
Safira tersenyum." Tidak apa, lagipula ada banyak yang lain disini yang membantu ibu dan ibu mengerti kau dan Marcell pasti sedang berusaha membuat Marcell atau Nara junior bukan?"
Blush... Nara benar-benar malu, dan tertunduk di hadapan Safira.
"Bu..!" Desis Nara membuat Safira terkekeh.
"Tidak usah malu, ibu juga merasakannya dulu, pria memang seperti itu, jika ada kesempatan pasti tidak akan menyia - nyiakan kesempatan itu !" Kekeh Safira.
Kali ini Nara tersenyum pada Safira. "Aku akan memanggil Marcell dan ayah !"
'Tidak usah kau duduk lah, biar Agus yang memanggil mereka!" Nara pun mengangguk dan membantu Safira menyiapkan makanan yang di akan disimpan diatas meja makan.
Tak lama Marcell dan Arya tiba di meja makan. Marcell melihat Nara yang masih kesal padanya, karena harus membuatnya berlama di kamar mandi.
Nara duduk di samping Marcell dan menyiapkan menuangkan nasi dan lauk di atas piring Marcell, meski kesal namun Nara tetap melayani suaminya dengan baik.
Marcell berbisik pada Nara. " Jangan cemberut seperti itu, jika cemberut terus, aku akan membuatmu tidak tidur malam ini !"
Mendengar perkataan Marcell membuat kedua mata Nara membola sempurna hingga ia menengok ke arah Marcell dan tersenyum lebar pada suaminya, yang membuat Marcell mengulum bibirnya. menahan untuk tidak tertawa, karena dia ingat jika mereka kini tengah berada di meja makan dan tidak boleh ada keributan, karena Ayahnya tidak suka jika berisik saat makan di meja makan.
Arya dan Safira yang melihat interaksi Marcell dan Nara, hanya menggelengkan kepalanya, dan juga tersenyum, tentu mereka mengerti mengapa mereka seperti itu, hal yang sudah mereka rasakan sebelumnya.
Tak lama mereka selesai makan malam, Marcell pun menatap ayahnya dan mengajaknya berbicara.
"Ayah, ada hal yang ingin aku bicarakan !"
Arya mengangguk. "Kita bicara di ruang kerja ayah saja !" Jawab Arya, karena dia tahu anaknya mungkin akan membicarakan hal yang serius, jika tidak mungkin Marcell sudah mengatakannya langsung di meja makan.
Marcell mengangguk. " Baiklah, nanti aku akan kesana, aku akan ke kamar dulu mengambil sesuatu !" Arya pun mengangguk mengerti dan pergi lebih dulu ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Kau istirahat lah, aku akan berbicara dulu dengan ayah!" Ujar Marcell pada Nara.
"Aku belum lelah, aku akan menonton TV dulu dengan ibu!" Jawabnya sambil menatap Safira yang mengangguk setuju, karena memang mereka setiap malam sambil menunggu kepulangan Marcell akan menonton TV bersama, juga dengan Arya di ruang keluarga.
Marcell mengangguk dan bergegas ke kamarnya mengambil sebuah berkas yang akan dibicarakan dengan ayahnya.
Setelah kepergian Marcell. Safira menatap menantunya. "Apa kau tahu yang akan dibicarakan oleh mereka?" Tanya Safira membuat Nara menggeleng lemah.
"Mungkin soal pekerjaan bu !" Jawab Nara.
"Kau benar, ya sudah, ayo kita ke ruang keluarga, oh ya kau sudah beritahu Citra, temanmu jika besok kita pergi bersama?" Tanya Safira sambil berjalan ke ruang keluarga yang ada televisi besar disana.
Nara mengangguk. "Sudah, dia sangat senang akan bertemu dengan ibu !" Jawab Nara tersenyum. Nara lalu menceritakan pada mertuanya saat ia mengatakan pada Citra, jika Ibu mertuanya akan mengajaknya pergi ke salon bersama. Citra sangat antusias. karena dia akan bertemu dengan Safira, bagi Citra Safira adalah salah satu orang penting yang sulit ditemui, dan dia beruntung bisa bertemu dengan Safira.
Safira terkekeh mendengar cerita Nara. "Ibu bukan orang penting, ada - ada saja temanmu itu!" Jawab Safira sambil tertawa membuat Nara yang juga ikut tertawa.
