
Doni menatap ke arah balkon di depan kamarnya. Salju terlihat berjatuhan dengan indah. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati balkon. Udara dingin langsung menerpa wajahnya ketika ia berdiri di balkon.
Salju terlihat dimana-mana. Hampir semua atap bangunan di bawah sana telah tertutup salju. Jalanan pun terlihat berwarna putih. Hamparan salju dimana-mana. Sungguh sebuah pemandangan yang memanjakan mata.
"Hemmm... Aneh... Tiba-tiba salju turun seperti ini." Doni berkata pada dirinya sendiri.
Doni dan kedua orang tuanya sudah beberapa kali berkunjung ke Jepang di berbagai musim. Ia belum pernah melihat salju menyelimuti kota Tokyo seperti hari ini di musim-musim dingin sebelumnya. Ini benar-benar pemandangan yang langka.
Doni masih berdiri dan menatap dengan serius pemandangan di bawah sana. Suasana di sekitar hotel terlihat indah sekali.
Setelah merasa puas menikmati keindahan panorama kota Tokyo yang sedang diselimuti salju, Doni memutuskan kembali masuk ke kamarnya. Angin dingin yang menyapa tubuhnya nyaris membuat dirinya membeku.
Doni masuk ke dalam kamar, mengambil jas panjang, syal, topi kupluk yang hangat, dan segala perlengkapan lain yang dibutuhkannya. Ia segera berganti pakaian. Entah mengapa, tiba-tiba saja ia merasa ingin berjalan-jalan di luar, di sekitar hotel. Pemandangan yang indah tadi berhasil membuat dirinya ingin segera berada di antara tumpukan salju yang indah itu.
Sebentar saja Doni sudah berada di sana. Tepat di depan lobby utama hotel mewah itu. Ia melangkah dengan penuh semangat menuju taman di depan hotel. Terlihat beberapa orang sedang berfoto ria di tengah-tengah salju yang sedang turun.
Doni terus melangkah mengitari taman hotel itu. Taman itu luas sekali, sepasang muda-mudi berambut pirang terlihat sedang bercumbu di bawah sebuah pohon yang daun-daunnya berwarna putih karena tertutup salju. Sepertinya mereka juga tamu di hotel itu.
Doni mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin berlama-lama melihat mereka bermesraan di sana. Namun tiba-tiba dia teringat sesuatu, seseorang lebih tepatnya. Angin dingin berhembus pelan, salju masih turun perlahan dan seolah membawa setitik rasa rindu di hati Doni.
"Hemmm..." Doni menggumam pelan. Ia melanjutkan lagi perjalanannya. Berusaha menikmati suasana yang ada, meskipun ada sedikit rasa yang diam-diam hadir dan mulai terasa menyiksa.
"PUKKKK!!!"
"Ahhh!!" Doni menjerit tertahan disusul oleh sebuah tawa cekikikan yang sangat dikenalinya.
Doni menoleh ke belakang. Dia terkejut setengah mati melihat siapa yang telah melempari dirinya dengan setumpuk salju tadi.
"Hahaha... Kau mau lagi, Tuan Besar?!" Gadis itu bertanya sambil tertawa lebar.
"Kamu?!" Tanya Doni dengan suara tercekat.
"Ya. Siapa lagi kalau bukan aku!" Ujar gadis itu ceria. Dia mulai mengambil lagi setumpuk salju, membentuknya menjadi bulatan seperti bola dengan kedua tangannya, dan bersiap-siap untuk melempar lagi bola salju itu ke arah Doni berdiri.
"Ayo! Coba kalau kamu bisa menghindari ini!" Tantang gadis itu.
"PUKKKK!!!"
Sebuah lemparan yang tepat sasaran. Doni tidak bergeming. Ia juga sama sekali tidak mencoba mengelak. Ia hanya menatap ke arah gadis itu dengan tatapan tak percaya sambil mengibaskan sisa salju yang mengenai jasnya yang tebal dan panjang.
"Ah... Kamu payah!" Gadis itu mendengus.
__ADS_1
Doni berjalan mendekat ke arah gadis itu. Menatapnya lekat-lekat sambil berjalan. Gadis itu terlihat agak gugup. Ia mengambil payung yang tadi diletakkannya begitu saja.
"Amanda..." Doni berkata dengan suara pelan.
"Heiiii... Kau tidak perlu sedekat itu!" Ujar Amanda panik.
"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Doni.
"Emangnya kenapa? Masalah buat lo?" Tukas Amanda asal.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Doni lagi.
"Suka-suka aku dong!" Jawab Amanda sekenanya.
Doni memperhatikan Amanda dengan seksama. Dia merasa penampilan Amanda kali ini sangat aneh. Amanda mengenakan kimono yang cantik. Tetapi tetap saja itu bukan pilihan pakaian yang tepat di tengah dinginnya salju yang masih saja turun perlahan di taman.
