Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Jepang (2)


__ADS_3

Sebentar saja Tuan Wishnu, Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred sudah duduk dengan posisi terbaik mereka di ruang rapat perusahaan Mr. Tatsuki.


Tuan Muda Anthony melirik ke seantero ruangan rapat, beberapa orang penting sudah mulai hadir meskipun jadwal meeting masih akan berlangsung tiga puluh menit ke depan.


Jepang adalah salah satu negara di Asia dengan tingkat disiplin waktu yang cukup tinggi. Orang-orang selalu hadir lebih awal dari waktu yang dijanjikan dalam setiap pertemuan.


Tentu saja hal ini berbeda dengan Indonesia. Pergeseran waktu dalam sebuah perjanjian atau keterlambatan dalam perihal kehadiran selalu dapat dimaklumi, meskipun dibalut dengan berbagai alasan remeh temeh.


Cukup bermodalkan wajah yang ramah, suara yang lembut, ditambah basa-basi kata maaf, dan dilengkapi dengan prinsip: "yang penting ada alasan", maka keterlambatan seringkali berhasil mendapatkan excuse dari orang lain.


Istilah jam karet sudah bukan hal asing bagi masyarakat di Indonesia. Seolah sudah menjadi budaya, kebiasaan tidak tepat waktu ini terus dilestarikan dalam berbagai aspek kehidupan.


Namun bagi warga negara Indonesia yang sering bertandang ke Jepang atau bahkan pernah stay di Jepang, kebiasaan mereka untuk menghargai waktu sudah terbentuk dengan sendirinya.


Kedisiplinan dalam hal waktu menjadi prioritas dalam bertindak. Seperti kebiasaan Tuan Wishnu, kedisiplinan dan kerja kerasnya mampu membawa dirinya ke puncak karir yang diimpikan banyak orang.


Tuan Wishnu juga kerap kali mendidik putera kebanggaannya, Tuan Muda Anthony, untuk selalu bersikap disiplin dalam berbagai hal. Pria tampan itu tidak hanya mengajarkan melalui kata-kata, namun juga mencontohkan dalam bentuk tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Tuan Wishnu memiliki prinsip, kedisiplinan adalah salah satu karakter utama yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Oleh sebab itu, terkadang dia akan merasa sangat jengkel ketika ada orang yang mengabaikan hal itu.


Tuan Muda Anthony juga kadang-kadang tidak luput dari teguran keras Tuan Wishnu ketika melanggar batas-batas kedisiplinan yang telah ditetapkan oleh Tuan Wishnu.


Tuan Wishnu menoleh ke arah Tuan Muda Anthony. Ia melihat putera semata wayangnya itu cukup tenang saat ini.


Tuan Wishnu tersenyum penuh wibawa ketika melihat Mr. Tatsuki memasuki ruangan rapat dengan langkahnya yang mantap.


Mr. Tatsuki membungkukkan badannya ke arah semua hadirin di ruang rapat. Semua yang hadir di sana ikut membungkukkan badan mereka. Doni menghitung-hitung di dalam kepalanya, sudah berapa kali dia membungkukkan badannya pagi ini.


"Bisa bongkok aku lama-lama di sini." Doni membatin sendiri di dalam hati. Namun ia memperhatikan tidak ada seorang pun yang memiliki postur tubuh bungkuk di ruang rapat itu. Doni merasa geli sendiri akan pikiran konyol yang terlintas di benaknya tadi.


Suasana di ruang rapat perusahaan Himawari Group mendadak hening seketika. Seorang pria berkulit putih dengan postur tubuh tinggi, tegap, dan atletis terlihat berjalan dengan gagah memasuki ruang rapat. Pria itu memiliki paras wajah khas Jepang. Melihat penampilannya, sepertinya pria itu seumuran dengan Tuan Wishnu.

__ADS_1


Semua peserta rapat berdiri dalam posisi siap. Mereka membungkuk hormat ke arah Mr. Kimigawa.


Mr. Kimigawa adalah CEO perusahaan Himawari Group, salah satu perusahaan tambang emas yang sedang populer di negeri sakura itu.


Mr. Tatsuki adalah tangan kanan Mr. Kimigawa. Hampir sebagian besar keputusan-keputusan penting yang diambil oleh pimpinan perusahaan itu didasarkan pada pertimbangan dan analisa Mr. Tatsuki yang sangat cermat dan terstruktur.


Kunjungan Mr. Tatsuki ke perusahaan Tanaka Mining, Co. Ltd. mestilah atas perintah Mr. Kimigawa. CEO perusahaan Himawari Group itu bermaksud menjalin kerjasama dengan perusahaan Tuan Wishnu dalam bidang ekspor impor bahan-bahan pertambangan.


Menit demi menit terasa berjalan begitu cepat. Hampir dua jam waktu berlalu. Tuan Wishnu dan Mr. Kimigawa terlihat menanda tangani setumpuk kertas yang berisi MoU kerjasama.


