Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Bermula dari Rasa Nyaman


__ADS_3

"Hemmm... Kenapa ya dia ga angkat telpon?" Ryan sudah beberapa kali menelpon Amanda namun tidak ada respon sama sekali.


Amanda tidak membalas menelpon ataupun mengirim pesan.


"Mungkin dia sibuk ya?" Ryan mencoba berbaik sangka, apalagi dia juga menyadari sifat Amanda yang rajin.


Ryan sudah cukup paham sifat-sifat Amanda walaupun mereka belum lama saling mengenal. Dalam pandangan Ryan, Amanda adalah sosok gadis yang rajin dan pintar.


Selain itu, Amanda juga bukan tipikal gadis abege yang banyak gaya atau sok sosialita. Dia begitu sederhana namun memiliki cita-cita besar untuk masa depannya.


Ryan bisa menyimpulkan begitu karena ia sering ngobrol dengan Amanda akhir-akhir ini.


Sulit sekali zaman sekarang menemukan remaja seperti itu. Di saat teknologi dan social media begitu menguasai. Semua perhatian para remaja tersedot ke sana.


Sebagian remaja mampu memanfaatkan peluang itu dengan baik. Melakukan hal-hal positif yang kekinian sehingga menjadi inspirasi yang bermanfaat bagi orang lain. Mereka adalah remaja-remaja yang kreatif dan inovatif.


Sedangkan sebagian remaja lainnya malah terjebak dalam pergaulan dunia maya yang menyesatkan. Hingga berakibat pada kacaunya pergaulan dan sikap mereka dalam kehidupan sehati-hari.


"Dia juga cukup manis... Hemmm..." Gumam Ryan sambil memandangi foto profil Amanda di WA.


Amanda dengan rambutnya yang lurus pendek itu memberi kesan simpel kepada siapapun yang memandangnya. Dan memang begitulah karakter Amanda. Simpel ga pake ribet.


"Hai Ryan. Sorry nih, aku lagi ngerjain PR." Pesan dari Amanda muncul di layar smartphone Ryan.


Ryan membaca pesan dari Amanda sambil senyum-senyum sendiri. Ternyata benar seperti dugaannya. Amanda pasti sedang sibuk mengerjakan PR atau tugas-tugas yang diberikan oleh guru seharian tadi.


"It's OK, baby." Balas Ryan.


"Sorry juga aku jadi gangguin kamu belajar." Ryan mengetikkan pesan itu dengan cepat dan langsung mengirimkannya untuk Amanda.


"Ga kok. Santai aja." Balas Amanda lagi.


"Kamu lagi ga ada PR ya?" Tanya Amanda karena melihat Ryan bisa langsung membalas chat-nya tanpa jeda.


"Ada sih... Tapi biasanya aku ngerjainnya pagi-pagi sebelum masuk sekolah." Ryan mengetikkan jawabannya.


"Ohhh... Jadi kamu selalu bangun pagi-pagi buta ya demi ngerjain PR. Heheheh..." Amanda membalas lagi pesan yg dikirim oleh Ryan.


"Yeah. Bangun pagi baik untuk kesehatan!" Ketik Ryan.


Pesan terkirim dan centang dua. Tetapi Amanda belum membaca pesan yang dikirimkan oleh Ryan.


Ryan menunggu beberapa saat. Namun tetap saja tidak ada balasan. Bahkan dibaca saja belum, padahal tadi baru saja statusnya Amanda online.

__ADS_1


"Hemmmm..." Gumam Ryan.


Ryan mencoba menunggu lagi balasan dari Amanda. Tiba-tiba dia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dia heran mengapa dia mulai suka ngobrol dengan Amanda.


Ngobrol dengan Amanda cukup nyaman. Apalagi Amanda juga bukan cuma pintar tetapi juga cepat nyambung jika diajak berdiskusi. Ryan menyukai hal itu.


Jarang-jarang seorang Ryan merasa nyaman ngobrol dengan orang lain. Kebanyakan tema-teman Ryan adalah anak-anak pejabat. Seharusnya mereka pintar, namun malah pengetahuan mereka minim sekali.


Anak-anak pejabat itu kebanyakan hanya tahu tentang apa-apa yang sedang viral di internet saja. Selebihnya hanya mengikuti pelajaran karena terpaksa.


Fasilitas dan berbagai kemewahan sepertinya berhasil membuat mindset para remaja banyak yang jadi melenceng.


Para remaja yang seharusnya berada di masa-masa produktif malah jadi melempem. Kreativitas mereka mulai luntur. Hal-hal yang baik dan positif untuk masa depan mulai diabaikan.


Ryan menyadari itu adalah fenomena yang mengerikan. Dia sendiri berupaya tidak terjebak dengan keadaan seperti itu.


