Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Jepang (4)


__ADS_3

Suasana di SMA Adhyaksa sedang riuh sekali. Bel tanda istirahat baru saja berbunyi nyaring seperti biasa. Para siswa berhamburan keluar dari kelas mereka.


"Helen! Ke kantin yukkkk!" Seru Yuni dari bangkunya.


Helena mendongak, melihat Yuni yang duduk sendirian di bangkunya. Ia lalu bangkit dan mengajak Amanda mengikuti dirinya berjalan ke arah bangku Yuni.


"Tania mana?" Tanya Helena ketika melihat bangku di sebelah Yuni dalam keadaan kosong.


"Hemmm... Dia kan ga masuk hari ini." Jawab Yuni.


"Kemana dia? Sakit?" Tanya Helena lagi.


Yuni menggeleng cepat. "Bukan. Katanya dia ikut maminya ke Bogor. Ada acara keluarga gitu deh..." Jelas Yuni.


"Owww..." Helena membulatkan mulutnya membentuk huruf O sambil menoleh ke arah Amanda yang berdiri di sampingnya.


"Ayolah! Laper banget nih!" Yuni mengelus perutnya.


Yuni lalu menarik tangan Amanda, mengajaknya keluar dari kelas I-2. Helena mengikuti Yuni dan Amanda dari belakang.


"Kita ke kantin utama aja ya! Di sana lebih banyak pilihan jajanan. Hehehe..." Ujar Yuni cengengesan.


"Hemmm..." Amanda melirik Helena.


"Yaudah... Buruan! Nanti keburu rame loh!" Tukas Helena.


Ketiga gadis itu berjalan cepat menuju kantin utama. Tiba-tiba langkah Amanda terhenti ketika sebuah suara yang ramah memanggilnya. Amanda mencari-cari asal suara tersebut di tengah kerumunan para siswa yang keluar masuk kantin utama.


"Amanda! Heiiii... Over here!" Terlihat Ryan melambaikan tangannya di tengah kerumunan siswa.


Ryan dengan postur tubuh tinggi begitu tentu saja tidak terlalu sulit untuk dikenali di tengah lalu lalang para siswa.


"Tunggu aku!" Seru Ryan. Ia setengah berlari menghampiri Amanda.


Amanda melirik Yuni dan Helena. Yuni dan Helena saling pandang.


"Kami duluan aja ya Amanda. Ntar kamu nyusul aja masuk ke dalam. Aku takut nanti makanan pada habis." Kata Yuni.


"Kamu mau pesan apa? Biar aku bantu pesenin." Ujar Helena.


"Hemmm... Kalian pada mau makan apa? Samain aja deh..." Sahut Amanda.


"OK." Ucap Helena. Ia melihat Ryan sudah semakin mendekat ke arah mereka.


"Yukkk!" Ajak Yuni.


Helena dan Yuni lalu masuk ke kantin utama dan mulai ikut antrian untuk memesan makanan yang ingin mereka nikmati.


"Ada apa Ryan?" Tanya Amanda ketika Ryan sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Besok kita mulai coaching ya!" Ryan berkata tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Apa? Coaching apa nih?" Tanya Amanda.


"Ya ampun, Tuan Putri. Secepat itu kamu melupakan aku!" Ryan tersenyum usil.


"Heiiii... Aku serius! Apaan sih!?" Suara Amanda mulai sedikit meninggi.


"Besok sore coach Winnie bersedia memulai kelas pertama kita." Ujar Ryan.


"Coach Winnie? Siapa dia?" Amanda sepertinya masih belum nyambung.


"Dia pelatih kita. Dia yang bakalan ngajarin kita dari dasar sampai expert, all about essay." Ryan menjelaskan dengan sabar.


"Oh.. Kedengarannya bagus!" Amanda mulai paham arah pembicaraan.


"Definitely! Bilang sama teman kamu itu besok sore kita belajar bareng." Ujar Ryan.


"OK. Belajarnya dimana?" Tanya Amanda.


"Hemmm... Di villa ku aja gimana?" Ryan menawarkan lokasi belajar terbaik menurutnya.


"Boleh. Share loc aja. Besok sore kami akan ke sana." Ujar Amanda.


Amanda kemudian mengetikkan beberapa kalimat di WA dan mengirimkan ke Doni.


"Minggir sini." Ryan menarik tangan Amanda mendekat ke sisinya.


"Kamu menghalangi jalan." Ujar Ryan.


Sekumpulan siswa perempuan menyapa Ryan dengan ceria.


"Hai ganteng!" Seru salah seorang gadis di antara mereka.


Ryan membalas dengan senyuman ramah dan menoleh cepat ke arah Amanda.


"Ayo! Teman-teman kamu pasti udah nungguin di dalam." Ryan teringat kedua teman Amanda yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam kantin.


