Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Panas


__ADS_3

"Vino, nanti mau ikut bapak menjemput mas Teguh?" Tanya Pak Anto memecah keheningan di dalam mobil.


"Errrr... Iya ya! Hampir lupa. Aku ikut, pak." Ujar Vino tanpa menoleh dari layar ponselnya.


"Mas Teguh landing jam berapa, pak?" Tanya Vino.


"Jam 2 siang." Jawab Pak Anto pelan.


"Oh... Pas banget!" Vino berkata penuh semangat.


"Ya, bapak akan jemput Vino dulu terus kita bisa langsung ke bandara." Kata Pak Anto.


"OK. Itu bagus!" Ujar Vino dengan wajah ceria.


Pak Anto, driver pribadi Vino, menghentikan mobil tidak jauh dari gerbang SMA Adhyaksa. Vino menghentikan kegiatannya bermain game online. Dia bersiap-siap keluar dari mobilnya.


"OK, Pak Anto! Kita ketemu nanti siang." Ujar Vino sambil berpamitan dengan supir pribadinya tersebut.


Pak Anto membalas dengan senyuman dan membawa mobil meninggalkan SMA Adhyaksa.


Vino memasuki pekarangan SMA Adhyaksa yang luas dan megah. Ia melangkah dengan penuh semangat. Vino selalu saja bersemangat jika membayangkan dirinya bertemu dengan Mas Teguh.


"Yessss! Ada teman bergadang lagi nih!" Gumam Vino bersemangat.


"Vino! Heiii, bro!" Terdengar suara seorang cowok memanggil Vino.


Vino tidak menggubris panggilan tersebut. Entah tidak mendengar, atau memang tidak peduli. Yang jelas Vino terus melangkah dengan gaya songongnya yang luar biasa. Sesekali dia melirik beberapa siswa senior yang sedang mempersiapkan sound system untuk persiapan upacara bendera pagi ini.


Ahmad berlari menyusul langkah Vino.


"Bro! Lo budek pa gimana!?" Ujar Ahmad berang.


Vino menoleh. Dia menatap wajah Ahmad dengan ekspresi cueknya yang biasa.


"Kamu manggil aku?" Tanya Vino acuh tak acuh.


"Oh... Budek beneran rupanya!" Tuding Ahmad.


Vino melirik Ahmad dengan tatapan kesal. Ahmad tersenyum jahil. Dia sudah sangat paham dengan sifat temannya yang satu ini. Vino, si cuek bebek. Sotoy, songong, dan keras kepala. Namun sesungguhnya dibalik begitu banyak sifat buruknya, Vino adalah sosok cowok yang baik hati.


Tiba-tiba Vino menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke depan. Ahmad ikut berhenti dan melihat ke arah tatapan Vino.


Terlihat seorang cowok sedang berjalan ke arah mereka. Ahmad tidak mengenali cowok itu. Tetapi jika dilihat dari simbolnya, cowok tersebut adalah kakak kelas mereka.

__ADS_1


Wajah Vino yang tadinya cuek terlihat seperti sedang menahan geram. Ahmad mengenali ekspresi tersebut. Itu adalah ekspresi Vino menahan amarah.


"Vino... Lo kenapa?" Tanya Ahmad penasaran.


"Itu... Senior bangsat!" Tukas Vino.


"Maksud lo?!" Tanya Ahmad lagi.


"Derry... Yang mukulin aku kemarin!" Ujar Vino sambil mendengus.


"Oh..." Gumam Ahmad.


Ahmad melongo sejenak. Ia melihat Derry kemudian berbelok menuju ruang guru yang terletak hanya beberapa meter dari posisi mereka berdiri saat ini.


"Maksud lo... Dia yang mukulin lo kemarin sampe babak belur?" Ahmad semakin penasaran.


"Hemmm..." Vino mengangguk kesal.


Vino berjalan lagi menuju kelas mereka diikuti oleh Ahmad yang berjalan dengan langkah tegap di sampingnya. Berdua mereka memasuki kelas. Terlihat Clara dan Wulan sedang berbicara santai di dalam kelas. Vino dan Ahmad melirik kedua gadis cantik tersebut. Namun Ahmad menghabiskan waktu lebih lama dalam memperhatikan kedua bidadari itu.


Seorang siswa mendekati Vino dan bertanya dengan suara yang panik. "Vino, apakah ada kemungkinan kita mendapatkan guru pengganti?"


"Guru pengganti?" Vino balik bertanya sambil meletakkan ranselnya yang berat di atas meja.


Dia begitu kesal disebabkan oleh peraturan yang belum mengizinkan para siswa baru mendapatkan loker untuk menyimpan barang-barang atau perlengkapan belajar mereka.


Begitu banyak buku-buku cetak, text book, buku referensi dan buku-buku lainnya yang harus dibawa setiap hari. Belum lagi semua buku-buku tersebut memiliki ratusan halaman, sungguh menambah beban berat di dalam tas para siswa baru.


