Kisah Kasih Di Sekolah

Kisah Kasih Di Sekolah
Laporan Tuan Alfred


__ADS_3

Seorang wanita cantik menyimak laporan dan penjelasan Tuan Alfred dengan seksama.


"Hemmm..." Gumam Nyonya Wishnu setelah Tuan Alfred menyelesaikan laporannya.


"Izin, Nyonya. Ini beberapa dokumentasi yang berhasil saya kumpulkan." Tuan Alfred memperlihatkan beberapa foto kepada Nyonya Wishnu.


"Good. Terima kasih, Alfred." Ucap Nyonya Wishnu.


"Jadi tadi dia makan siang di sana ya?" Nyonya Wishnu memastikan lagi info yang diterimanya dari Tuan Alfred.


"Benar, Nyonya." Sahut Tuan Alfred.


"Bagaimana reaksinya ketika dia keluar dari rumah itu?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Seperti biasa, Nyonya. Tidak ada perubahan ekspresi." Jawab Tuan Alfred.


"Hahaha... Iya, iya. Pertanyaan saya kurang tepat ya? Kita semua tahu Doni bukanlah tipe anak yang ekspresif." Nyonya Wishnu tersenyum sendiri.


Tuan Alfred tersenyum penuh arti. Ia setuju dengan perkataan Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Sepertinya dia semakin dekat dengan gadis itu." Nyonya Wishnu menggumam pelan.


"Alfred, apakah dia sudah punya hubungan khusus dengan gadis itu?" Tanya Nyonya Wishnu.


"Sepertinya belum, Nyonya. Tuan Muda Anthony masih terus melakukan pendekatan. Tetapi sepertinya belum berhasil mendapatkan hati gadis itu." Terang Tuan Alfred.


"Wowww... Gadis itu benar-benar luar biasa!" Seru Nyonya Wishnu.


Wanita cantik itu diam-diam merasa kagum dengan sikap Amanda yang masih belum tergoda dengan putranya yang tampan.


"Iya, Nyonya. Gadis itu sampai hari ini belum mengetahui identitas Tuan Muda Anthony yang sesungguhnya." Tutur Tuan Alfred.


"Ya! Tentu saja, Doni memang berusaha menyembunyikan identitasnya. Tapi... Bagaimana bisa dia tidak tergoda dengan wajah putraku itu?" Tanya Nyonya Wishnu sambil senyum-senyum.


Tuan Alfred ikut tersenyum simpul mendengar kata-kata Nyonya Wishnu.


"Beberapa gadis terkadang memang bodoh dalam hal itu, Nyonya..." Tuan Alfred membatin sendiri.


"Lalu, apakah ada gadis lain yang mencoba mendekati Doni?" Tanya Nyonya Wishnu lagi.


"Untuk saat ini ada, Nyonya." Jawab Tuan Alfred.


"Menarik! Siapakah gadis itu?" Nyonya Wishnu kelihatan penasaran.


"Sepertinya Nona Windy sedang mencoba mendekati Tuan Muda." Ujar Tuan Alfred.


"Windy? Hemmm..." Nyonya Wishnu mencoba mengingat-ingat nama yang tidak asing tersebut.


"Nona Windy, putri bungsu Tuan Robby." Jelas Tuan Alfred.


"Ohhh... Iya! Pantas saja. Rasanya nama itu tidak asing..." Ucap Nyonya Wishnu.

__ADS_1


"Iya, Nyonya." Tuan Alfred mengangguk penuh wibawa.


"Dia memang terlihat tertarik dengan Doni saat makan malam itu." Ujar Nyonya Wishnu.


Pak Wicaksono tiba-tiba muncul dan membawakan cemilan sore yang kelihatan lezat.


"Terima kasih, Pak Wicaksono. Silahkan, Alfred." Nyonya Wishnu berkata dengan gayanya yang anggun.


"Terima kasih atas jamuannya, Nyonya." Ucap Tuan Alfred.


"Apakah Doni menanggapi? Maksud saya, apakah Doni menyadari hal itu? Bahwa Windy sedang berusaha mendekatinya..." Tanya Nyonya Wishnu.


"Hemmm... Mungkin Tuan Muda menyadarinya, Nyonya." Jawab Tuan Alfred.


Nyonya Wishnu menaikkan sebelah alisnya. Wanita itu menegakkan duduknya, bersiap-siap mendengar kelanjutan kata-kata Tuan Alfred.


"Tuan Muda meminta saya untuk mengatur panggilan yang masuk ke ponselnya setelah berkomunikasi dengan Nona Windy." Tuan Alfred menceritakan kronologi kejadian telponan antara Tuan Muda Anthony dan Nona Windy.


"Oh begitu... Hemmm... Iya, ikuti saja perintahnya. Mungkin agar dia tidak merasa terganggu." Kata Nyonya Wishnu.


"Baik, Nyonya." Tuan Alfred menyahut mantap.


