
Doni merasa resah karena dirinya belum juga menghubungi Amanda. Sore tadi dia terlalu sibuk sehingga tidak sempat menelpon Amanda untuk menanyakan kabarnya.
Ia masih merasa cukup khawatir dengan kondisi Amanda. Apalagi Amanda juga tidak menghubunginya sampai saat ini. Dia berharap kondisi Amanda sudah membaik. Mengingat Amanda yang begitu lemas di dalam pelukannya tadi, benar-benar membuat dirinya tidak tenang.
Doni mencari kontak nama Amanda di smartphone-nya. Ia lalu menelpon Amanda dengan hati berdebar karena khawatir akan kesehatan Amanda saat ini.
"Halo..." Sapa Amanda ketika dia menerima panggilan WA dari Doni.
"Gimana keadaan kamu?" Doni berusaha setengah mati agar nada suaranya terdengar normal dan datar seperti biasa. Meskipun sebenarnya dia merasa sangat khawatir.
"Iya, aku udah baikan." Sahut Amanda.
Doni merasa lega mendengar jawaban Amanda. Kini dia merasa lebih tenang.
"Hemmm... Kamu sudah ke dokter?" Tanya Doni.
"Ga, Doni. Aku ga kenapa-kenapa. Ternyata aku hanya sedikit masuk angin..." Tutur Amanda.
Doni menyimak setiap perkataan Amanda dengan teliti.
"Kebetulan aku juga lagi PMS tuh kayaknya... Hehehe..." Amanda merasa risih mengatakan kondisinya yang sebenarnya.
Namun daripada Doni menjadi lebih khawatir, Amanda memilih mengatakan semua apa adanya.
"Ohhh..." Gumam Doni lega.
"Makasih ya, kamu tadi udah nganterin aku pulang." Ucap Amanda tulus.
"Hemmm..." Doni menyahut dengan gumaman.
"Aku udah ngerepotin kamu... Aku ga tahu kenapa tiba-tiba aku merasa seperti mau pingsan..." Ujar Amanda sembari mengingat hal yang terjadi selama tadi siang dia berada di dalam mobil bersama Doni.
"Ya, sepertinya kamu memang pingsan sebentar." Ujar Doni.
"Astaga... Untung aja aku ga pingsan di dalam angkot yaa..." Amanda bersyukur tadi dia pulang naik ojek online bersama Doni.
Amanda tidak bisa membayangkan seandainya dia pulang sendirian dengan angkot dan tiba-tiba pingsan di dalam angkutan umum tersebut. Mengerikan sekali!
__ADS_1
"Hemmm... Yang penting sekarang kondisi kamu udah lebih baik." Ujar Doni.
"Iya, aku gapapa kok. Hanya siklus bulanan. Ditambah sedikit masuk angin. Cuaca selama ini juga udah ga jelas. Kadang panas, kadang hujan." Terang Amanda.
"Iya.. Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat. Selamat malam." Ucap Doni mengakhiri perbincangan mereka di telpon. Ia sudah lega setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Amanda.
"Selamat malam juga, Doni. Makasih untuk bantuan kamu tadi." Amanda sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Doni yang telah menolongnya tadi siang.
Amanda sudah merasa segar kembali. Setelah meminum obat yang diberikan oleh ibunya, siang itu dia tertidur pulas dengan keringat dingin mengucur deras di tubuhnya.
Namun Amanda merasa tubuhnya justru lebih segar dan ringan setelah bangun dari tidurnya tersebut. Seolah tadi siang dia tidak merasakan pusing, mual, dan sakit perut yang membuatnya lemas tak berdaya.
Amanda belum pernah mengalami sakit seperti itu. Setiap bulan Amanda tidak pernah bermasalah dengan urusan PMS.
Oleh karena itu, dia tidak menyadari gejala yang dialaminya itu adalah gejala PMS (Pre Menstrual Syndrome).
"Huhhhh... Malu-maluin aja! Terpaksa deh aku cerita ke Doni." Amanda merutuki dirinya sendiri.
"Tapi... Tadi aku mimpi atau halu yaa..." Gumam Amanda.
"Hemmm... Tapi kayaknya itu suaranya Doni deh..." Amanda mereka ulang kejadian tadi siang di dalam memorinya.
