Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Akhir Pekan


__ADS_3

Akhir pekan yang dinantikan telah tiba. Vera berdiri di teras rumah Amanda, sejenak menikmati kesejukan udara di sekitarnya.


Matahari pagi ini bersinar cerah sekali di bawah naungan langit biru yang terbentang begitu luas. Secerah hati ketiga gadis muda itu. Nunik terlihat paling bahagia di antara mereka bertiga.


Vera tiba-tiba mengubah posisinya berdiri. Dia sudah mulai tidak sabar, sebentar-sebentar dia menatap layar ponselnya.


"Lama banget si Amanda ini!" Keluh Vera tidak sabar.


"Iya juga ya... Tumben kali ini dia lama..." Ujar Nunik.


"Apa kita panggil aja ke dalam?" Vera meminta persetujuan Nunik.


"Hemmm..." Nunik menggumam. Dia terlihat ragu sejenak. Sesekali dia mencoba melirik ke dalam ruang tamu.


Vera dan Nunik memilih menunggu di teras rumah Amanda. Mereka sebelumnya menolak tawaran ibunya Amanda untuk menunggu Amanda di ruang tamu karena biasanya Amanda tidak akan menghabiskan waktu selama ini untuk berkemas.


Tdak berapa lama kemudian, gadis yang ditunggu-tunggu nongol dengan tergopoh-gopoh.


"Eh... Maaf yahhh... Jadi kelamaan!" Seru Amanda.


"Tumben kamu lama!" Tukas Nunik.


"Iya, Nik... Aku mules tadi, jadinya bolak-balik ke kamar mandi." Ujar Amanda jujur.


"Hemmm... Ya udah, ayo!" Vera bergegas masuk ke mobilnya.


"Lho? Kamu bisa bawa mobil?" Amanda tercengang melihat Vera sudah bersiap-siap mengemudikan mobilnya.


"Bisa dong, Amanda sayang! Jadi kamu belum tahu kalau aku bisa nyetir?" Ujar Vera sambil tersenyum tipis.


"Hahaha... Aku juga tadinya kaget loh!" Nunik menimpali.


"Wowww... Kapan kamu belajar nyetir?" Tanya Amanda penasaran.


Amanda merasa sepertinya dia tidak pernah mengetahui apalagi melihat Vera belajar menyetir mobil.


Setahu Amanda, Vera tidak bisa mengendarai kendaraan. Mengendarai sepeda motor saja dia tidak bisa, tapi kini... Tiba-tiba saja Vera sudah bisa menyetir mobil. Ini benar-benar perkembangan yang mengejutkan!


"Kamu udah mulai nyetir sendiri ke sekolah nih ceritanya?" Tanya Nunik.


"Hemmm... Ga juga sih. Aku belum diizinin ortu." Jawab Vera.


"Loh... Kenapa?" Amanda yang duduk sendirian di jok belakang bertanya dengan ekspresi wajah bingung.


"Iya, aku kan belum punya SIM!" Ujar Vera.


"Oh iyaaa..." Amanda dan Nunik berseru berbarengan.


Beberapa menit kemudian mobil Vera sudah memasuki pekarangan rumah Tiwi. Halaman rumah Tiwi yang cukup luas dipenuhi barisan mobil dan kendaraan roda dua. Sepertinya Tiwi sedang kedatangan banyak tamu.


Vera memarkir mobilnya dengan hati-hati. Dia belum terlalu lihai dalam hal itu. Nunik terlihat waspada. Amanda memperhatikan suasana di sekitar rumah Tiwi.


"Kayaknya di dalam rame banget..." Desis Amanda.


"Hemmm... Iya, anak-anak juga datang pagi ini loh..." Vera menjelaskan bahwa dia sudah berjanji dengan teman-temannya yang lain untuk menjenguk Tiwi pagi ini.


"Oh gitu... Akhirnya Tiwi pulang juga!" Seru Nunik lega.


"Iya, aku udah ga sabar mau ketemu dia." Ucap Vera sambil mematikan mesin mobilnya.


Ketiga gadis itu keluar dari mobil Vera dengan penuh semangat. Mereka saling tatap dan tersenyum bahagia.