Pada akhirnya kedua perusahaan pertambangan tersebut sepakat untuk menjalin kerjasama bilateral.


Mr. Tatsuki merapikan berkas MoU tersebut dan mengarahkan team dokumentasi untuk mendokumentasikan hasil keputusan rapat hari ini.


Team dokumentasi dari Himawari Group sudah bersiap-siap mangambil dokumentasi event penting pagi ini. Tuan Wishnu dan Mr. Kimigawa tersenyum dan saling berjabat tangan di bawah kilauan cahaya blitz kamera team dokumentasi.


Pembicaraan menjadi lebih santai. Atmosfer di ruang rapat menjadi hangat dan bersahabat.


"Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran tuan-tuan sekalian memenuhi undangan perusahaan kami." Ucap Mr. Kimigawa sopan.


"Saya akan sangat senang jika petang ini kita bisa bersama-sama menikmati sake atau ocha di villa kami yang sederhana." Ujar Mr. Kimigawa sambil tersenyum tipis.


"Hemmm... Arigato gozaimasu." Ucap Tuan Wishnu.


"Undangan dari anda tentu saja adalah sebuah kehormatan bagi kami." Sambung Tuan Wishnu.


"Baik. Mr. Tatsuki akan mengurus segalanya. Driver terbaik kami akan menjemput anda petang nanti." Ujar Mr. Kimigawa.


Terlihat Mr. Tatsuki mengangguk pelan sambil tersenyum ramah sebelum akhirnya pria paruh baya itu menutup rapat hari ini atas perintah Mr. Kimigawa, sang CEO dari Himawari Group.


Selang beberapa menit kemudian, Tuan Wishnu, Tuan Muda Anthony dan Tuan Alfred sudah kembali ke hotel.

__ADS_1


Tuan Wishnu bergegas menuju kamarnya diikuti oleh Tuan Alfred. Sementara itu Tuan Muda Anthony dipersilahkan untuk beristirahat di kamarnya. Sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Tuan Wishnu bersama Tuan Alfred.


Doni tidak ingin ambil pusing. Dia bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan beristirahat siang ini. Sambil berjalan menyusuri koridor hotel mewah itu, sesekali ia menatap layar ponselnya dengan penuh semangat.


Doni masuk ke kamar dan segera berganti pakaian. Penghangat ruangan yang bekerja secara otomatis berhasil membuat Doni merasa nyaman.


Doni melirik ke arah balkon di depan kamarnya. Butiran-butiran salju yang halus sesekali masih terlihat turun dengan indah dari langit.


Tokyo sedang mengalami musim dingin namun tidak sepenuhnya diselimuti salju seperti di beberapa kota lainnya di Jepang. Tumpukan salju belum banyak terlihat di pusat kota meskipun udara di sekitarnya sudah mencapai enam derajat.


Matahari seolah masih enggan muncul di Negeri Matahari Terbit ini. Sehingga udara dingin pelan-pelan mulai terasa menusuk tulang.


Doni mengetikkan beberapa kata-kata di ponselnya dan mengirimkan ke WA Amanda. Dia merasa rindu dengan suasana di sekolahnya. Ah, sebenarnya dia merindukan Amanda.


"Hemmm... Apa yang sedang dilakukan gadis itu sekarang ya?" Doni bertanya-tanya dalam hati.


Pesan Doni terkirim dengan keadaan centang dua. Doni memperhatikan waktu terakhir Amanda online di WA.


"Hemmm... Masih belajar kayaknya..." Gumam Doni.


Doni merasa tidak sabar untuk segera kembali ke Indonesia. Tiba-tiba dia merasa sedikit kesal karena papanya tadi menerima ajakan Mr. Kimigawa.


Padahal sebelumnya Tuan Wishnu sudah merencanakan untuk bertolak kembali ke Indonesia sore ini. Tapi semuanya delay karena undangan spesial dari Mr. Kimigawa.


"Huhhh... Apapun ceritanya, besok pagi aku harus masuk sekolah!" Gerutu Doni kesal.


Doni masih menatap layar ponselnya sampai akhirnya tertidur pulas di atas tempat tidurnya yang super mewah. Tanpa disadarinya, ponsel pun terlepas dari genggamannya.


Butiran-butiran salju di luar sudah berhenti turun. Namun suhu udara di luar hotel masih sangat dingin.


Tuan Alfred keluar dari kamar Tuan Wishnu dan berjalan dengan anggun di sepanjang koridor hotel bak pramugara yang sedang bertugas.

__ADS_1


Dua orang wanita melirik penuh minat ketika berpapasan dengan Tuan Alfred di elevator hotel.


Tuan Alfred keluar dari elevator diikuti oleh pandangan takjub kedua wanita yang masih berada di dalam elevator tersebut.


__ADS_2