"Tapi dia bicara sama siapa ya?" Batin Amanda.
Amanda menjadi bimbang sendiri. Dia merasa suara itu adalah suara Doni. Walaupun dia tidak begitu ingat lagi tentang apa yang diucapkan oleh Doni.
Tetapi dia mendengar dengan jelas kata-kata "Tuan Muda". Sebuah sebutan yang aneh, sebutan yang tidak biasa di telinga Amanda.
Ada percakapan yang kedengaran aneh di telinganya di sela-sela kesadarannya yang berkurang tadi siang sebelum pingsan.
Amanda terus bertanya-tanya dalam hatinya, siapa yang dimaksud "Tuan Muda" tersebut.
Siapa "Tuan Muda" itu?
Doni berbicara dengan siapa?
Apakah ada orang lain di dalam mobil itu selain dia, Doni, dan sang driver?
__ADS_1
Amanda bingung sendiri memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan aneh yang muncul di benaknya. Pertanyaan yang sebenar2 tidak penting-penting amat.
"Apa aku jadi halu karena keseringan nonton drakor kali ya?" Fikiran konyol itu muncul begitu saja di benak Amanda.
Dia juga ingat ada sebuah nama yang disebut oleh Doni. Nama itu seperti nama orang asing. Tapi Amanda lupa siapa nama yang disebut Doni itu.
"Ahhh... Sudahlah... Apa pentingnya bagiku?" Batin Amanda.
Amanda berdiri di dekat jendela kamarnya. Ia melihat suasana di luar dengan pantulan cahaya lampu yang remang-remang. Cuaca sudah mulai dingin malam ini. Berbeda dengan tadi siang, sinar matahari bersinar terik dan sangat menyengat.
Fikirannya kembali melayang kepada Doni. Wajahnya terasa panas ketika dia mengingat Doni memeluknya di dalam mobil.
"Ya Tuhan! Dia memelukku. Dia benar-benar memelukku!" Amanda menjerit di dalam hati.
Amanda bahkan masih teringat aroma wangi tubuh Doni. Wangi yang berbeda. Seperti parfum mahal. Wangi itu sangat sesuai untuk Doni. Amanda menyukai wangi Doni.
Selama ini dia tidak pernah sedekat itu dengan Doni. Tetapi tadi siang, Doni memeluknya begitu erat. Sehingga ia bisa mengendus wangi tubuh Doni selama perjalanan ke rumahnya. Wangi itu menenangkan sekali, membuat rasa pusing dan mualnya sedikit berkurang tadi siang.
Amanda kembali merenung akan perjalanan hidupnya selama ini, selama menjadi siswa SMA di sekolah elite itu, SMA Adhiyaksa. Sungguh penuh lika-liku.
Kekagumannya pada kak Edo ternyata hanya berujung luka. Dia dulu membayangkan betapa senang dirinya bisa kembali satu sekolah dengan kak Edo yang super keren itu. Ternyata kak Edo malah tidak menganggap dia ada.
"Huffffttt..." Amanda menghembuskan nafas sambil berusaha menenangkan hatinya.
Sedangkan Doni sepertinya semakin perhatian dengan dirinya. Diam-diam sebenarnya Amanda mulai menyadari hal itu. Dia mulai bisa merasakan Doni memberi perhatian khusus padanya. Hanya saja dia bingung harus bersikap bagaimana di depan Doni.
Terkadang dia salah tingkah sendiri. Terkadang dia kesal melihat sikap Doni yang aneh dan agresif tidak menentu waktu. Membuat dirinya malu-malu. Berbagai perasaan aneh itulah yang membuat Amanda bingung menyikapi sikap Doni.
"Tapi apa benar dia suka padaku?" Amanda membatin sambil melihat rembulan yang tertutup awan tipis di langit.
"Kalau benar iya, aku harus gimana? Aku belum pernah dekat dengan cowok sedekat itu..." Amanda menjadi galau sendiri membayangkan kedekatannya akhir-akhir ini dengan Doni. Tiba-tiba dia jadi bucin lagi.
DEG! DEG! DEG!
Amanda berdebar-debar sendiri membayangkan beberapa moment yang dilaluinya dengan Doni selama ini.
"Apakah aku juga mulai menyukainya?" Batin Amanda.
__ADS_1