"Iya, pengganti guru matematika itu..." Desis siswa tersebut.


"Oh... Entahlah, aku juga ga tahu!" Tukas Vino cuek.


"Gimana sih? Kamu kan ketua kelas!" Siswa itu mulai sewot.


"Ini mah ketua kelas jadi-jadian!" Ujar Ahmad sekenanya diikuti tawa keras siswa-siswa di sekitar mereka.


Vino memilih diam dengan wajah jutek dan melanjutkan kegiatan favoritnya di ponselnya. Dia tidak ingin menanggapi omongan teman-teman sekelasnya. Emosinya sedang tidak stabil sejak melihat Derry tadi di depan ruang guru. Dia masih menyimpan dendam pribadi dengan kakak kelasnya itu.


Helena menoleh ke arah Vino dan segerombolan siswa yang sedang tertawa terbahak-bahak di sekitar Vino.


"Si gila itu memang ga cocok jadi ketua kelas!" Helena mulai nyinyir.


Amanda melirik Vino sekilas kemudian berkata, "Aku salut dia bisa cuek gitu."

__ADS_1


Helena mendengus. Dia kemudian memperhatikan Clara dan Wulan yang masih ngobrol santai di bangku depan. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat gossip terbaru tentang kedua gadis cantik itu. Tanpa sengaja sepasang mata Helena menangkap siluet seorang cowok yang pernah dilihatnya di kantin sekolah.


"Amanda, bukannya itu teman kamu?" Helena berkata setengah berbisik.


"Hahhh... Siapa?" Tanya Amanda bingung.


"Itu loh... Noh... Sana, di pintu kelas..." Desis Helena memberi tanda melalui lirikan matanya.


DEG!!!


Jantung Amanda nyaris terlontar keluar.


"Aduhhh... Ngapain dia ke sini?" Batin Amanda.


Amanda merasa kaget pagi-pagi sudah didatangi Doni ke kelas. Tidak biasanya begitu. Doni biasanya akan menghubungi Amanda terlebih dahulu jika ingin menemuinya di kelas atau di mana pun itu.


"Mampus dah... Aku pura-pura ga lihat aja." Amanda membatin sendiri sambil menahan detak jantungnya yang semakin bergejolak.


Amanda melanjutkan membenahi alat tulisnya. Dia berusaha terlihat sibuk. Doni mulai melangkah memasuki kelas I-2. Langkahnya tegap dan tenang. Tatapan matanya terarah ke Amanda. Beberapa siswa yang ada di kelas menoleh sekilas ke arah Doni.


"Heiiii... Dia kayaknya nyari kamu tuh..." Helena menyikut Amanda.


"Iiiiiihhh... Apaan sih?!" Ujar Amanda panik.


Akhirnya mau tak mau Amanda mengarahkan tatapannya ke arah Doni yang sedang berjalan menuju bangkunya. Ketika Doni melewati bangku Clara, gadis cantik itu menoleh sejenak. Doni tentu saja tidak memperhatikan kedua gadis cantik yang sedang dilewatinya itu.


Doni sama sekali tidak menyadari Clara yang sejenak tadi melirik dirinya. Namun Amanda sempat melihat pemandangan itu. Amanda melihat Clara melirik Doni. Tidak biasanya Clara melirik cowok seperti itu. Clara adalah tipe cewek yang selalu dilirik cowok. Gadis itu justru jarang sekali melirik cowok, dia sangat anggun, tidak seperti gadis-gadis cantik lainnya.


Entah mengapa, Amanda kali ini merasa tidak suka melihat kejadian itu. Dia tidak suka melihat Clara melirik Doni seperti itu.


"Apaan ini? Kok aku malah jadi makin baperan..." Lirih Amanda di dalam hati.


Amanda merasa bingung dengan hatinya. Perasaannya seolah mengatakan ada yang berbeda dalam cara Clara melirik Doni. Akal sehatnya mencoba menjelaskan bahwa itu adalah hal yang biasa. Banyak siswa yang menoleh ke arah Doni. Tidak seharusnya dirinya overthinking begitu. Namun sebersit rasa tidak senang masih bertahan di dalam hatinya.


Doni semakin dekat. Amanda merasa suasana hatinya masih agak panas. Berdebar, namun ada emosi yang tersembunyi. Amanda melengos.


"Ehhh... Temanmu kalau dilihat-lihat, tampan juga ya!" Puji Helena.


"Kenapa kamu ga jadi pacarnya aja?" Tanya Helena sekenanya sambil memperhatikan Doni yang berjalan santai ke arah mereka.


Amanda menyikut lengan Helena dengan panik. "Ssstttt... Jangan ngelantur, Helen!" Sergah Amanda.


Doni sudah berdiri di dekat bangku Helena dan Amanda. Dia melirik Helena sekilas. Helena mencoba tersenyum. Amanda merasa dirinya sulit bernafas.

__ADS_1


"Ajari aku nulis essay." Ucap Doni.


__ADS_2