Amanda masuk ke dalam kantin utama dengan perasaan agak gugup. Dia masih saja nervous berada di tengah keramaian kantin itu.


Amanda tidak menyadari begitu banyak siswa-siswa baru yang memperhatikan Ryan yang berjalan di sampingnya. Ryan yang sedang viral betul-betul menarik perhatian para gadis dari berbagai SMA di kota itu, tak terkecuali di SMA Adhyaksa.


Yuni melambaikan tangannya dan memanggil nama Amanda sekuat tenaga. Ryan yang lebih dahulu menangkap asal suara itu memberi tanda pada Amanda.


"Tuh teman kamu udah manggil-manggil. Aku ke perpustakaan dulu ya!" Ujar Ryan.


Tiba-tiba saja Ryan merasa nafsu makannya menghilang setelah ia menyadari dirinya menjadi sorotan para gadis di dalam kantin.


"Hemmm... OK." Ucap Amanda dan berjalan cepat ke arah bangku kosong di samping Yuni dan Helena.


Semangkuk es pisang ijo terlihat sangat menggiurkan. Amanda menelan ludah.


"Sempurna untuk cuaca sepanas sekarang ini." Yuni berkata sambil tertawa.

__ADS_1


"Makasih, manteman." Amanda mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu.


"Hohoho... Santai aja, Amanda. Kali ini aku yang traktir." Yuni menolak menerima uang dari Amanda.


"Wahhh... Serius nih?" Tanya Amanda.


Yuni mengangguk mantap. Helena tersenyum simpul. Amanda lagi-lagi mengucapkan terima kasih. Mereka menikmati es pisang ijo sambil bercengkerama tentang banyak hal.


Sementara itu, di negara sakura, Tuan Muda yang tampan hampir saja tersedak ketika membaca pesan WA dari Amanda.


Pikirannya mulai kacau balau. Dia mulai resah, gelisah tidak menentu.


"Besok sore?" Batin Doni.


"Villa Ryan?" Doni mulai meradang lagi jika mengingat wajah siswa yang cengengesan itu.


"Hemmm... Jadi sekarang bocah cengengesan itu sedang bersama Amanda..." Doni mulai berprasangka.


"Apa yang sedang mereka lakukan di belakangku?" Prasangka buruk Doni semakin menjadi-jadi.


Doni ingin sekali menghubungi langsung Amanda saat ini. Namun dia tersadar bahwa jam segini, sekolah belum usai. Ditambah lagi dia sedang makan siang dengan papanya. Sungguh sangat tidak sopan jika dia menelpon orang lain di hadapan papanya yang sedang serius membicarakan tentang perkembangan bisnis perusahaan mereka.


Doni terpaksa mengurungkan niatnya menghubungi Amanda. Dia akan menelpon gadis itu nanti sore.


Tuan Wishnu melirik wajah puteranya yang terlihat tegang.


"Ada masalah, Doni?" Tuan Wishnu bertanya tanpa basa-basi membuat Tuan Alfred spontan menoleh ke arah Doni.


"Hemmm... Tidak ada, pa." Jawab Doni.


Tuan Wishnu menghela nafas. Pria itu kembali melanjutkan pembahasannya. Tuan Alfred menyimak dengan seksama.


"Jangan lupa untuk membereskan semuanya. Kita akan langsung kembali ke Indonesia malam ini, setelah memenuhi jamuan Mr. Kimigawa." Tuan Wishnu mengingatkan kembali tugas Tuan Alfred dan Tuan Muda Anthony.


"Doni, kembalilah ke kamar. Beristirahatlah." Perintah Tuan Wishnu pada Doni.


"Baik, pa." Ucap Doni sopan dan segera berpamitan untuk kembali ke kamarnya.


"Tuan Alfred, tolong pastikan Tuan Muda memahami betul poin-poin penting kerja sama kita kali ini." Ucap Tuan Wishnu.


"Siap, Tuan." Sahut Tuan Alfred.


"Tuan Muda akan banyak terlibat dalam kerja sama jangka panjang ini. Aku harap dia benar-benar bisa diandalkan." Tuan Wishnu berkata dengan nada tegas.


"Aku tidak bisa percaya sepenuhnya pada mereka. Kau tahu sendiri kan track record Mr. Kimigawa?" Tuan Wishnu menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Kita harus lebih hati-hati. Tuan Muda harus jeli dalam setiap urusan bisnis dengan mereka." Sambung Tuan Wishnu.


"Saya pastikan Tuan Muda tidak akan mengecewakan anda, Tuan." Ujar Tuan Alfred optimis.


Tuan Wishnu tersenyum puas mendengar kata-kata Tuan Alfred. Kedua pria tampan itu kemudian mengakhiri lunch meeting mereka.

__ADS_1


__ADS_2