Dia bersyukur memiliki berbagai fasilitas yang bisa mendongkrak setiap kegiatannya. Tidak perlu bersusah payah seperti remaja-remaja lain yang kurang beruntung nasibnya.


Ryan selalu berambisi untuk menjadi yang terbaik dalam hal apapun yang diikutinya. Oleh sebab itu, dia selalu belajar dan melakukan hal-hal yang terbaik agar bisa memperoleh hasil yang maksimal.


Ia juga cukup berhati-hati dalam bergaul. Ia selalu memilih circle yang memberi efek positif bagi masa depannya. Amanda adalah tipe teman yang ideal menurut Ryan. Gadis itu memiliki visi misi yang sama dengan dirinya.


Akhirnya Amanda membaca pesan dari Ryan. Ia membalas dengan mengirimkan sebuah sticker yang lucu. Ryan tersenyum melihat kiriman sticker tersebut.


"Hemmm... Tapi kayaknya dia lagi sibuk nih..." Ryan akhirnya mengurungkan niatnya menelpon Amanda.


Ryan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke ruang keluarga. Untuk menghilangkan kebosanannya, ia mencoba menonton televisi. Kebetulan ada acara komedi kesukaannya yang sedang tayang.


"Nak Ryan... Ini ada roti bakar cokelat..." Bu Sur tiba-tiba datang dan menyodorkan sepiring roti bakar cokelat buatannya.


"Wahhh... Ini kelihatan enak sekali, Bu Sur..." Puji Ryan sambil mengambil sepotong roti yang terlihat empuk itu.


Bu Sur tersenyum simpul mendengar pujian dari Ryan. Asisten rumah tangga Ryan itu kembali ke dapur untuk membereskan piring-piring kotor yang masih menumpuk di sana.


"Hemmm... Cemilan yang berat malam ini. Tapi sekali-sekali tidak mengapa, Ryan." Batin Ryan.


Ryan menikmati roti bakar cokelat itu sambil sesekali tertawa terkekeh-kekeh melihat aksi para komedian di televisi. Betul-betul menghibur.


"Kak, ada telpon nih!" Rudy berjalan cepat dan menyerahkan smartphone Ryan dengan wajah sedikit kesal.


Ryan melirik ke arah adiknya yang terlihat kesal itu. Dia baru ingat dirinya tadi meninggalkan smartphone-nya di kamar setelah chat dengan Amanda.


"Siapa?" Tanya Ryan pada Rudy.

__ADS_1


"Ga tahu. Ga ada namanya." Sahut Rudy.


Rudy meninggalkan Ryan di ruang keluarga. Ia kembali ke kamarnya. Tadi tanpa sengaja dia melewati kamar kakaknya dan mendengar suara dering HP dari dalam kamar.


Ryan mencoba mengingat-ingat siapa pemilik nomor asing itu. Tapi nihil. Rasanya dia memang belum pernah mengenal nomor HP itu.


Ia memutuskan menerima panggilan asing itu karena melihat sudah ada tiga buah panggilan sebelumnya dari nomor yang sama.


"......" Hening suara ketika Ryan menerima panggilan itu.


Ryan juga tidak ingin mengucapkan sesuatu sebelum si penelpon asing itu berbicara lebih dahulu.


Setelah beberapa detik sebuah suara perempuan terdengar lembut di seberang telpon.


"Halo, Ryan..." Sapa gadis yang asing di seberang sana.


Ryan mencoba mengingat-ingat si pemilik suara.


"Halo." Ryan balas menyapa dengan suara yang tegas.


Dia masih belum bisa menebak si pemilik suara lembut tersebut.


"Ummmm... Ini aku, Amel." Sahut perempuan itu.


"Amel? Amel yang mana?" Ryan mulai perasaan tidak enak. Dia mulai kenal siapa gadis yang menelpon dirinya.


"Amel dari kelas I-6." Jawab Amel.


Benar sudah dugaan Ryan. Ryan langsung berwajah masam.


"Ohh... Iya, aku ga kenal kamu. Ada apa rupanya?" Tanya Ryan ketus.


"Hehehe... Ga ada sih... Aku cuma sekedar nelpon aja." Ujar Amel yang mulai salah tingkah.


"Hemmm... Aku sedang ada kegiatan. Kalau memang tidak ada yang penting, mungkin kita bisa ngobrol lain kali." Tukas Ryan.


"Ohh... Ohh... Baiklah. Maaf jadi mengganggu." Ucap Amel dengan hati sedikit kecewa.


"OK." Sahut Ryan dan langsung memutuskan telpon.


Ryan tidak ingin beramah-tamah lagi. Dia sudah kapok.


"Huhhh... Ada aja orang yang gagal paham. Ga bisa bedain mana yang dikatakan ramah, mana yang dikatakan suka!" Ryan membatin kesal dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2