'Apa yang ingin kau bicarakan, apa ini tentang orang tua Nara?"
Marcell menggelengkan kepalanya." Bukan, soal itu Gio masih berusaha mencari informasinya, ini soal Miss. Rachel !"
"Miss. Rachel, siapa dia?" Tanya Arya yang belum tahu siapa Miss. Rachel.
Di ruang kerja Arya, di mansion nya, Arya tengah menunggu Marcell di meja kerja nya. Arya meski sudah tidak terlalu ikut campur dalam perusahaan nya, namun Arya tetap mengawasi kinerja anaknya lewat orang kepercayaan nya, yang tidak diketahui oleh Marcell dan ia bersyukur jika Marcell bisa menjalan perusahaan dengan baik, meski belum lama menjabat sebagai CEO.
Tak lama Marcell sudah tiba di ruang kerja Arya, dengan membawa map berwarna coklat dan ia berikan pada ayahnya.
Ayah nya hanya menerima dan belum berniat membuka isi dari map itu, sebelum Marcell menjelaskan lebih dulu apa yang akan dibicarakan oleh anaknya.
'Apa yang ingin kau bicarakan, apa ini tentang orang tua Nara?" Tanya nya pada Marcell.
__ADS_1
Marcell melangkah ke arah sofa dan duduk disana yang juga diikuti oleh Arya yang duduk di hadapannya.
Marcell menatap ayahnya dan menggelengkan kepalanya." Bukan yah, soal itu Gio masih berusaha mencari informasinya, ini soal Miss.Rachel !"
Dahi Arya mengkerut mendengar satu nama asing yang disebutkan oleh Marcell. "Miss. Rachel, siapa dia ? "
Tanya Arya yang belum tahu siapa Miss. Rachel.
"Richard Stevanus!" Ucap Marcell, membuat Arya semakin menatapnya serius pada anaknya, karena dia tahu, Richard adalah salah satu rekan bisnisnya.
"Aku yakin ayah tahu siapa dia?" Lanjut Marcell dan Arya mengangguk.
"Lalu apa hubungannya dengan Miss. Rachel ?"Tanya Arya.
"Miss. Rachel Abeline Stevanus, dia anak nya !" Jelas Marcell, yang masih menjadi tanda tanya besar untuk Arya karena belum mengerti arah pembicaraan Marcell.
Mengerti dengan kebingungan ayahnya. Marcell mulai menceritakan semua pada ayahnya dan juga hasil dari penyelidikan Gio. Arya terdiam dan terus menyimak cerita Marcell.
"Mafia ?" Heran Arya yang begitu terkejut karena mendengar masa lalu dari Richard Stevanus.
Marcell mengangguk. "Dalam berkas itu adalah bukti dari hasil penyelidikan Gio, untuk itu aku ingin membicarakan hal ini dengan ayah."Mendengar ini Arya pun membuka isi dari map itu dan membaca berkas yang ada di dalamnya.
"Miss. Rachel meski tidak secara terang-terangan menyukai ku, namun itu sudah terlihat dari cara nya dan juga apa yang sudah kami selidiki, dan dalam hal ini aku sangat mengkhawatirkan istriku !" Lanjut Marcell sambil memperhatikan Arya yang tengah membaca berkas yang dikirim oleh Gio lewat email dan Marcell mencetaknya.
Arya mengangguk setelah membaca berkas yang Marcell berikan padanya, dan dia mengerti akan kekhawatiran Marcell. Dia percaya dengan apa yang Marcell ceritakan, walaupun dia memang perlu menyelidikinya lagi untuk lebih memastikannya. Meski dalam berkas yang ia baca sudah terlihat jelas, namun Arya tidak bisa begitu saja gegabah dalam mengambil keputusan.
"Bukankah kau sudah ada janji temu dengan mereka di sana, lalu apa perlu ayah yang sebaiknya datang?"
Marcell tersenyum, mendengar tawaran dari ayahnya. Karena hal inilah yang sangat diharapkan olehnya, jika ayahnya menyetujuinya maka secara tidak langsung ia bisa menghindar dari masalah, dan juga bisa dengan tenang berbulan madu dengan Nara.
__ADS_1