"Eh... Sepertinya Tio ada di dalam nih!" Ujar Nunik ketika melewati barisan kendaraan roda dua yang berjejer rapi di depan garasi.


"Apa? Tio?" Tanya Amanda panik.


"Hehehe... Fans setianya Amanda. Hahaha..." Nunik berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh.

__ADS_1


"Jangan panik gitu dong, Amanda! Santai aja." Ujar Vera sambil senyum-senyum.


"Toh sekarang kamu udah ga jomblo lagi." Kata Nunik.


"Siapa sih nama pacar kamu yang ganteng itu?" Nunik bertanya lagi.


"Pacar!? Pacar siapa? Kalian ngomong apa sih?" Tanya Amanda, masih dengan ekspresi panik yang sama.


"Idihhh... Jadi kita ga boleh tahu nih nama pacar baru kamu?" Nunik melirik Amanda dengan tatapan usilnya.


Amanda melengos. Vera dan Nunik tertawa terbahak-bahak. Mereka bertiga kemudian memberi salam dan masuk ke dalam rumah Tiwi.


Beberapa teman SMP menyapa mereka dengan hangat di ruang tamu. Terlihat Intan dan teman-temannya keluar dari kamar Tiwi dan tersenyum ceria ke arah Vera.


"Baru nyampe, Ver?" Tanya Intan.


Vera mengangguk cepat. Ia tersenyum dan mulai bertanya bagaimana keadaan Tiwi saat ini.


"Dia sudah sangat sehat." Ujar Intan.


"Syukurlah..." Desah Vera lega.


"Ver, kami duluan ya... Soalnya kita pada ada acara semua nih. Jadi ga bisa ngumpul lama-lama di sini." Intan berkata sambil bergantian menatap Vera dan Nunik.


"Ohh... OK. Kita kan bisa ngumpul lain kali, beppp!" Tukas Nunik.


Intan dan teman-temannya tersenyum manis dan sekilas menyapa teman-temannya yang lain yang baru saja tiba di rumah Tiwi.


"Wahhh... Rame juga yang datang hari ini." Gumam Amanda.


Dia membayangkan alangkah lelahnya Tiwi pagi ini karena disamperin teman-temannya yang berjibun begini.


"Tuh fans kamu di ujung sana..." Bisik Nunik pada Amanda.


Amanda sontak menoleh ke arah yang dimaksud Nunik. Dia merasa perutnya mules lagi ketika melihat sosok Tio yang sedang berdiri di sana. Tio sepertinya belum menyadari keberadaan Amanda di rumah itu. Amanda mulai menyembunyikan dirinya di antara Nunik dan Vera. Nunik tersenyum usil melihat reaksi Amanda.


Ada dua orang teman Tiwi di dalam kamar. Amanda, Nunik, dan Vera tidak mengenali kedua gadis itu. Kedua gadis itu segera berpamitan dan keluar dari kamar ketika melihat Amanda dan teman-temannya masuk.


"Haiii sayang... Welcome home!" Ujar Nunik dengan wajah ceria.


"Makasih kalian udah datang..." Ucap Tiwi sambil berusaha tersenyum.


"Wahhh... Kamu udah lebih segar sekarang ya!" Kata Amanda.


"Makasih Amanda..." Gumam Tiwi.


"Hemmm... Kapan kamu bisa masuk sekolah lagi?" Tanya Vera.


"Iya nih... Aku udah ga sabar cekikikan sama kamu di sekolah." Nunik menimpali.


"Hehehe... Do'akan ya bisa secepatnya. Kata dokter, aku masih belum boleh ke sekolah." Ujar Tiwi sendu.


"Oh... Gapapa, beppp. Pokoknya kamu semangat yahhh! Kita semua pada yakin kok kamu bakalan bisa masuk sekolah secepatnya." Nunik mencoba memberi motivasi.


"Iya... Ehh, Amanda ga ketemu Tio tadi?" Tanya Tiwi sambil merubah posisi duduknya di atas tempat tidur.


"Hehehe... Untung aja dia ga ngelihat aku." Jawab Amanda lega.


"Kamu panik bener tadi yaaa..." Seru Vera yang langsung disambut oleh tawa renyah Nunik.


