sederhana, namun Marcell menjadi anak yang baik bahkan pintar, maka tidak heran jika Safira ingin mengundang semua orang yang ia kenal di acara resepsi nanti, karena juga untuk membanggakan anaknya, maka tidak heran jika Safira sangat antusias untuk mempersiapkan resepsi ini.
__ADS_1
Marcell mengangguk mendengar perkataan ayahnya." Benar juga, bahkan ibu yang lebih ngotot untuk menggelar resepsi ini." Kekehnya membenarkan perkataan ayahnya.