"Kamu ga kedinginan?" Doni mulai khawatir.
"Kedinginan?" Amanda mengulang pertanyaan Doni.
Amanda terdiam sejenak. Dia kemudian tersenyum manis dan berkata, "Aku selalu merasa hangat kalau ada kamu."
Doni merasa wajahnya panas. Ia tidak menyangka Amanda akan berkata-kata seperti itu. Ia menatap wajah Amanda dengan gemas.
"Hemmm..." Gumam Doni. Ia melepaskan jasnya yang tebal dan panjang lalu menutup tubuh Amanda agar gadis itu tidak kedinginan.
"Heiiii... Nanti kamu yang kedinginan!' Seru Amanda.
"Kenapa kamu ada di Jepang?" Tanya Doni penasaran.
"Kenapa kamu bohongin aku?" Amanda balik bertanya.
"Kamu bilang ke luar kota, padahal sebenarnya kamu keluar negeri!" Sambung Amanda. Ada nada kesal dalam suaranya.
"Hemmm..." Doni lagi-lagi hanya menggumam pelan.
"Kamu nginap di sini ya?" Tanya Amanda sambil melirik hotel yang menjulang tinggi di hadapan mereka.
Doni mengangguk. Dia lagi-lagi menatap Amanda dengan tatapan mautnya membuat Amanda mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
"Kamu nginap dimana?" Doni penasaran dimana Amanda menginap selama berada di Jepang.
__ADS_1
"Ada yang kepo nih!" Seru Amanda sambil tersenyum jahil.
Doni mendengus pelan. Dia mulai merasa menggigil kedinginan. Salju yang turun semakin lebat. Dia mengambil payung cantik dari tangan Amanda kemudian memayungi Amanda dan dirinya.
Amanda menjadi salah tingkah. Dia merasa deg-degan. Sepayung berdua di tengah salju yang turun begitu indah. Doni masih menatapnya dalam-dalam, membuat Amanda berdiri membeku.
"Kamu kedinginan?" Tanya Amanda khawatir ketika sebagian kesadarannya telah kembali. Dia selalu saja kehilangan setengah kesadarannya jika Doni menatapnya seperti itu.
Doni menggeleng cepat. Dia tidak ingin mengakui hal itu. Dia tidak ingin terlihat lemah. Bukankah adalah hal yang konyol jika ia meminta kembali jasnya yang panjang dan tebal itu untuk menghangatkan dirinya.
"Kita masuk ke dalam ya! Salju sudah semakin tebal." Ajak Doni.
"Ga. Aku mau tetap di sini. Kamu balik aja ke hotel." Ujar Amanda sok tegas.
"Hemmm..." Doni berfikir sejenak apa yang harus dilakukannya sekarang. Udara terasa semakin dingin. Tangannya mulai terasa membeku, walaupun dia sudah menggunakan sarung tangan super tebal khusus untuk musim dingin.
"Amanda..." Ucap Doni lirih.
Sayup-sayup Doni mendengar bunyi dering ponselnya. Bunyi dering itu seolah begitu jauh. Namun semakin lama terasa semakin dekat. Dekat sekali, terdengar bising di telinga Doni.
Doni membuka kedua matanya. Ponselnya masih saja berbunyi. Doni menatap layar ponselnya. Sebuah panggilan dari Tuan Alfred.
"Ya..." Ucap Doni singkat.
"Mohon maaf Tuan Muda. Saya telah mengganggu waktu istirahat anda." Tuan Alfred berkata dengan sopan.
"Hemmm..." Doni membalas dengan gumaman khasnya. Ia masih berjuang mengumpulkan seluruh kesadarannya kembali.
"Tuan Wishnu sudah menunggu kita untuk makan siang." Tuan Alfred mengingatkan jadwal kegiatan Doni siang ini.
"Baik, Tuan Alfred. Terima kasih sudah mengingatkan." Ujar Doni sebelum mengakhiri panggilan dari Tuan Alfred.
Setelah semua kesadarannya kembali, Doni bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar mandi. Sekilas ia menoleh ke arah balkon. Salju sudah tidak turun lagi. Tidak ada tumpukan salju sama sekali. Sepertinya cuaca di Tokyo masih normal, sama seperti tadi, sebelum dirinya tertidur pulas dan bermimpi.
Mimpi yang konyol.
Bagaimana mungkin Amanda bisa tiba-tiba ada di sini.
Itu semua mustahil.
Ada-ada saja.
__ADS_1
Doni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil cengar-cengir sendiri. Ia mencuci muka lalu menatap wajahnya di cermin sambil tersenyum tipis.
Tapi Tokyo akan lebih indah andai saja Amanda benar-benar ada di sini.