
"Jadi mereka memilih untuk mencari tahu dulu siapa keluarga Ara sekarang?" tanya Marcell memastikan lagi, dari apa yang sudah di laporan Reno.
"Hmm apa kau mau membuka akses agar mereka mudah mencari informasi kalian?" tanya balik Reno.
"Tidak perlu, biarkan mereka berusaha dulu, lagi pula ibuku mungkin lebih dulu memiliki rencana akan mempublish pernikahanku," ucap Marcell membuat Reno mengangguk.
"Reno, Amara kemarin, dia menemui ibu dan istriku, Amara bahkan memberikan kartu nama pada Ara agar memberikannya padaku agar aku menghubunginya."
"Benarkan Amara pasti kembali mengejar mu, Ch dia benar-benar memperlihatkan jati dirinya. Oh ya paman Dika tidak masuk hari ini apa dia juga menghubungimu?" Marcell mengangguk.
"Apa kau sudah bisa di tinggal sendiri? aku berencana akan berbulan madu," tanya Marcell.
"Bulan madu ? Pergilah, dan berikan kabar baik untukku. Soal perusahaan kau tidak perlu khawatir, paman Dika sudah mengajariku banyak, lagi pula paman bilang ada orang yang akan membantu kita disini, dan mungkin besok dia akan datang."
"Kau benar, baiklah apa hari ini jadwalku padat?"
"Kau seorang CEO, tentu tidak ada waktu senggang untuk mu!" jawab Reno sambil menggeplak tumpukkan map di meja Marcell, yang membuat Marcell terkekeh.
Wilona yang telah selesai pemotretan, mendudukkan dirinya di sebuah sofa, Wilona melihat ponselnya mencari - cari berita yang mungkin akan membuatnya tertarik.
"CEO Admaja Company telah diganti, mengapa aku tidak mengetahuinya? Ck, dia tampan, andai dia yang menjadi suamiku, dan bukan pria tua mesum yang menyebalkan itu !" ucap Wilona sambil tersenyum membayang menjadi seorang istri dari seorang CEO Admaja Company yang memiliki banyak bisnis.
Andai Wilona tahu, pria yang ia kagumi dan yang diharapkan menjadi suaminya, kini sudah menjadi suami sah dari Nara, wanita yang sangat ingin dihancurkan olehnya.
"Ara, kamu ga apa-apakan ?" tanya Citra khawatir. karena sejak Ryan datang dan berbicara pada Nara. Nara terlihat murung dan bersedih.
__ADS_1
Nara tersenyum, "aku ga apa-apa ko, Cit. Nanti aku cerita, tapi ga sekarang ok!"
Citra mengangguk, "kita ke cafe dulu yuk, udah lama kayaknya kita ga kesana ?"
Nara terdiam dan melihat jam tangannya, masih ada sekitar satu setengah jam lagi sampai Marcell menjemputnya, "ya udah yuk, aku juga udah lama ga ke sana sejak berhenti kerja."
Nara dan Citra pun kini pergi ke sebuah cafe, cafe tempat Nara dulu bekerja yang tidak jauh dari kampusnya. Tidak lupa Nara pun mengirim pesan pada suaminya, jika dia pergi ke cafe bersama Citra, temannya. Dan agar Marcell menjemputnya di cafe.
Nara dan Citra duduk di meja cafe dan memesan makanan, dan kebetulan yang melayaninya orang yang dekat dengan Nara.
"Kamu apa kabar Ra? Aku denger kamu udah nikah ya? orang kaya lagi. Gak heran sih kamu keluar kerja," ucap teman saat bekerja di Cafe dengan sedikit sinis.
Nara mendengarnya heran, kabar tentang dia menikah ternyata sudah tersebar di cafenya, kenapa bisa? pikir Nara heran.
Nara merasa tidak pernah mengatakan pada siapapun jika dia sudah menikah, kecuali Citra dan Ryan.