"Lagian kamu ngapain panik sih? Kan kamu udah punya pacar sekarang. Tio mah gada apa-apanya dibandingkan pacar kamu yang cool itu!" Ujar Nunik sekenanya.


"Siapa sih namanya? Kok aku bisa lupa yaaa..." Ujar Vera kesal.


"Doni, bukan?" Sela Tiwi. Dia mencoba mengingat-ingat nama cowok yang sedang mereka bicarakan.


"Haaa!! Iya bener, Doni!" Ujar Vera girang.

__ADS_1


"Dasar kamu Ver! Malah Tiwi yang terbentur kepalanya yang lebih ingat!" Nunik mulai meledek Vera.


"Wik, kamu jangan kebanyakan mikir lohh... Apalagi ingat-ingat hal yang ga penting gitu." Ujar Amanda cemas.


"Cieeeee... Ada yang cemburuuuu!!!" Nunik dan Vera serempak berseru dan tergelak bersama.


"Bukan gitu maksudku...." Tukas Amanda sambil mendengus pelan.


"Ya udah, Wik. Kami pamit dulu ya. Kamu juga harus istirahat kan..." Ucap Vera.


"Kabarin kami kalau kamu kangen." Vera berkata sambil mengedipkan matanya.


Tiwi tersenyum bahagia dan mengangguk pelan. Amanda, Vera, dan Nunik keluar dari kamar Tiwi dan berpapasan dengan orang tua Tiwi di ruang tamu.


"Permisi om, tante..." Ucap Vera sopan sebelum meninggalkan rumah Tiwi.


"Terima kasih, nak..." Ujar mama Tiwi sambil tersenyum ramah.


Ketiga gadis itu menghela nafas lega di dalam mobil. Mereka benar-benar merasa bahagia melihat Tiwi sudah kembali ke rumah.


Smartphone Amanda berdering dengan nyaring. Terlihat nomor yang tidak dikenali Amanda. Namun Amanda memutuskan menerima panggilan tersebut.


"Halo..." Ucap Amanda.


"Halo, Amanda. Kamu lagi dimana?" Suara di seberang sana terdengar sangat ramah.


Namun Amanda merasa tidak mengenali si pemilik suara tersebut.


"Hemmm... Maaf... Ini dengan siapa ya?" Amanda bertanya dengan sopan.


"Oh Tuhan... Kamu ga kenal suaraku?" Tanya suara misterius itu.


"Ga..." Jawab Amanda singkat.


"Ini aku, Ryan!" Ujar sang pemilik suara.


"Ryan?" Amanda mengulang nama yang disebutkan.


Dia telihat sedang berusaha mengingat-ingat nama itu. Vera dan Nunik saling pandang.


"Siapa lagi itu Ryan?" Begitu pertanyaan yang tersirat dari tatapan mata Nunik. Vera mengedikkan bahunya.


"Iya... Hehehe... Temannya Vino." Ujar Ryan.


"Oh... Iya, Ryan! Ya ampun... Aku beneran ga kenal suaranya. Ada apa nih?" Amanda kembali ceria.


"Besok kamu ada kegiatan apa?" Tanya Ryan.


"Hemmm... Ga ada tuh." Jawab Amanda.


"Kebetulan banget. Kamu tahu ga besok ada..." Ucapan Ryan tiba-tiba terputus.


Tut... Tut... Tut...


Panggilan telepon dari Ryan terputus begitu saja. Amanda menatap layar ponselnya dan memutuskan menyimpan nomor tersebut di daftar kontak teleponnya.


"Ehemmm... Doni... Ryan..." Nunik mulai berdehem.


"Idihhh... Apaan sih kalian! Ryan ini temanku." Tukas Amanda sewot.


"Amanda sekarang udah punya banyak teman cowok ya..." Ujar Vera.


"Kira-kira gantengan mana Ryan sama Doni?" Nunik bertanya ceplas-ceplos.


Vera tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Amanda dari kaca spionnya.


Sebenarnya dalam hati Amanda juga merasa bingung jika diminta memutuskan siapa yang lebih tampan di antara mereka berdua.

__ADS_1


"Keduanya sama-sama ganteng sih..." Amanda membatin dalam hati.


__ADS_2