"Hemmm..." Nyonya Wishnu menggumam sambil menimang-nimang sesuatu di benaknya.


"Baiklah, Alfred. Terima kasih atas laporannya. Tetap awasi gerak-gerik siapapun yang berusaha mendekati Doni." Perintah Nyonya Wishnu.


"Siap, Nyonya." Ucap Tuan Alfred.


"Selamat sore, Tuan." Sapa Tuan Alfred penuh hormat.


"Selamat sore, Alfred." Balas Tuan Wishnu.


"Hemmm... Sepertinya ada hal yang serius..." Tebak Tuan Wishnu.


"Hehehe... Ini hal yang menarik. Bukan begitu, Alfred?" Canda Nyonya Wishnu.


Tuan Alfred tersenyum tipis. Dia merasa sudah waktunya berpamitan untuk menjemput Tuan Muda Anthony di tempat kursusnya. Sore ini Tuan Muda Anthony mengikuti kursus bahasa Mandarin di sebuah bimbingan belajar ternama di kota itu.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Saya harus segera menjemput Tuan Muda." Tuan Alfred berpamitan dengan sopan.


"Oh... OK." Sahut Tuan Wishnu.


Setelah kepergian Tuan Alfred, Tuan Wishnu menatap istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa, sayang?" Tanya Tuan Wishnu.


"Hehehe... Ya, ada perkembangan terbaru tentang putra kita." Nyonya Wishnu menuturkan apa yang dilaporkan Tuan Alfred padanya tadi.


Tentu saja Nyonya Wishnu tidak ingin membuat suaminya penasaran lebih lama dan berprasangka sendiri. Jadi Nyonya Wishnu memilih menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Oh... Hemmmm..." Tuan Wishnu menggumam sambil mengelus-elus dagunya yang mulus.

__ADS_1


"Anaknya Robby..." Tuan Wishnu menatap ke arah Nyonya Wishnu dengan tatapan serius ketika menyebut nama temannya itu.


"Ya, wajarlah... Anak-anak baru puber. Hehehe..." Ujar Nyonya Wishnu santai.


"Tapi aku tidak suka jika Doni terbuai dengan keadaan. Fokusnya adalah belajar, bukan pacaran!" Tuan Wishnu berkata dengan suara tegas.


"Tentu saja. Anak kita bukan tipe anak yang lalai dengan kewajiban. Aku percaya dia mampu mengatasi semuanya dengan bijaksana." Tegas Nyonya Wishnu.


"Sama seperti papanya..." Sambung Nyonya Wishnu.


Tuan Wishnu tersenyum mendengar pujian dari istrinya. Mereka kemudian mengubah topik pembicaraan.


Sementara itu, Tuan Alfred geleng-geleng kepala melihat banyaknya panggilan dari Windy di nomor WA Doni.


"Parah ni cewek! Calling ga bisa sekali dua kali. Childish sekali." Gerutu Tuan Alfred.


Tuan Alfred bisa memahami mengapa Tuan Muda Anthony merasa kesal jika dihubungi oleh Windy.


"Ini sih terror namanya..." Ujar Tuan Alfred sambil geleng-geleng kepala.


Doni melihat mobil BMW hitam yang dikendarai Tuan Alfred sudah tiba di halaman depan bimbingan belajar. Ia berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil itu dengan sigap.


"Sepertinya dia menghubungi lagi ya..." Ujar Doni sambil mengencangkan sabuk pengaman ke tubuhnya.


"Siap. Benar, Tuan Muda." Sahut Tuan Alfred.


"Apa tidak sebaik-baiknya kita blokir saja nomor itu?" Doni meminta pendapat sekretaris pribadinya itu.


"Hemmm... Saya siap mengikuti perintah Tuan Muda." Ujar Tuan Alfred.


"Anak-anak sekarang agresif sekali dan kurang sopan!" Tukas Doni.


"Ya, pengaruh media juga kuat sekali saat ini." Tuan Alfred menimpali.


"Kalau bukan mengingat dia adalah anaknya teman baik papa, aku tidak akan segan-segan memblokir nomornya." Sungut Tuan Muda Anthony.


Doni sepertinya sudah mulai kesal sekali dengan Windy ketika melihat ada banyak sekali panggilan dari gadis itu.


Selamat sore, kak Doni.


Lagi pain nih?


Happy weekend ya kak.


Pesan dari Windy muncul di layar ponsel Doni. Doni mendengus pelan ketika membaca pesan tersebut.


"Mengapa dia tidak bisa bersikap lebih sopan ya? Apakah dia tidak tahu kalau aku selalu sibuk?" Doni merutuk kesal dalam hati.


"Aku sedang sibuk." Balas Doni.


Doni memilih mengirimkan kata-kata yang singkat itu ke WA Windy dengan harapan Windy akan berhenti menghubunginya hari ini.

__ADS_1


__ADS_2