"kak Ryan. Ku kira dia kekasihmu, ga taunya bukan, aku ga nyangka Ra, ternyata kamu lebih memilih pria tua bangka yang kaya raya dari pada kak Ryan yang dari dulu sudah baik banget sama kamu!" ucap Dea dengan nada ketus. Membuat Nara dan Citra terkejut mendengar berita tentang Nara seperti itu.
"Aku tidak menikahi pria tua bangka, apakah Ryan mengatakan hal itu dan kau percaya?" tanya Nara kesal.
"Ck, lalu untuk apa kau menyembunyikan pernikahan jika bukan karena menikahi pria tua, oh atau perebut suami orang hanya demi kekayaannya!" tebal Dea asal yang membuat Nara terdiam.
"Kau diam, aku benar bukan, sudahlah jika aku tidak bekerja aku malas berbicara padamu, kau bukan temanku lagi, ch menjijikan!"Kata Dea sabil pergi meninggalkan meja Nara dan Citra yang sebelum sudah membawa pesanan mereka.
Nara meneteskan air matanya dan lalu menatap Citra, "kau tidak berpikir seperti itu tentangku bukan?"
__ADS_1
Citra tersenyum," gak Ra, aku yakin kamu bukan pelakor ataupun memiliki sugar daddy. Sudah jangan dipikirkan. Saran ku kedepannya jangan dirahasiakan meski memang kamu dan suami ga sengaja merahasiakannya. Tapi pemikiran orang lain beda, kau lihat Dea? Dia bahkan berpikir demikian, bagi mereka yang sudah tahu kehidupan orang kota ini, yang banyak terjadi hal yang mirip denganmu, dari yang tidak punya apa-apa tapi mendadak dia bisa memiliki semuanya.
Dengan cara apa? contohnya dengan apa yang dikatakan oleh Dea barusan," ucap Citra panjang lebar pada Nara.
Nara terdiam membenarkan perkataan Citra, jaman sekarang banyak wanita yang rela merelakan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang dia mau, hingga Nara kembali mengingat bagaimana keluarga Wijaya memaksanya untuk menikah dengan Samuel demi perusahaan Wijaya yang di ambang kebangkrutan.
"Cit, jika aku menceritakan semua padamu apa kau akan percaya?"tanya Nara.
"Tentu, aku tahu kamu Ra !"jawabnya.
"Aku akan ceritakan. tapi tidak sekarang, suamiku sebentar lagi akan menjemputku." Citra mengangguk mengerti.
Marcell yang baru tiba di cafe yang Nara maksud untuk menjemputnya, membuka sabuk pengamannya dan jendela, agar ia mudah menemukan Nara tanpa harus turun dari mobil.
Marcell pun mengirim pesan pada Nara jika dirinya sudah sampai di depan cafe, namun ia dikejutkan dengan suara perempuan dan mencium pipinya.
"Marcell, aku merindukanmu, aku tidak menyangka kita bisa bertemu disini, kau tau aku sudah menunggu kau menghubungiku, tapi tidak ada satu panggilan telepon pun darimu, oh apa wanita menyebalkan itu tidak memberikan kontak ku padamu, aku benar bukan, ch aku sudah duga ini, Marcell ayo kita masuk kedalam cafe bukankah ini waktunya makan siang?"
Marcell menatap datar wanita yang berkata panjang lebar di depannya. Pikirnya dia benar-benar tidak tahu malu.
"Nona, apa kau tidak tahu malu, mencium suami orang lain di depan umum? Oh apa kau ingin dicap sebagai pelakor?" tanya seorang wanita lainnya yang sangat dikenali Marcell, dan membuat Marcell turun dari mobil dan menghampirinya.
"Ara, apa kau sudah lama menunggu ?" tanya Marcell. "Tidak Marcell," jawab Nara tersenyum pada Marcell.
Citra yang mengikuti Nara, kini ia tahu siapa suami temannya, dan dia terkejut sampai tidak bisa berkata apapun.
__ADS_1
Sedangkan wanita yang mencoba mendekati Marcell wajahnya sudah terlihat merah, menahan kekesalan karena perkataan Nara.